Eksistensi Penjual Kapal 'Otok-otok' Di Era Modern

Nama otok-otok itu berasal dari suara yang ditimbulkannya, karena kerap berbunyi "otok-otok' ketika bergerak.

Tayang:
Penulis: rid | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Pradito Rida
Penjual kapal otok-otok di Alun-alun utara Yogyakarta dalam rangka gelaran Sekaten. Nampak beberapa pembeli yang didominasi anak-anak tengah mengamati kapal yang menimbulkan suara otok-otok ketika bergerak di atas baskom berisi air, Jumat (17/11/2017). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Pradito Rida Pertana

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Ditengah suara rintik hujan gerimis yang membasahi arena Sekaten di Alun-alun Yogyakarta terdengar suara khas dari mainan kapal-kapalan berukuran kecil.

Adapun suara tersebut berasal dari gesekan antar bagian kapal mainan yang berbentuk tabung dan menyerupai meriam dengan bagian penutupnya yang sama-sama terbuat dari kaleng susu bekas.

Semakin lama, suara yang dihasilkan dari mainan kapal-kapalan tersebut terdengar semakin nyaring.

Laju kapal yang berada di atas sebuah baskom berisi air tersebut juga semakin cepat, tak ayal juga melambat karena api yang berada di dalam mainan itu redup.

Mengetahui hal tersebut, seorang pedagang kapal-kapalan itu mengambil sebuah botol berisi minyak goreng dan menuangkannya lagi ke bagian dalam mainan kapal-kapalan untuk membuatnya tetap menimbulkan bunyi dan bergerak.

Adapun kapal-kapalan yang dimaksud dikenal masyarakat luas, khususnya masyarakat Jawa adalah kapal otok-otok.

Baca: Heboh Guru Hukum Siswanya Push Up Sambil Mainan HP, Ia Bahkan Tendang Kepala Muridnya

Nama otok-otok itu berasal dari suara yang ditimbulkannya, karena kerap berbunyi "otok-otok' ketika bergerak.

Kapal tersebut bergerak karena air yang dimasukkan dari lubang kecil menyerupai knalpot menghasilkan uap.

Uap terabut dari pembakaran kapas yang ditaruh di sebuah plat besi dan dimasukkan ke bagian dalam kapal otok-otok.

Dari proses ilmiah tersebutlah kapal otok-otok dapat bergerak.

Perlu diketahui untuk api yang dihasilkan berasal dari kapas yang dibasahi minyak goreng, jadi jika nyala api meredup maka suara otok-otok dan laju kapal mainan itu akan melambat.

Dewasa ini penjual kapal otok-otok sangat jarang ditemui, dan biasanya hanya ditemui di gelaran tertentu seperti Sekaten dan gelaran bernuansa tradisional lainnya.

Di tengah era modernisasi saat ini eksistensi kapal otok-otok masih ada walau jumlah pedagangnya tidak banyak lagi seperti beberapa tahun yang lalu.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved