TribunJogja/

Sastra

CERPEN : Wanita dan Pria Tertidur

Batin yang entah seperti apa setelah malam ini. Kesakitan yang tak pernah ku rasakan pada waktu sebelumnya.

CERPEN : Wanita dan Pria Tertidur
Tribun Jogja/ Septiandri Mandariana
ilustrasi 

ANGIN malam tiba-tiba terasa begitu menusuk. Bahkan membuatku sakit. Bukan tubuh ini, namun batin yang entah seperti apa setelah malam ini. Kesakitan yang tak pernah ku rasakan pada waktu sebelumnya.

Sebelumnya, aku selalu suka ketika malam datang. Entah mengapa, malam adalah ketika aku merasa lengkap bersama orang tercinta. Malam selalu membawa cinta yang entah dari mana berasal. Mungkin itulah yang dinamakan angin surga.

Namaku Dinda, usiaku 23 tahun di bulan Oktober tahun lalu. Semuda ini aku memiliki suami tampan, baik dan sempurna di mataku. Aku selalu suka ketika ia tersenyum. Giginya putih, terawat dan itu indah sekali. Belum lagi memiliki dua orang anak, menjadi keindahan lainnya yang dikirim tuhan dari surganya. 

Anak pertamaku laki-laki, dan ia masih berumur 2,5 tahun. Ia rajin sekali membuatku lelah berlari, sebab ialah anak yang sangat lincah. Sementara anak keduaku, satu bulan sudah usianya malam ini. Ia memiliki mata yang indah, memancarkan keindahan surga terpancar pada mata seorang wanita.  

Malam ini aku berdua bersamanya. Bersama pria yang menjadi pelabuhan terakhirku. Di atas tumpukan kapuk yang disulap menjadi kapuk, tempat dimana kami rasakan cinta yang sesungguhnya. Ia kini tertidur dipangkuanku. Di tengah malam yang terasa dingin untuknya. Untukku juga. Namun kita merasa dengan rasa yang berbeda. Mungkin tak bisa diungkapkan bagaimana rasanya ia harus merasa. Sebagai manusia yang tak seutuhnya manusia.

“Pah bangun pah”, lirihku ketika itu. Ia tak menjawab. Hening. Ia tak sedikitpun menunjukan gerakan yang membuatku merasa tenang. Ia hanya berkata, “Tolong besarkan anak-anak kita dengan baik dan berikan pendidikan yang layak untuk mereka berdua”. Setelah itu ia tertidur dan tak bergerak.

Aku lemah, namun raga ini berusaha tegap. Aku ingin berteriak, namun mulut ini tergagap. Aku hanya bisa memandangnya dengan mataku yang berkaca dan pecah oleh air mata. Tubuhnya kini dingin. Sedingin hari ku nanti bersama masa depan.

Waktu melaju tak terasa. Seperti ketika ia tertidur begitu saja. Tanpa pamit dan tanpa memberi aba-aba. Fajar pun mulai terbangun di langitku, bersama lolongan ayam jantan dan sahutan suara adzan.

Beberapa wajah sudah mulai berdatangan, dengan raut wajah tak menyenangkan. Beberapa wajah dari mereka sangat ku kenal, ada yang kenal saja, dan ada pula yang tak ku kenal sama sekali. Mungkin mereka keluarga ku. Mungkin mereka kenalan ku terdahulu. Mungkin mereka adalah kawan dari suamiku. Aku tak tahu, bahkan sulit untuk membedakan wajah manusia satu persatu.  

“Tuhan, mengapa ia tertidur begitu cepat tadi malam? Aku belum siap”, ujar ku sambil terisak. Kesedihan yang dibalut dengan kebingungan mengahadapi waktu bersama masa depan. Seperti pesakitan yang kehilangan salah satu anggota tubuhnya. Tak lengkap, namun harus tetap melangkah bahkan berlari mengalahkan pelari maraton sekalipun.

Halaman
1234
Penulis: abm
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help