Merajut Keberagaman Lewat Festival Layang-Layang

Sebagai festival layang-layang bertaraf nasional, puluhan klub layangan turut andil dalam kompetisi tersebut. Khusus tahun ini, sebanyak 45 klub.

Tayang:
Penulis: usm | Editor: oda
tribunjogjamagang/Vincentius Kevin
Sebanyak 45 klub dari berbagai daerah di Indonesia menyemarakkan Festival Layang-Layang Nasional 2016 di Pantai Parangkusumo, Bantul, Sabtu (27/8). Layang-layang dengan bermacam bentuk ini memperebutkan Piala Raja dari Sri Sultan Hamengku Buana X. 

Tak hanya itu, layang-layang menurutnya jika dikelola dengan benar bisa menjadi ajang antar komunitas untuk saling berinteraksi dan bisa mempererat tali silaturahmi.

Apalagi masing-masing daerah bisa dipastikan memiliki ciri khas layang yang berbeda. Berbedanya ciri khas itu merupakan umpama jika kondisi masyarakat Indonesia notabene juga sarat keberagaman.

"Makanya FLLN ini sekaligus sebagai wujud persatuan. Meskipun berbeda-beda coraknya (layang), toh juga bisa saling berdampingan," tambah pria yang telah berkecimpung dengan layang-layang sejak tahun 1998 ini.

Meskipun banyak makna filosofi yang dapat dipetik dari layang-layang. Namun Sunarwan tak memungkiri jika permainan tradisional ini mulai banyak ditinggalkan generasi muda.

Tak hanya itu, sejumlah kalangan terkadang sinis jika menjumpai seseorang yang sedang bermain layang-layang. Tentu kondisi ini menjadi keprihatinan tersendiri baginya.

Oleh karenanya dirinya terus berusaha berinovasi dan mencoba memperkenalkan layang-layang kepada generasi muda.

Terpisah Ketua Panitia FLLN 2016, Jose Basmeri menjelaskan jika para peserta FLLN tahun ini tidak hanya berasal dari Jawa saja, melainkan berasal dari seluruh provinsi yang ada di Indonesia.

Sementara jumlah peserta yang mencapai 45 klub, menurut Jose jumlah ini jauh lebih banyak ketimbang awal festival layang-layang diadakan. Pasalnya pada pagelaran pertama FLLN 2013, kurang dari 30 klub layangan yang berpartisipasi.

"Jumlah peserta tiap tahun bertambah. Untuk tahun ini klub layang dari Madura juga kami ajak," tambahnya.

Sebagai festival yang digelar tiap tahun, Jose menyebut jika festival ini sebenarnya lebih dari sekedar lomba. Melainkan sekaligus menjadi perajut kebersamaan, di tengah-tengah perbedaan yang menjadi realitas di masyarakat.

"Sebenarnya layang-layang itu juga bisa untuk sarana pembentukan karakter, yakni menumbuhkan jiwa gotong royong," paparnya.

Selain sebagai upaya merekatkan persatuan, FLLN sendiri menurut Jose juga dimaksudkan sebagai upaya pelestarian layang-layang yang kian hari tergerus zaman.

Oleh karenanya pada festival kali ini, pihaknya sekaligus membuat program pembelajaran pembuatan layang-layang kepada anak-anak yang berkunjung ke acara FLLN.

"Sekarang itu zamannya gadget, jarang anak yang bermain layang-layang. Makanya kami memperkenalkan permainan ini. Jadi kami ingin menumbuhkan ke anak-anak agar tahu dan semakin cinta dengan layang-layang," sebutnya.

Sementara itu salah seorang pengunjung FLLN 2016, Dodik (47), sangat mengapresiasi adanya festival layang-layang di Bantul. Pasalnya selain bisa menjadi sarana hiburan masyarakat, festival ini dapat menjadi sarana anak-anak untuk semakin mengenal layang-layang.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved