Konflik Global, Teknologi Canggih, dan Masa Depan SDM Indonesia

Perang saat ini tidak lagi didominasi oleh pergerakan manusia atau tentara, tetapi semakin ditentukan oleh penguasaan teknologi canggih. 

Editor: Hari Susmayanti
Dok.Istimewa
Direktorat Business Placement Center ( BPC ) dan Alumni Universitas Amikom Yogyakarta, Kusnawi, S.Kom, M.Eng 

Oleh

Kusnawi, S.Kom, M.Eng

Direktorat Business Placement Center ( BPC ) dan Alumni Universitas Amikom Yogyakarta

Ketegangan dunia terkait dengan peperangan yang sedang dan akan terjadi saat ini menunjukkan bahwa wajah konflik global telah berubah orentasi dan caranya. 

Perang saat ini tidak lagi didominasi oleh pergerakan manusia atau tentara, tetapi semakin ditentukan oleh penguasaan teknologi canggih. 

Drone bersenjata, serangan siber, artificial intelligence atau kecerdasan buatan, pengendalian informasi, hingga kasus terkait pembatasan akses internet menjadi bagian dari strategi konflik. 

Fenomena ini memberi pesan penting termasuk Indonesia, bahwa dampak konflik global dapat merembet jauh melalui jalur non militer yaitu penguasaan teknologi canggih.

Serangan siber menjadi senjata  yang mampu melumpuhkan sistem pemerintahan, layanan publik, hingga infrastruktur energi dan sangat memungkinkan sistem keuangan. 

Ini jelas medan perang saat ini telah bergeser ke ruang digital dan sistem informasi yang saling terhubung lintas negara.

Aspek lain yang semakin yang sangat mengerikan adalah perang informasi. Manipulasi media sosial, penyebaran disinformasi, serta pembatasan akses komunikasi menjadi alat untuk membentuk opini publik dan menciptakan instabilitas sosial. 

Baca juga: 78 Mahasiswa Amikom Yogyakarta Penerima Program Sleman Pintar Diwisuda 

Contoh yang hangat saat ini adalah konflik Iran dan AS menunjukkan bahwa penguasaan arus informasi menjadi kekuatan untuk perang opini dan narasi. 

Dalam dunia yang terhubung secara digital, narasi konflik dapat dengan cepat melampaui batas negara dan memengaruhi stabilitas suatu negara.

Bagi Indonesia, kemampuan dan kesiapan sumber daya manusia  menjadi tantangan. 

Tantangan terbesar ke depan adalah bagaimana menyiapkan sumber daya manusia yang mampu memahami, mengelola, dan merespons risiko berbasis teknologi.

Ketahanan nasional tidak lagi hanya bertumpu pada kekuatan fisik atau sumber daya alam, tetapi pada kapasitas manusia dalam menguasai teknologi, berpikir kritis, dan beradaptasi dengan perubahan cepat.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved