Kisah Inspiratif
Lebih Dekat dengan Rumah BaCa, Perpustakaan Buku Anak Berbahasa Inggris di Yogyakarta
Di Rumah BaCa pengunjung dapat membaca buku anak berbahasa Inggris. Hingga saat ini tak kurang dari 1.474 judul buku dengan 1.639 koleksi tersedia.
Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Gaya Lufityanti
Menurutnya, anak-anak sebenarnya suka membuka-buka buku-buku di Rumah BaCa.
Namun, untuk meminjam dibawa pulang harus menjadi anggota dan ada biaya keanggotaan.
“Orang tua ternyata cenderung tidak memprioritaskan biaya anggota perpustakaan. Justru lebih memprioritaskan biaya klub bahasa Inggris,” tukasnya.
Ganjar menambahkan, hal itu sangat berkaitan dengan budaya baca yang relatif rendah di Indonesia.
• Perpustakaan Pusat Pembelajaran Masyarakat
Awalnya, Ganjar dan Ari membayangkan Rumah BaCa dapat seperti library dan family centre yang ada di Inggris.
Di sana pengunjung tidak hanya dapat meminjam buku, namun juga mainan.
“Jadi kita bisa pinjam satu set mainan selama dua pekan, bisa diperpanjang sampai sebulan. Jadi kehidupan anak-anak itu sangat dinamis dan penuh rangsangan positif, tanpa memberatkan orang tua.”
Selain itu, beberapa peminjam juga tidak tertib dalam mengembalikan buku.
Ada beberapa buku yang akhirnya hilang, tidak dikembalikan.
Ke depan, Ganjar tetap berharap Rumah BaCa dapat menjadi family centre yang menginspirasi anak-anak untuk senang membaca dan beraktivitas kreatif, satu di antaranya belajar berbahasa Inggris.
Rohmad Dwi Saputro, Pustakawan Rumah BaCa menjelaskan bahwa Rumah BaCa sering juga kedatangan anak-anak tetangga sekitar.
Jumlahnya setiap hari bisa sekitar lima sampai enam anak.
“Mereka ke sini lebih sering untuk main. Di sini ada sekitar 100-an mainan,” ungkapnya.
• Jangkau Sekolah hingga Kampung, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogya Tambah 6 Puspita
Selain anak-anak, lanjut Rohmad, pengunjung juga banyak dari kalangan ibu-ibu dan remaja.
Sebab, di Rumah BaCa juga ada kegiatan senam bersama untuk ibu-ibu, women's cafe, dan kelas menulis populer untuk dewasa.
“Untuk anak usia SD dan prasekolah tiap level klub ada delapan kali pertemuan. Untuk usia SMP ada privat bahasa Inggris,” jelas Rohmad.
Seorang orang tua dari peserta yang ikut klub di Rumah BaCa, Yuli Salma, mengaku terbantu dengan adanya Rumah BaCa.
Putera pertama Yuli yang berusia 10 tahun mengalami attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) atau gangguan mental yang menyebabkan seorang anak sulit memusatkan perhatian.
"Anak saya sering tidak bisa duduk tenang, tidak betah di kelas. Jadi belum saya leskan formal, seperti di les-les biasa. Tapi di Rumah BaCa sistem belajarnya lebih santai. Anak bisa sambil beraktivitas," tutur Yuli.
Meskipun harus menempuh jarak puluhan km dari rumahnya di Jalan Kaliurang km 15 menuju Rumah BaCa di Gedongkuning, Yuli tetap bertahan setiap Sabtu sore mengantarkan anaknya pergi les.
• Perpustakaan Kota Magelang Sediakan Buku untuk Warga Binaan Lapas
"Apalagi jalan di Kaliurang kalau malam Minggu padat sekali. Saya ajak dia (putra Yuli) untuk pindah les yang dekat saja, dia nggak mau. Mungkin Miss Ari (Ari Pusparini) sudah paham sama dia. Dia juga nyaman," terangnya.
Putra Yuli sendiri sudah hampir dua tahun terakhir mengikuti klub di Rumah BaCa.
Awalnya, menurutnya, anaknya itu masih nol dalam bahasa Inggris.
"Dulu nilai ujiannya 70. Tapi setelah di Rumah BaCa pernah sampai 100. Sekarang nilainya nggak pernah kurang dari 97-98," tutur Yuli.
Sebagai masukan, Yuli berharap ke depan Rumah BaCa dapat mendatangkan penutur native bahasa Inggris.
"Harapannya anak saya bisa bercakap-cakap dengan orang Barat sekali pun. Supaya dia lebih di-push lagi, lebih difokuskan di situ. Semoga bisa didatangkan native speaker secara reguler, misal sebulan sekali atau dua kali. Jadi anak-anak terbiasa dengan orang bule, tidak shock," kata Yuli. (TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/lebih-dekat-dengan-rumah-baca-perpustakaan-buku-anak-berbahasa-inggris-di-yogyakarta.jpg)