Sembuh atau Berdamai? Normalitas Baru dalam Hidup Bersama Penyakit
Tidak semua penyakit datang untuk pergi. Sebagian menetap, diam, dan menuntut kita hidup bersama mereka.
Oleh
Dr. Haryo Dimasto Kristiyanto, S.S., M.Sc
Staf Dosen Fakultas Kedokteran UKDW
Kepala Pusat Studi Penyakit Tropis dan Infeksi
Sembuh, dalam pemahaman umum berarti kembali seperti semula, penyakit hilang, tubuh pulih, dan kehidupan berjalan normal.
Namun, di era penyakit kronik, definisi ini semakin sulit dipertahankan. Tidak semua penyakit datang untuk pergi. Sebagian menetap, diam, dan menuntut kita hidup bersama mereka.
Pada penyakit infeksi paru seperti tuberkulosis (TB), misalnya, kita masih memegang narasi klasik kedokteran: diagnosis ditegakkan, terapi diberikan, dan setelah 6 bulan pengobatan, pasien dinyatakan sembuh.
Ada titik akhir yang jelas. Ada garis tegas yang memisahkan antara “sakit” dan “sehat”.
Namun pada penyakit kronik seperti infeksi HIV, diabetes melitus (DM), atau hipertensi, garis tersebut memudar.
Penyakit tidak benar-benar hilang. Ia hanya dikendalikan, terkontrol kondisinya.
Pasien tidak “kembali seperti semula”, melainkan memasuki fase baru yaitu hidup dalam pengawasan, dengan obat sebagai pendamping jangka panjang.
Di titik inilah, konsep sembuh membutuhkan redefinisi.Filsuf sekaligus dokter asal Prancis, Georges Canguilhem (1991), pernah menyatakan bahwa “normal” bukanlah kondisi tetap, melainkan kemampuan organisme untuk membentuk norma baru dalam menghadapi perubahan.
Dalam kerangka ini, kesehatan tidak lagi dipahami sebagai ketiadaan gangguan, tetapi sebagai kapasitas adaptasi.
Artinya, seseorang tidak harus kembali ke kondisi awalnya untuk disebut sehat. Ia cukup mampu membangun keseimbangan baru.
Perspektif ini semakin relevan di era modern. Meskipun Organisasi Kesehatan Dunia sejak lama mendefinisikan kesehatan sebagai keadaan sejahtera fisik, mental, dan sosial, sejumlah ahli menilai definisi tersebut tidak lagi memadai menghadapi dominasi penyakit kronik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Sembuh-atau-Berdamai-Normalitas-Baru-dalam-Hidup-Bersama-Penyakit.jpg)