Update Corona di DI Yogyakarta
Pemkot Yogyakarta Lebih Selektif, Tidak Semua Warga Bisa Jalani Rapid Test
Rapid test tersebut diperuntukan bagi warga Kota Yogyakarta yang menjalin kontak erat dengan pasien positif COVID-19 dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP)
Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta mengaku lebih selektif dalam menentukan warga yang akan menjalani rapid test.
Hal itu berbeda dengan kebijakan yang diterapkan Pemkab Bantul dan Pemkab Sleman yang menyelenggarakn rapid test secara massal.
Terkait hal tersebut, Ketua Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi pun angkat bicara.
• Kepala Gugus Tugas Penangangan Covid-19: Saya Tegaskan Sekali Lagi, Mudik Dilarang! Titik!
• Gugus Covid Sebut Transmisi Lokal Virus Corona Mulai Terjadi di Kota Yogyakarta
Menurutnya, rapid test tersebut diperuntukan bagi warga Kota Yogyakarta yang menjalin kontak erat dengan pasien positif COVID-19 dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang saat ini dirawat.
"2000 rapid test kita lakukan, tetap mengambil seputaran kasus positif dan PDP. Karena yang paling penting saat ini adalah melakukan tracing. Kabupaten Sleman dan Bantul pertumbuhan agak drastis, karena ada klaster tertentu," katanya, Kamis (07/05/2020).
Ia juga menjabarkan, jika sebelumnya Pemkot Yogyakarta telah menyebar 620 rapid test kit, kini Pemkot Yogyakarta tengah menyiapkan 2.000 alat rapid test.

Meski menyiapkan 2.000 rapid test, tidak semua warga Kota Yogyakarta bisa mengikuti.
"Sleman dan Bantul saat ini melakukan rapid test besar-besaran secara massal. Kita (Kota Yogyakarta) juga melakukan rapid test besar-besaran, tetapi terbatas,"sambungnya.
Selain sebagai upaya untuk tracing, rapid test juga dilakukan untuk melihat apakah interaksi antarwilayah mempengaruhi penyebaran COVID-19 di Kota Yogyakarta.
Menurut dia, Kota Yogyakarta juga harus waspada, sebab ada klaster-klaster tertentu yang berkembang di Sleman dan Bantul.
• Dua Warga Kota Yogyakarta yang Bekerja di Supermarket Sleman Berstatus PDP
• Hampir Tak Ada Pembeli, Pedagang Sandang Pasar Beringharjo Kembangkan Lapak Daring
"Kita kan juga dekat dengan Sleman dan Bantul, makanya kita juga pengen lihat apakah interaksi antarwilayah ini ada hubungannya. Karena masih ada mobilisasi masyrakat Sleman ke Kota Yogyakarta atau ke Bantul," ujarnya.
Ia pun melakukan tracing terhadap kemungkinan penyebaran klaster-klaster tertentu di Kota Yogyakarta, misalnya klaster Gowa.
Hasilnya memang benar ada jemaah yang singgah di Kota Yogyakarta, namun tidak ada warga yang positif COVID-19.
Hasil Tracing