Eksistensi Penjual Kapal 'Otok-otok' Di Era Modern

Nama otok-otok itu berasal dari suara yang ditimbulkannya, karena kerap berbunyi "otok-otok' ketika bergerak.

Tayang:
Penulis: rid | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Pradito Rida
Penjual kapal otok-otok di Alun-alun utara Yogyakarta dalam rangka gelaran Sekaten. Nampak beberapa pembeli yang didominasi anak-anak tengah mengamati kapal yang menimbulkan suara otok-otok ketika bergerak di atas baskom berisi air, Jumat (17/11/2017). 

Sadi menambahkan, selama berdagang dari satu pasar malam ke pasar malam lainnya ia menyewa satu kamar kos untuk tidur.

Mengenai barang dagangannya ia titipkan kepada pedagang lain.

Setiap harinya selama Sekaten, ia membuka lapaknya dari jam 4 sore sampai pengunjung Sekaten berangsur-angsur sepi.

"Kita ngekos kamar di dekat-dekat sini mas kalau tidurnya, kalau barangnya kadang dititipkan di pedagang lain yang mau dititipin. Biasanya buka jam 4 sampai malam, untuk malamnya itu tidak menentu bisa jam 10 atau jam 11 malam. Kalau sudah sepi pengunjung tutup," bebernya.

Menurutnya, karena jaman semakin maju, saat ini kapal otok-otok yang dijualnya juga mengalami perubahan bentuk agar semakin menarik.

Diakuinya bahwa perubahan tersebut belum berlangsung lama.

"Sekarang ada yang ukuran kecil, besar, dan besar tapi ada layarnya. Ya biar nggak monoton mas bentuknya dari dulu, biar menarik juga," jelasnya.

Pria yang murah senyum ini berencana untuk ke Pekalongan setelah berjualan di Sekaten.

Mengenai sampai kapan ia akan berjualan kapal otok-otok tersebut ia tak bisa menentukannya.

"Habis dari sini mau ke Pekalongan, disana ada pasar malam juga. Kalau tahu info pasar malam dari sama-sama pedagang sih mas, kan saling koordinasi. Jadi kalau ada info kita datangi," katanya.

"Belum tahu mau sampai kapan jualan kapal otok-otok ini, asal masih mampu sama untungnya masih untuk makan sehari-hari ya tetap jualan," pungkasnya.

Sementara itu, Rohmat (25), warga Gunungkidul memang sengaja datang ke gelaran Sekaten dengan maksud menghabiskan waktu senggang bersama dengan keluarganya.

Menurutnya, sejak pertama kali menginjakkan kaki ke Sekaten anaknya tertarik dengan kapal otok-otok tersebut, dan merengek untuk dibelikan.

"Saya sama keluarga sengaja ke sini (Sekaten) dari Gunungkidul, tadi pas masuk ke Sekaten anak saya lihat kapal otok-otok itu. Terus kepingin dibelikan, ya sudah saya turuti wong namanya juga anak-anak," ucapnya.

Pria yang mengenakan kaus merah ini menambahkan, ia membeli dua kapal otok-otok untuk anak-anaknya.

Diakuinya memang pertama hanya salah satu anaknya saja yang ingin dibelikan kapal tersebut.

Namun, ketika sibuk memilih jenis dan warna kapal yang diinginkan tiba-tiba salah satu anaknya juga ingin dibelikan juga.

"Beli 2 kapal ini, karena kalau yang satu nggak dibelikan nanti bisa bertengkar," ujarnya disusul dengan senyuman yang tersimpul dari raut wajahnya.(TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved