Moralitas dan Keadilan dalam Perang
Perang telah berlagsung sekitar 7 minggu (sejak akhir Februari 2026), menelan ribuan korban, dan berdampak global
Sebagaimana diketahui bahwa PBB didirikan dengan maksud/tujuan untuk menegakkan keadilan dan memelihara perdamaian pada skala global, bagi semua negara.
Peran PBB ini sangat penting, dan wajib dilakukan secara proaktif, equal, tanpa diskriminasi. Semua negara (anggota) wajib mendukung dan menghormati peran itu.
Sisi lain (dan ini kelemahannya) PBB adalah“lembek”.
Kelemahan ini terkait beberapa sebab: (1) secara sistem, tidak memiliki daya paksa, kecuali sekadar himbauan untuk ceasefire; (2) Kalau ada negara merasa dirugikan karena/oleh resolusi PBB, pasti akan diveto oleh negara anggota tetap (AS, Rusia, China, Inggris, Prancis). Dalam desain kelembagaan demikian, PBB memang lemah. Siapapun berharap terlalu banyak pada PBB, pasti hanya berbuah kekecewaan.
Etika/moral dalam perang mungkin terdengar seperti kontradiksi, karena perang identik dengan kekerasan/kebrutalan.
Telah banyak bukti, kehidupan tanpa batasan etika/moral, rentan berubah menjadi kebrutalan tak kendali.Etika/moral dalam perang bukan untuk “membenarkan” atau “menyalahkan” siapapun terlibat perang, melainkan sebagai panduan dan sinar-terang bagi penduduk bumi, agar dambaan keadilan global dapat terwujud.
Wallahu’alam.
| Negosiasi AS-Iran Gagal, Tema Nuklir dan Selat Hormuz Jadi Persoalan Utama |
|
|---|
| Gencatan Senjata Iran-AS Terancam Bubar di Tengah Jalan, Ini Pemicunya |
|
|---|
| Iran Klaim Menang Perang, Mojtaba Khamenei: Kami Tidak Cari Perang, Tapi Siap Sampai Mati |
|
|---|
| Babak Baru Konflik Iran vs AS dan Israel, Sepakat Gencatan Senjata Setelah 39 Hari Berperang |
|
|---|
| Militer AS Bakal Segera Tinggalkan Iran, Trump Klaim Tujuan Serangan Militer Sudah Tercapai |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Iran-Kembali-Bombardir-Israel-Kali-Ini-Pakai-Rudal-Sejjil.jpg)