Jepang Manfaatkan Gim Farming Simulator 25 Guna Pendidikan Pertanian Modern
Jepang memakai game Farming Simulator 25 di sekolah untuk ajarkan simulasi pertanian dan manajemen usaha tani modern.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Muhammad Fatoni
Ringkasan Berita:
- Di Jepang, Farming Simulator 25 dipakai di Tokyo Metropolitan Agricultural High School sebagai media pembelajaran pertanian berbasis digital twin.
- Siswa belajar mengoperasikan mesin, memahami kondisi lahan, hingga mengambil keputusan dalam pengelolaan usaha bertani melalui simulasi.
- Program ini jadi bagian upaya National Agriculture and Food Research Organization (NARO) Jepang mendorong smart agriculture untuk menjawab tantangan sektor pertanian.
TRIBUNJOGJA.COM - Pemanfaatan video game dalam dunia pendidikan terus berkembang.
Tidak hanya terbatas pada bidang teknologi atau sains, tetapi juga dapat merambah ke sektor yang konvensional seperti pertanian.
Di Jepang, pendekatan ini diterapkan melalui penggunaan gim simulasi bertani realistis Farming Simulator 25 sebagai media pembelajaran pertanian.
Berdasarkan laporan dari Denfaminicogamer, salah satu institusi pendidikan yang menerapkan metode ini adalah Tokyo Metropolitan Agricultural High School.
Sekolah tersebut memanfaatkan gim Farming Simulator 2 untuk membantu siswa memahami berbagai aspek dalam praktik pertanian modern, mulai dari pengoperasian alat berat hingga pengambilan keputusan berbasis manajemen usaha tani.
Metode pembelajaran ini berangkat dari konsep digital twin.
Konsep ini merujuk pada representasi virtual dari kondisi dunia nyata yang digunakan untuk keperluan analisis dan simulasi secara digital.
Dalam konteks pertanian, digital twin memungkinkan replika lingkungan lahan, mesin, hingga proses produksi ke dalam ruang digital.
Baca juga: DLSS 5 Nvidia Diumumkan, Grafis Game Realistis Berbasis AI, Gambar Mirip Film Hollywood
Melalui simulasi ini, berbagai skenario pertanian dapat diuji secara virtual tanpa harus bergantung langsung pada kondisi di lapangan.
Tidak hanya fokus pada aspek teknis, tetapi juga membantu siswa memahami hubungan antar faktor dalam pertanian, termasuk saat menghadapi perubahan kondisi dan risiko.
Salah satu pengajar yang terlibat dalam implementasi ini, Goto-sensei, menjelaskan bahwa konsep tersebut menjadi fondasi utama dalam penggunaan gim di kelas.
Ia menyebut bahwa simulasi yang dibangun di dalam gim memungkinkan representasi kondisi nyata yang dapat diuji secara berulang.
“Ini adalah konsep yang juga saya jelaskan di kelas, yaitu digital twin. Kami mereproduksi kondisi pertanian dan mesin di dalam gim, lalu melakukan simulasi di sana,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa dalam praktiknya, petani tidak hanya berperan sebagai pekerja lapangan, tetapi juga sebagai pengambil keputusan dalam skala bisnis.