Konflik Global, Teknologi Canggih, dan Masa Depan SDM Indonesia

Perang saat ini tidak lagi didominasi oleh pergerakan manusia atau tentara, tetapi semakin ditentukan oleh penguasaan teknologi canggih. 

Tayang:
Editor: Hari Susmayanti
Dok.Istimewa
Direktorat Business Placement Center ( BPC ) dan Alumni Universitas Amikom Yogyakarta, Kusnawi, S.Kom, M.Eng 

Kebijakan publik perlu menempatkan literasi teknologi dan literasi informasi sebagai fondasi pembangunan manusia.

Masyarakat harus dibekali kemampuan mengenali disinformasi dan memahami konteks global agar tidak mudah terprovokasi oleh narasi konflik berbasis digital. 

Di sisi birokrasi, aparatur negara perlu memiliki pemahaman tentang manajemen krisis informasi, keamanan data, serta komunikasi publik yang cepat, akurat, dan terpercaya.

Penguatan talenta siber juga menjadi kebutuhan mendesak, Indonesia membutuhkan SDM yang tidak hanya mengantongi sertifikat keahlian, tetapi juga terlatih menghadapi insiden nyata. 

Demikian pula dengan AI, yang di satu sisi meningkatkan efisiensi dan keamanan, tetapi di sisi lain berpotensi disalahgunakan untuk manipulasi informasi dan serangan otomatis.

Penguasaan AI harus berjalan seiring dengan etika, tata kelola data, dan kesadaran risikonya.

Di tengah tantangan global berbasis teknologi yang semakin kompleks, pembangunan SDM di Indonesia masih cenderung terjebak pada pendekatan jangka pendek dan simbolik. 

Program pemenuhan kebutuhan dasar seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) memang penting sebagai fondasi kesejahteraan, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya wajah kebijakan SDM nasional. 

Perlu perhatian kesejahteraan dan peluang beasiswa untuk para pejuang Guru atau Dosen dan pendidik sebagai pasukan utama untuk mencerdaskan anak bangsa.  

Tantangan strategis ke depan justru terletak pada kesiapan talenta digital, keamanan siber, literasi informasi, dan penguasaan teknologi. 

Pemerintah perlu memberikan porsi dengan orientasi kebijakan dari sekadar pemenuhan kebutuhan makan menuju pembangunan kapasitas intelektual dan kompetensi strategis.

Pada akhirnya, eskalasi konflik berbasis teknologi di berbagai belahan dunia menjadi pengingat bahwa masa depan keamanan dan kedaulatan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas manusianya.

Investasi pada SDM yang melek teknologi, kritis, adaptif, dan beretika bukan sekadar pilihan kebijakan, melainkan keharusan strategis agar Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi juga berdaulat di tengah dunia yang semakin tidak pasti. 

Dalam konteks ini, peran perguruan tinggi menjadi sangat penting, salah satunya Universitas Amikom Yogyakarta yang secara konsisten mendorong pengembangan talenta digital, kreativitas, dan inovasi teknologi sebagai bagian dari kontribusi nyata dalam menyiapkan SDM unggul untuk masa depan bangsa.@mynameiskhus.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved