Eksistensi Penjual Kapal 'Otok-otok' Di Era Modern
Nama otok-otok itu berasal dari suara yang ditimbulkannya, karena kerap berbunyi "otok-otok' ketika bergerak.
Penulis: rid | Editor: Ari Nugroho
Sadi Raya (24), warga Cirebon sekaligus penjual kapal otok-otok mengungkapkan, ia sudah lama benjualan kapal otok-otok yang ukuran dan warnanya beraneka ragam tersebut.
Nampak pula kapal otok-otoknya yang dijajakannya tersusun rapi di sebuah lapak berukuran 2x1 meter.
Diakuinya pula dalam berjualan kapal otok-otok ini sudah dilakukannya bahkan hingga luar pulau Jawa.
Menurutnya, selain untuk mendapatkan rezeki yang digunakannya untuk kehidupan sehari-hari.
Ia juga meneruskan usaha yang telah dirintis oleh ayahnya.
"Sudah 7 tahunan saya jualan seperti ini, setiap ada pasar malam pasti saya datangi, bahkan sampai Kalimantan sudah saya datangi untuk berjualan kapal otok-otok ini. Saya pilih jualan mainan ini karena bapak dulu juga jualan ini (kapal otok-otok). Selain itu juga karena tidak punya dana lebih sih mas untuk jualan yang lain," ungkapnya, Jumat (17/11/2017).
Lanjut pria berkulit putih ini, barang yang ia jual berasal dari daerah asalnya yaitu Cirebon.
Ia menilai, di era yang serba modern saat ini juga mempengaruhi dalam penjualan kapal otok-otoknya.
Tapi Sadi tetap menjual mainan tersebut karena ia mempunyai keyakinan lain dalam hal mengais rejeki.
"Kalau barangnya ini ngambil dari Cirebon, kan ada pengrajinnya. Ngambilnya patungan sama teman biasanya ambil 50 kodi terus dibagi 3 orang biar kenanya murah. Memang sekarang banyak mainan yang modern, tapi nggak masalah. Karena rejeki sudah ada yang ngatur, yang penting usaha aja lah," jelasnya.
Sardi yang berambut cepak ini meneruskan perbincangan, dalam sehari ia sanggup menjual puluhan kapal otok-otok.
Tapi tidak setiap harinya pula ia dapat menjual puluhan mainan tradisional tersebut.
Bahkan pernah ia pernah mengalami saat sulit, dimana keuntungan dari berjualannya tidak dapat menutupi biaya sehari-harinya selama di pasar malam.
"Ya kalau omzet tidak menentu, kadang laku 5, kadang 10 dalam sehari. Kalau dinominalkan ya Rp.100 ribu, paling kenceng Rp.300 ribu. Tapi kalau hujan gini sepi, paling hanya laku 5, padahal paling laku kalau jualan di Sekaten," ulasnya.
"Tapi ya namanya dagang kan harus berani rugi, dulu pernah laku hanya sedikit sekali tapi ya tetap disyukuri lah mas, selama bisa untuk makan sehari-hari. Daripada nggak laku sama sekali," kenangnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/penjual-kapal-mainan-otok-otok_20171117_215614.jpg)