Cerita dari Pelaku Becak Motor Malioboro, Mulai dari Sepi Pelanggan Hingga Menunggak Sewa
Meski geliat pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mulai muncul, namun dampak ramainya wisatawan belum dirasakan
Penulis: Miftahul Huda | Editor: Kurniatul Hidayah
Laporan Reporter Tribun Jogja Miftahul Huda
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Meski geliat pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mulai muncul, namun dampak ramainya wisatawan belum dirasakan sepenuhnya oleh penyedia jasa becak motor (bentor) di kawasan Malioboro.
Agus Riyanto satu dari sekian banyak penyedia bentor di Malioboro yang merasakan hal itu.
Saat ditemui, Agus sapaan akrabnya ini terlihat gelisah.
Sesaat dirinya turun dari cabin kendaraan roda tiganya itu.
Matanya memandang jauh ke berbagai sudut kawasan Malioboro.
Berharap satu atau dua pejalan kaki di kawasan itu bersedia memakai jasa kendaraannya.
Bentor berwarna hijau cerah itu ia parkir di depan kawasan Wisata Sosrowijayan.
Sekitar 10 meter dari gedung DPRD DIY.
Baca juga: Sepasang Pembunuh di Inggris yang Memakai Obat Nafas Iblis Akhirnya Dipenjara Seumur Hidup
Baca juga: Dekranasda Kulon Progo Menggelar Karya Batik Kulon Progo di Era Pandemi Covid-19
Baca juga: Kisah dr Farhaan, Terpapar Setelah Ambil Swab 6000 Pasien, Kini Jalani Perawatan di ICU RSUP M Jamil
Rekan penyedia bentor lain sibuk bermain catur, hanya Agus yang terlihat gelisah menanti-nanti penumpang.
Kebetulan saat itu waktu sudah menunjukan pukul 14.35.
"Becak, bu. Rp 10 ribu ke pusat oleh-oleh," katanya, menawarkan kepada calon penumpang, Minggu (25/10/2020).
Meski saat libur panjang ia dapat membawa uang lebih, namun selama tujuh bulan sejak dihantam pandemi Covid-19 ini, Agus kerap pulang dengan tangan hampa.
Seringnya justru ia harus mengeluarkan uang tambahan untuk membeli bensin.
Lelaki berusia 56 tahun ini menjelaskan banyak wisatawan yang datang ke Malioboro hanya sekedar untuk jalan kaki dan berbelanja.