Jepang Manfaatkan Gim Farming Simulator 25 Guna Pendidikan Pertanian Modern

Jepang memakai game Farming Simulator 25 di sekolah untuk ajarkan simulasi pertanian dan manajemen usaha tani modern.

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Muhammad Fatoni
Steampowered.com
Farming Simulator 25. © 2026 GIANTS Software GmbH. (Steampowered.com) 

Berbagai faktor harus dipertimbangkan secara bersamaan, mulai dari pemilihan komoditas hingga waktu pelaksanaan kegiatan pertanian.

“Petani di dunia nyata pada dasarnya adalah pelaku usaha. Mereka harus memikirkan kombinasi tanaman apa yang tepat, kapan waktu terbaik untuk bekerja agar hasil panen meningkat. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan untuk menjaga keberlangsungan usaha, dan keputusan harus terus diambil,” jelasnya.

20260405 Farming Simulator 2025 Steam 2
Farming Simulator 25. © 2026 GIANTS Software GmbH. (Steampowered.com)

Menurut Goto, petani hanya memiliki satu kesempatan dalam satu siklus produksi untuk menguji keputusan yang telah diambil.

“Di lapangan, kesempatan untuk ‘mencoba’ itu hanya datang sekali dalam setahun. Misalnya pada budidaya padi. Jika keputusan yang diambil salah, maka dampaknya bisa langsung terasa pada pendapatan,” ujarnya.

Dalam konteks inilah simulasi digital dianggap memiliki nilai signifikan.

Melalui Farming Simulator 25, berbagai skenario dapat diuji tanpa konsekuensi nyata, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih fleksibel.

Ia juga menambahkan bahwa fleksibilitas tersebut memungkinkan siswa untuk mengeksplorasi berbagai strategi secara lebih luas, seperti dalam memahami aspek profitabilitas berbisnis.

“Mereka bisa melihat bahwa pada kondisi tertentu, tanaman lain mungkin memiliki margin keuntungan yang lebih tinggi. Hal-hal seperti ini bisa diuji langsung di dalam simulasi. Selain itu, proses belajar juga lebih terbuka karena siswa dapat berdiskusi dan menerima masukan dengan lebih mudah,” katanya.

Prakteknya

20260405 Farming Simulator 2025 Steam 3
Farming Simulator 25. © 2026 GIANTS Software GmbH. (Farming-simulator.com)

Siswa-siswa Tokyo Metropolitan Agricultural High School mengikuti kegiatan belajar dengan dukungan perangkat simulator yang dirancang menyerupai kondisi nyata, seperti kemudi khusus, pedal, hingga sistem pelacakan mata atau eye-tracking.

Dengan dukungan layar monitor berukuran lebar, pengalaman yang dihadirkan mendekati situasi ketika akan mengoperasikan mesin pertanian secara langsung di lapangan.

Baca juga: Kisah Mahasiswa UGM Bikin Inovasi Layanan Psikologi Berbasis AI

Hal ini memberikan gambaran praktis yang sulit diperoleh melalui metode pembelajaran konvensional.

Pemanfaatan simulasi ini juga dilatarbelakangi oleh keterbatasan akses terhadap fasilitas pertanian di lingkungan sekolah.

Lokasi yang berada di wilayah perkotaan membuat penggunaan lahan luas dan alat berat tidak memungkinkan untuk dilakukan secara rutin.

Melalui simulasi digital, siswa tetap dapat memperoleh pengalaman praktis tanpa harus menghadapi keterbatasan ruang maupun risiko keselamatan kerja yang biasanya menyertai penggunaan mesin pertanian di dunia nyata.

Sempat Mengalami Kendala

Menariknya, implementasi Farming Simulator 25 dalam lingkungan pendidikan dan riset tidak langsung diterima dengan mudah.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved