Jepang Manfaatkan Gim Farming Simulator 25 Guna Pendidikan Pertanian Modern
Jepang memakai game Farming Simulator 25 di sekolah untuk ajarkan simulasi pertanian dan manajemen usaha tani modern.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Muhammad Fatoni
Namun, pelaksanaan di lapangan menunjukkan bahwa materi yang disampaikan tetap berfokus pada substansi pertanian secara serius.
Dalam pemaparannya di kelas, dijelaskan bahwa sektor pertanian Jepang saat ini menghadapi enam tantangan utama:
Pertama, penurunan jumlah tenaga kerja akibat semakin banyaknya pelaku yang meninggalkan sektor ini.
Kedua, meningkatnya produk impor dengan harga yang lebih kompetitif dibandingkan hasil pertanian domestik.
Ketiga, menurunnya tingkat pendapatan petani, sehingga sektor ini dinilai kurang menarik secara ekonomi.
Keempat, meningkatnya risiko akibat perubahan iklim, termasuk bencana alam seperti topan dan salju ekstrem.
Kelima, terputusnya proses regenerasi pengetahuan, di mana keahlian petani senior tidak sepenuhnya dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Keenam, meningkatnya jumlah lahan pertanian yang tidak lagi digarap.
Sebagai respons terhadap berbagai tantangan tersebut, NARO mendorong penerapan teknologi digital melalui konsep yang dikenal sebagai smart agriculture.
Metode ini mencakup pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk mengoperasikan alat pertanian seperti traktor dan mesin tanam secara otonom.
Selain itu, terdapat sistem pengelolaan irigasi yang dapat dikendalikan melalui perangkat digital seperti smartphone.
Pemanfaatan Farming Simulator 25 merupakan bagian dari pendekatan tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa teknologi digital dapat dimanfaatkan tidak hanya sebagai alat bantu pembelajaran.
Pendekatan ini digunakan untuk mempersiapkan generasi baru seperti yang diterapkan pada siswa di Jepang dalam menghadapi kompleksitas sektor pertanian modern.
(MG Fadhlullah Ramadhan)