Kisah Inspiratif

Lebih Dekat dengan Rumah BaCa, Perpustakaan Buku Anak Berbahasa Inggris di Yogyakarta

Di Rumah BaCa pengunjung dapat membaca buku anak berbahasa Inggris. Hingga saat ini tak kurang dari 1.474 judul buku dengan 1.639 koleksi tersedia.

Tayang:
Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Maruti Asmaul Husna Subagio
Rumah BaCa di Jl. Gedongkuning memiliki perpustakaan buku anak berbahasa Inggris yang mungkin terlengkap di DIY. Didirikan oleh seorang doktor lulusan Inggris, Ganjar Widhiyoga. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Maruti Asmaul Husna Subagio

TRIBUNJOGJA.COM - Rumah berdinding merah-hitam itu bernama Rumah BaCa.

Di sana terdapat perpustakaan buku anak berbahasa Inggris yang mungkin terlengkap di Yogyakarta.

Tidak kurang dari 1.639 buku anak berbahasa Inggris tersedia.

Selain itu, anak-anak dapat mengikuti kursus bahasa Inggris dengan cara yang menyenangkan, semisal lewat memasak, berkebun, dan membuat prakarya.

Saat kaki melangkah masuk, sejurus suasana musim gugur di London menyeruak.

Ada jam dinding berlatar Union Jack.

Tukang Becak Sulap Becaknya Jadi Perpustakaan

Telepon antik dengan tombol yang harus diputar, juga lukisan-lukisan suasana pedesaan di Inggris.

Sekilas tak terasa suasana ini berada di Yogyakarta.

Semua bisa ditemukan di Rumah BaCa, Jalan Gedongkuning nomor 102 Kota Yogyakarta.

Masuk lebih jauh, pakaian tentara kerajaan Inggris menunggu untuk digunakan.

Ada pula pakaian tradisional negeri Ratu Elizabeth itu.

Tidak ketinggalan, pengunjung dapat mencoba kilt atau bawahan seperti rok yang biasa dipakai kaum adam di sana.

Dengan bekal membawa ponsel dan 'cekrek', pengunjung dapat pulang membawa foto-foto menarik.

Seakan baru kembali dari negeri berjulukan the black country itu.

Pengunjung juga dapat menemukan London Big Ben Phone Box (kotak telepon umum klasik yang berada di dekat Big Ben) jika memasuki salah satu ruangan di Rumah BaCa.

Namun, jangan kaget, kotak telepon setinggi orang dewasa itu ternyata hanya lukisan di sebuah jendela.

Kunjungi Tribun Jogja, Dwi Sasono dan Widi Mulia Promosikan Film Buku Harianku 

Di setiap sudut Rumah BaCa, kita juga akan melihat beraneka bentuk boneka, mainan, dan buku-buku yang jumlahnya ribuan.

Semua ini dibangun lewat tangan dingin Ganjar Widhiyoga.

Sepulang dari menempuh pendidikan doktor di United Kingdom, Ganjar bersama sang istri, Ari Pusparini, berniat mendirikan sebuah perpustakaan buku anak berbahasa Inggris.

Menurut mereka, hal itu selama ini belum ada di Yogyakarta.

Terlebih mereka sudah mengantongi ribuan koleksi buku anak yang dibeli selama lima tahun tinggal di negara Eropa Barat tersebut.

Buku-buku itu dibeli saat ada momen-momen bazar yang menawarkan diskon fantastis.

Hanya beberapa bulan setelah kepulangan mereka ke tanah air, Ganjar dan Ari membuka secara resmi Rumah BaCa pada 17 Agustus 2017.

Di Rumah BaCa pengunjung dapat membaca buku-buku anak berbahasa Inggris, mulai dari picture book (buku anak bergambar dengan sedikit tulisan) hingga novel-novel populer seperti Harry Potter dan Lord of The Rings dalam bahasa aslinya.

Hingga saat ini tak kurang dari 1.474 judul buku dengan 1.639 koleksi tersedia.

Bianca Hadir di Perpustakaan Kota Yogyakarta

Awal mulanya Ganjar dan Ari berpikir untuk menciptakan lingkungan berbahasa Inggris bagi anak mereka, Dzakka, yang sudah fasih berbahasa Inggris selama tinggal di sana.

“Jika tidak ada lingkungan yang mendukung, perlahan kemampuan berbahasa Inggris anak akan luntur. Itu salah satu latar belakang mendirikan Rumah BaCa,” ujar Ganjar.

Selain itu, ia menambahkan, alasan lain yang tak kalah kuat adalah ingin mengajak anak-anak belajar bahasa Inggris dengan menyenangkan.

Ini sekaligus menumbuhkan rasa suka membaca pada diri mereka.

“Fokus di penerapan bahasa Inggris, bukan di menghafal grammar,” kata doktor lulusan Durham University itu.

Hal itu mereka buktikan dengan membuka klub-klub bahasa Inggris di Rumah BaCa.

Anak-anak usia pra sekolah hingga kelas 6 SD diajak belajar bahasa Inggris dengan cara yang menyenangkan, seperti lewat berkebun, memasak kue dan berbagai makanan, serta membuat karya seni.

Sementara, ada kursus privat untuk anak usia SMP.

Setelah dua setengah tahun berdiri, tujuan menciptakan lingkungan berbahasa Inggris untuk sang anak berhasil ia wujudkan.

Banyak pula teman baru yang mau belajar jadi mensyukuri kemampuannya berbahasa Inggris.

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta Layani Tunanetra melalui Moli

“Alhamdulillah peserta klub di Rumah BaCa sebagian besar senang dengan metode kami dan mereka juga menunjukkan penguasaan bahasa Inggris yang terus meningkat,” ungkap Ganjar.

Pembelajaran bahasa Inggris di sana dapat diikuti oleh semua kalangan anak-anak.

Dengan membayar sejumlah uang pendaftaran untuk delapan kali pertemuan (dua bulan) per paket.

Bahkan, Ganjar dan Ari mendapati ada beberapa anak dengan latar belakang anak berkebutuhan khusus (ABK) yang juga berhasil meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya.

Awalnya, anak tersebut agresif dan sering dicap nakal.

Tetapi, berkat dukungan dari orang tuanya, anak tersebut bisa tekun belajar bahasa Inggris.

“Perkembangan anak untuk belajar bahasa Inggris itu sangat tergantung pada dukungan orang tua. Sekarang anak tersebut sudah bisa membaca buku berbahasa Inggris dan memahami isinya,” jelas dosen Jurusan Hubungan Internasional di dua universitas swasta itu.

Sementara, untuk tujuan mengajak anak-anak senang membaca, ini yang menurut Ganjar belum berhasil.

Peminat perpustakaan Rumah BaCa tidak sebanyak yang ia perkirakan.

Menurutnya, anak-anak sebenarnya suka membuka-buka buku-buku di Rumah BaCa.

Namun, untuk meminjam dibawa pulang harus menjadi anggota dan ada biaya keanggotaan.

“Orang tua ternyata cenderung tidak memprioritaskan biaya anggota perpustakaan. Justru lebih memprioritaskan biaya klub bahasa Inggris,” tukasnya.

Ganjar menambahkan, hal itu sangat berkaitan dengan budaya baca yang relatif rendah di Indonesia.

Perpustakaan Pusat Pembelajaran Masyarakat

Awalnya, Ganjar dan Ari membayangkan Rumah BaCa dapat seperti library dan family centre yang ada di Inggris.

Di sana pengunjung tidak hanya dapat meminjam buku, namun juga mainan.

“Jadi kita bisa pinjam satu set mainan selama dua pekan, bisa diperpanjang sampai sebulan. Jadi kehidupan anak-anak itu sangat dinamis dan penuh rangsangan positif, tanpa memberatkan orang tua.”

Selain itu, beberapa peminjam juga tidak tertib dalam mengembalikan buku.

Ada beberapa buku yang akhirnya hilang, tidak dikembalikan.

Ke depan, Ganjar tetap berharap Rumah BaCa dapat menjadi family centre yang menginspirasi anak-anak untuk senang membaca dan beraktivitas kreatif, satu di antaranya belajar berbahasa Inggris.

Rohmad Dwi Saputro, Pustakawan Rumah BaCa menjelaskan bahwa Rumah BaCa sering juga kedatangan anak-anak tetangga sekitar.

Jumlahnya setiap hari bisa sekitar lima sampai enam anak.

“Mereka ke sini lebih sering untuk main. Di sini ada sekitar 100-an mainan,” ungkapnya.

Jangkau Sekolah hingga Kampung, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogya Tambah 6 Puspita

Selain anak-anak, lanjut Rohmad, pengunjung juga banyak dari kalangan ibu-ibu dan remaja.

Sebab, di Rumah BaCa juga ada kegiatan senam bersama untuk ibu-ibu, women's cafe, dan kelas menulis populer untuk dewasa.

“Untuk anak usia SD dan prasekolah tiap level klub ada delapan kali pertemuan. Untuk usia SMP ada privat bahasa Inggris,” jelas Rohmad.

Seorang orang tua dari peserta yang ikut klub di Rumah BaCa, Yuli Salma, mengaku terbantu dengan adanya Rumah BaCa.

Putera pertama Yuli yang berusia 10 tahun mengalami attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) atau gangguan mental yang menyebabkan seorang anak sulit memusatkan perhatian.

"Anak saya sering tidak bisa duduk tenang, tidak betah di kelas. Jadi belum saya leskan formal, seperti di les-les biasa. Tapi di Rumah BaCa sistem belajarnya lebih santai. Anak bisa sambil beraktivitas," tutur Yuli.

Meskipun harus menempuh jarak puluhan km dari rumahnya di Jalan Kaliurang km 15 menuju Rumah BaCa di Gedongkuning, Yuli tetap bertahan setiap Sabtu sore mengantarkan anaknya pergi les.

Perpustakaan Kota Magelang Sediakan Buku untuk Warga Binaan Lapas

"Apalagi jalan di Kaliurang kalau malam Minggu padat sekali. Saya ajak dia (putra Yuli) untuk pindah les yang dekat saja, dia nggak mau. Mungkin Miss Ari (Ari Pusparini) sudah paham sama dia. Dia juga nyaman," terangnya.

Putra Yuli sendiri sudah hampir dua tahun terakhir mengikuti klub di Rumah BaCa.

Awalnya, menurutnya, anaknya itu masih nol dalam bahasa Inggris.

"Dulu nilai ujiannya 70. Tapi setelah di Rumah BaCa pernah sampai 100. Sekarang nilainya nggak pernah kurang dari 97-98," tutur Yuli.

Sebagai masukan, Yuli berharap ke depan Rumah BaCa dapat mendatangkan penutur native bahasa Inggris.

"Harapannya anak saya bisa bercakap-cakap dengan orang Barat sekali pun. Supaya dia lebih di-push lagi, lebih difokuskan di situ. Semoga bisa didatangkan native speaker secara reguler, misal sebulan sekali atau dua kali. Jadi anak-anak terbiasa dengan orang bule, tidak shock," kata Yuli. (TRIBUNJOGJA.COM)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved