Jepang Manfaatkan Gim Farming Simulator 25 Guna Pendidikan Pertanian Modern
Jepang memakai game Farming Simulator 25 di sekolah untuk ajarkan simulasi pertanian dan manajemen usaha tani modern.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Muhammad Fatoni
Goto mengungkapkan bahwa pada awalnya ia harus menghadapi keraguan internal ketika mengajukan ide tersebut kepada pihak manajemen.
“Saya sempat mempresentasikan ini kepada jajaran pimpinan, dan respons awalnya cukup sulit. Mereka mengatakan, ‘Bukankah ini hanya gim?’,” ujarnya.
Menurutnya, persepsi bahwa video game hanya sebatas hiburan menjadi tantangan tersendiri dalam memperkenalkan pendekatan ini sebagai alat edukasi dan riset.
Ia harus menjelaskan secara rinci potensi yang dimiliki oleh simulasi tersebut hingga akhirnya mendapatkan persetujuan untuk menjalankan penelitian.
“Memang tidak mudah menjelaskan bahwa ini adalah sesuatu yang inovatif. Tapi setelah dijelaskan secara bertahap, akhirnya kami bisa menjalankannya sebagai bagian dari riset,” tambahnya.
Baca juga: Implementasi Sistem Rating Usia Milik Komdigi Pada Game Steam, Apa Artinya?
Pandangan serupa juga masih sering muncul bahkan setelah implementasi berjalan.
Goto menyebut bahwa penggunaan simulator di lingkungan kerja kerap disalahartikan oleh orang lain sebagai aktivitas bermain biasa.
“Kami bahkan membuat setup Farming Simulator di kantor untuk keperluan penelitian. Dari luar, mungkin terlihat seperti wakil kepala pusat hanya sedang bermain gim. Memang ini gim, tetapi kami menggunakannya untuk riset,” katanya.
Fokus Tujuan
Latar belakang pelaksanaan pembelajaran digital twin ini tidak terlepas dari peran National Agriculture and Food Research Organization (NARO), lembaga riset nasional di Jepang yang berfokus pada pengembangan teknologi di sektor pertanian.
Sebagai lembaga riset nasional di bidang pertanian, NARO memiliki rekam jejak yang kuat dalam pengembangan teknologi dan inovasi sektor ini.
Baca juga: Komdigi Dalami Dampak Psikologis Gim Daring, Tunggu Arah Kebijakan dari Presiden
Sejumlah varietas unggulan yang telah dikenal luas, seperti anggur Shine Muscat dan apel Fuji, merupakan hasil riset dan pengembangan yang dihasilkan oleh lembaga tersebut.
Dalam kegiatan kelas, sejumlah pihak turut terlibat, mulai dari perwakilan industri hingga akademisi.
Di antaranya adalah perwakilan dari SEGA sebagai publisher, peneliti dari NARO, akademisi dari Tokyo University of Agriculture, serta pihak sekolah dari Tokyo Metropolitan Agricultural High School.
Kegiatan pembelajaran dipandu langsung oleh seorang doktor ekonomi pertanian aktif, yang memberikan penjelasan terkait alasan penggunaan Farming Simulator 25 dalam proses belajar mengajar.
Pendekatan ini pada awalnya mungkin terlihat tidak lazim, mengingat media yang digunakan adalah video game.