Merajut Keberagaman Lewat Festival Layang-Layang
Sebagai festival layang-layang bertaraf nasional, puluhan klub layangan turut andil dalam kompetisi tersebut. Khusus tahun ini, sebanyak 45 klub.
Penulis: usm | Editor: oda
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Mata lelaki itu fokus melihat layang-layang terbang, dengan seksama ia melirik layang yang beradu di langit Pantai Parangkusumo.
Bak terhipnotis, pria yang kulitnya mulai keriput dengan rambut yang mulai memutih ini tak menghiraukan lagi kondisi sekeliling. "Waduh, layangnya jatuh," kata lelaki bernama Sunarwan (54) ini, Sabtu (27/8/2016).
Sunarwan sendiri adalah salah satu pengurus klub dari 45 klub pekarya layang-layang yang berpartisipasi dalam acara Festival Layang-layang Nasional (FLLN) yang digelar dari 27 sampai 28 Agustus 2016.
Menurut sesepuh klub Layangan Pangeran Petruk Magelang ini, dirinya semenjak 2013 rutin mengikuti FLLN.
"Dulu saya juga ikut berpartisipasi membentuk Perkalin (Perkumpulan Pekarya Layang-layang Indonesia)," imbuhnya.
Perkalin sendiri merupakan perkumpulan yang didirikan oleh sejumlah pekarya layang-layang tahun 2012. Setahun semenjak berdiri, Perkalin rutin mengadakan FLLN.
Berbekal suntikan dana dari Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Perkalin sukses menyelenggarakan FLLN tiap tahunnya. Sementara tahun ini merupakan kali keempat FLLN diselenggarakan di bumi Mataram.
Sebagai festival layang-layang bertaraf nasional, puluhan klub layangan turut andil dalam kompetisi tersebut. Khusus tahun ini, sebanyak 45 klub dari berbagai daerah di Indonesia memperebutkan Piala Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Yakni piala sang raja yang diberikan kepada klub yang menjadi juara umum pada kompetisi tersebut. "Tahun kemarin kelompok kami yang juara," kenang Sunarwan.
Kini meski Sunarwan telah tergerus usia, sementara dirinya juga sakit-sakitan. Akan tetapi karena terlanjur cinta dengan layang-layang, dirinya enggan untuk tidak berpartisipasi pada pagelaran festival layang-layang tahunan ini.
Bahkan dengan kelompoknya yang terdiri dari istri dan tiga orang yang membantunya, piala raja, sebutan piala Sri Sultan Hamengkubuwono X optimis direnggutnya kembali.
"Untuk layangan tradisional kami menampilkan kembang wijayakusuma. Untuk layangan dua dimensi kami menampilkan jajalanat. Layangan tiga dimensi kami menampilkan lentera teplok. Layangan selanjutnya kami ada naga bayu. Dan terakhir kami juga ada layang rokkaku," urainya.
Memang layang-layang bagi Sunarwan tak hanya sebatas penyalur hobi. Menurutnya layang-layang merupakan sebuah karya seni yang sarat makna filosofi.
Misalnya layang-layang baginya tak hanya berupa bentukan kertas atau kain belaka, melainkan juga terdapat benang sebagai penahan agar layang-layang terkendali.
"Kalau benang layang-layang putus pasti layangan tersebut akan jatuh ke penjuru arah. Itu sama saja jika iman seseorang terputus, maka manusia akan kehilangan arah," ulasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/festival-layang-layang_20160828_083009.jpg)