Buah Bibir

Fitri Aliyah Dapat Banyak Pelajaran Kehidupan dari Pesantren

Tujuh tahun lamanya, Fitri menjalani kehidupannya di pesantren. Bukannya bosan, ia malah betah untuk tinggal di sana.

Tayang:
Penulis: Nanda Sagita Ginting | Editor: Gaya Lufityanti
istimewa
Fitri Aliyah 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Bagi Fitri Aliyah tinggal di pesantren memberikan banyak pelajaran tentang kehidupan.

"Hidup di pesantren itu berbeda dengan di rumah. Kalau di rumah mau minta apa bisa disediakan. Kalau di pesantren kita tidak bisa meminta. Apa yang disediakan di pesantren itulah yang kita nikmati, contohnya makanan," jelas santriwati di pondok pesantren Nurul Ummah Putri di Yogyakarta.

Saat ini Fitri menempuh pendidikan di Manajemen Keuangan Syariah, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

"Walaupun sudah kuliah saya tetap tinggal di pesantren. Karena masih merasa nyaman dengan suasana di sana," ungkapnya.

Pondok Pesantren Nurul Ummahat, Terima Santri dari Berbagai Kalangan

Tujuh tahun lamanya, Fitri menjalani kehidupannya di pesantren.

Bukannya bosan, ia malah betah untuk tinggal di sana.

"Tinggal di pesantren itu awalnya saja yang berat. Karena semuanya harus sendiri. Semua keperluan diri kita yang mengurus tidak ada orang lain. Tentu ini membuat saya semakin mandiri," jelas gadis kelahiran Magelang 10 November 1998.

Menurut Fitri hal berkesan selama tinggal di pesantren ialah budaya mengantri.

Karena hampir seluruh kegiatan diharus untuk antri dahulu.

"Wah, kalau di pesantren mau ngapain aja harus antri. Mau makan, mandi sampai nyuci baju aja harus antri semua. Tetapi seru sih. Karena saat antri kami bisa ngobrol dengan teman yang biasanya jadwal padat gak sempat bersapa, adapula yang saling menyimak hapalan Alquran, sampai bertanya terkait tugas," kenang Fitri.

BREAKING NEWS : Update Covid-19 DIY 9 Mei 2020, Bertambah 3 Kasus Positif Baru

Kegiatan antri yang sering dilakukan di pesantren membuat Fitri menjadi belajar artinya sabar.

Ketika inginkan sesuatu maka kesabaran dan ketekunanlah yang membuat semuanya bisa tercapai.

Tak hanya itu, Fitri pun sering dikenai hukuman oleh sang guru karena tidak fasih berbahasa Arab. 

"Kalau di pesantren kan harus lancar berbahasa Arab. Nah, terkadang lupa dicampur dengan bahasa Indonesia. Kalau begitu sudah pasti kena hukuman, hukumannya pun macam-macam tergantung ustazah yang menghukum," ujar gadis yang memiliki hobi travelling itu.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved