Lifestyle
Menyikapi Anak Menyalahkan Diri Sendiri
Pada fase tertentu anak anak usia SMP sudah mulai atau pernah mengalami yang namanya menyalahkan diri sendiri.
Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pada fase tertentu anak anak usia SMP sudah mulai atau pernah mengalami yang namanya menyalahkan diri sendiri.
Hal ini mungkin dianggap sebuah kewajaran lantaran di anak sudah mulai remaja dan mengerti mana yang baik dan mana yang kurang baik.
Namun bila terjadi pada anak usia sekolah dasar, apalagi si anak masih di usia 6 hingga 9 tahun, orang tua kadang bingung harus menyikapi sikap anaknya tersebut.
Seperti pernah dialami Nuzul, ibu tiga anak yang berprofesi sebagai entrepreneur ini.
Anak sulungnya yang saat itu duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar menyalahkan dirinya sendiri karena merasa ia tidak cakap dan cukup pandai sehingga gagal masuk ke kelas akselerasi.
• Menuangkan Ide Menjadi Sebuah Buku
"Si sulung bilang, aku ini bodoh berarti, tak berguna karena ngga bisa masuk kelas akselerasi, padahal teman yang nilainya di bawah aku bisa masuk. Saya kaget, anak kecil sudah bisa bilang seperti itu," kata Nuzul.
Nuzul pun mencoba tenang menghadapi gerutu si anak.
Ia mencoba menjelaskan bahwa tak semua cita cita itu bisa terwujud meskipun sudah ada usaha keras dan doa.
Perlahan anaknya mulai bisa move on dan bisa menerima kenyataan tak terpilih masuk ke kelas akselerasi.
Senada diungkapkan Adriana Dise, anaknya yang saat itu masih duduk di bangku taman kanak-kanak juga pernah menyalahkan dirinya sendiri lantaran tak bisa menjawab pertanyaan guru.
Rupanya setelah berkonsultasi dengan gurunya, anaknya memang memiliki pemahaman emosi yang lebih matang dibandingkan anak se usianya.
• Karsha Merilis Single 0/10 Merespon Kondisi Titik Nadir
"Ada dua sisi yang harus diperhatikan ketika anak kita memiliki kedewasaan yang lebih dini. Di satu sisi ia mudah memahami sesuatu di satu sisi ia juga mudah merasa bersalah, ini yang harus hati hati," kata Adriana.
Lanjut Adriana, anaknya yang saat ini duduk kelas dua sekolah dasar memang sejak kecil sudah terlihat lebih mudah memahami sesuatu yang diajarkan oleh gurunya.
Rupanya si anak memang memiliki karakter yang mudah terbawa perasaan sehingga menjadi kelemahan si anak ketika ia dengan mudah juga merasa bersalah.
"Ketika menyadari anakku gampang baper, Ali selalu menguat dirinya memberi pengertian agar bisa lebih siap ketika menghadapi lingkungan di sekolahnya. Itu yang bisa aku lakukan saat ini," kata Adriana.