Arsitektur Heritage sebagai Daya Tarik Wisata Berkelanjutan 

SEBAGAI struktur bangunan bersejarah, arsitektur heritage tidak hanya menyediakan keindahan, keunikan/kekhasan, kerumitan

Tayang:
Editor: Hari Susmayanti
Istimewa
Dosen UAJY Y. Argo Twikromo 

Keberadaan warisan budaya benda (WBB) dan warisan budaya takbenda (WBTb) yang terkandung di dalamnya sering kali kurang terkoneksi secara padu serasi.  

Ketika keberadaan struktur bangunan fisik kurang terajut dengan kandungan nilai budaya, sejarah, arsitektur, maupun sosial sebagai satu kesatuan ekosistem dalam arsitektur heritage, maka para wisatawan relatif hanya diberi sajian keindahan, keunikan/kekhasan, kerumitan, maupun kelangkaan struktur bangunan fisik saja.

Bangunan kolonial, tradisional, maupun monumen bersejarah diharapkan dapat memberikan pengalaman otentik bagi para wisatawan, namun kurang lengkap apabila struktur bangunan fisik tersebut kurang terajut erat dengan cerita, nilai dan makna, dinamika kehidupan, maupun sejarah yang terkandung di dalamnya.

Sekedar penggalan contoh dapat dikemukakan adalah eksploitasi bagi kepentingan kolonial Belanda di Indonesia tercermin secara fisik dan fungsional melalui struktur bangunan kolonial; integrasikan kearifan lokal yang menekankan keseimbangan, harmoni, dan penghormatan, baik kepada Sang Sumber Kehidupan, alam, maupun sesama manusia melekat pada struktur bangunan tradisional; berbagai nilai-nilai lokal dan kearifan yang merepresentasikan identitas, sejarah, serta budaya masyarakat setempat terkandung dalam monumen bersejarah; dan lain sebagainya.  

Selain memberikan sajian sesuai dengan keinginan para wisatawan, para pengelola arsitektur heritage juga perlu menyajikan kandungan yang melekat pada struktur bangunan fisik sesuai konteks lokal agar menjadi lebih menarik.

Payung keselarasan sebagai karakter harmonis para leluhur bangsa telah diwariskan secara turun temurun melalui berbagai praktik kehidupan maupun struktur bangunan fisik tradisional maupun beberapa monumen bersejarah.  

Struktur bangunan kolonial perlu diinterpretasikan ulang terkait kandungan payung keselarasan, perpaduan antara keselarasan dan kepentingan tertentu, atau bahkan bertentangan dengan prinsip keselarasan dalam mewujudkan keharmonisan dan keluhuran kehidupan bersama.  

Kemasan Daya Tarik Arsitektur Heritage: Tak Lekang oleh Waktu 

Ketika payung keselarasan kurang dipahami kandungannya dalam berbagai struktur bangunan tradisional maupun beberapa monumen, maka arsitektur heritage relatif hanya terbingkai dalam keindahan, keunikan/kekhasan, kerumitan, maupun kelangkaan struktur bangunan fisik saja sebagai daya tarik wisata.

Bingkai semacam ini sering kali kurang berpijak pada kandungan nilai budaya, sejarah, arsitektur, atau sosial dalam struktur bangunan arsitektur heritage, dan barangkali justru relatif berseberangan dengan kandungan struktur bangunan tersebut.

Kemasan nilai budaya, sejarah, arsitektur, atau sosial yang terkandung dalam struktur bangunan tersebut dapat menjadi daya tarik wisata yang relatif khas.

Para wisatawan tidak hanya diberi sajian keindahan, keunikan/kekhasan, kerumitan, maupun kelangkaan struktur bangunan fisik saja, tetapi juga kandungan nilai budaya, sejarah, arsitektur, atau sosial dalam struktur bangunan arsitektur heritage.

Sajian terkait kandungan konteks struktur bangunan fisik tersebut akan memberikan nilai tambah pada para wisatawan.

Keterpaduan dalam penyajian fisik (benda) maupun non fisik (tak benda) dengan koridor keselarasan secara padu serasi dapat menjadi daya tarik wisata berkelanjutan.

Para wisatawan dapat memperoleh sajian yang relatif khas dan dapat terhindar dari titik jenuh.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved