Bantul

Harga Rawit Merah di Bantul Kian 'Pedas,' Pedagang Kuliner Terancam Merugi

Harga cabai kian melambung tinggi. Pantauan di pasar tradisional Bantul harganya menembus Rp 80 ribu perkilogram.

Tayang:
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Ahmad Syarifudin
Pedagang cabai di pasar tradisional Bantul menunjukan cabai yang kini harganya kian meroket. 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Harga cabai kian melambung tinggi.

Pantauan di pasar tradisional Bantul harganya menembus Rp 80 ribu perkilogram.

Hal ini membuat para pengusaha kuliner pusing.

Mereka sebisa mungkin harus memutar otak agar dagangannya tidak sampai merugi.

Salah satu pedagang pecel lele di Bantul, Fani.

Ia menceritakan, dalam satu hari, untuk membuat sambal dan kebutuhan memasak, dirinya biasa membeli minimal 2 kilogram cabai rawit merah.

Untuk belanja cabai, paling tidak Ia mengeluarkan uang sebesar Rp 160 ribu.

Padahal biasanya hanya sekitar 60 ribu sampai 70 ribu rupiah saja.

Harga Meroket, BI DIY: Cabai Dijual Keluar

Cabai dua kilogram tersebut akan habis dalam satu kali jualan.

"Dua kilogram itu habis satu malam. Untuk membuat sambal tomat dan sambal bawang," kata dia, ditemui saat belanja cabai di pasar Bantul, Selasa (28/1/2020).

Semenjak harga cabai melambung tinggi, Fani mengaku harus memutar otak.

Sebisa mungkin disiasati agar ongkos produksi tidak kian membengkak.

Salah satu caranya, dengan mengurangi jumlah pembelian cabai dan porsi sambal.

Biasanya, dua kilogram permalam, sekarang cukup membeli 1.5 kilogram saja.

Kemudian untuk satu porsi pecel lele, dirinya biasa menambahkan tiga sendok untuk sambal.

Namun semenjak harga cabai mahal, Ia mengurangi satu sendok.

Sehingga satu porsi hanya mendapatkan dua sendok untuk sambal.

"Ini cara agar sambal bisa lebih hemat. Kita pedagang kecil juga tidak merugi," ujar dia.

Harga Cabai Rawit Merah di Pasar Tradisional Bantul Kian Pedas, Tembus Rp 80 Ribu/kg

Senada apa yang disampaikan Fani, salah satu pedagang makanan, Pardi mengatakan meroketnya harga cabai rawit merah dipasaran sangat berdampak pada usaha Mie Ayam dan Bakso yang digelutinya.

Sambal di warungnya disajikan terpisah. Konsumen mengambil sendiri.

Sehingga agar tidak merugi, ia mengaku harus mengatur strategi.

Caranya, dengan mengeluarkan sambal sedikit sedikit.

"Sambalnya dikeluarkan ke konsumen sedikit-sedikit. Yang penting kita tetap menyediakan sambal. Kalau tidak ada sambal, justru nanti konsumen protes," ucap dia.

Harga Cabai Melambung, Pemda DIY Sebut Faktor Cuaca dan Hama Jadi Penyebab

Meski harga cabai mahal, Pardi mengaku tetap menjaga kualitas sambal miliknya.

Berbekal cabai 1 kilogram, dirinya tidak mencampur dengan bahan lain.

"Kalau dicampur bahan lain nanti rasanya berubah," kata Pria berusia 40 tahun itu.

Pardi berharap, harga cabai rawit merah bisa kembali turun dan stabil.

Karena jika terus mengalami kenaikan akan sangat berat bagi usahanya.

Terlebih, subsidi melon ada wacana akan dicabut sehingga akan sangat berdampak pada usaha kecilnya.

"Saya berharapnya jangan naik terus. Karena akan sangat berat," tuturnya.(TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved