Penjelasan Mengapa Hubungan Pasangan Anxious–Avoidant Sering Rumit

Orang dengan anxious attachment cepat merasa cemas ketika pasangan menjauh, sebaliknya, pemilik avoidant attachment cenderung menarik diri.

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
Tribun Jogja
ILUSTRASI: Di media sosial, topik soal hubungan avoidant dan anxious attachment kembali ramai dibicarakan. Banyak yang bertanya-tanya kenapa dua tipe ini sering bentrok dalam hubungan. 

Ringkasan Berita:
  • Tipe anxious ingin cepat menyelesaikan masalah dan memastikan hubungan aman. Sementara avoidant butuh ruang untuk menenangkan diri agar tidak merasa tertekan.
  • Saat avoidant menarik diri, anxious justru makin mengejar, mencari kepastian, dan takut ditinggalkan. Ini bikin avoidant makin ingin menjauh.
  • Beberapa penelitian soal attachment menunjukkan bahwa pola tarik-ulur ini bisa terulang tanpa disadari dan membuat hubungan terasa melelahkan bagi dua-duanya.

TRIBUNJOGJA - Di media sosial, topik soal hubungan avoidant dan anxious attachment kembali ramai dibicarakan.

Banyak yang bertanya-tanya kenapa dua tipe ini sering bentrok dalam hubungan. Ini sebenarnya berkaitan dengan gaya keterikatan atau attachment styles yang dimiliki seseorang.

Orang dengan anxious attachment cenderung melekat, membutuhkan kepastian, dan cepat merasa cemas ketika pasangan menjauh.

Sebaliknya, pemilik avoidant attachment justru merasa tidak nyaman dengan kedekatan yang terlalu intens sehingga sering menarik diri.

Perbedaan kebutuhan inilah yang membuat kombinasi anxious–avoidant terlihat rumit. Namun, apakah benar keduanya tidak cocok? Tidak selalu.

Baca juga: Diskon Tiket KAI 20 Persen di Promo 12.12, Cek Cara Klaim dan Syaratnya

Tapi.. Kenapa Banyak Dramanya?

Kombinasi ini sering disebut sebagai “the anxious–avoidant trap”. 

Istilah yang dikenal luas melalui buku Attached karya Amir Levine & Rachel Heller. Intinya, ada pola tarik-ulurnya:

1. Anxious butuh dekat →  Avoidant merasa kewalahan

Tipe anxious ingin cepat menyelesaikan masalah dan memastikan hubungan aman.
Sementara avoidant butuh ruang untuk menenangkan diri agar tidak merasa tertekan.

2. Avoidant menjauh → Anxious makin panik

Saat avoidant menarik diri, anxious justru makin mengejar, mencari kepastian, dan takut ditinggalkan.

Ini bikin avoidant makin ingin menjauh.

3. Siklusnya bisa terjadi berulang-ulang

Beberapa penelitian soal attachment menunjukkan bahwa pola tarik-ulur ini bisa terulang tanpa disadari dan membuat hubungan terasa melelahkan bagi dua-duanya.

Apakah Avoidant - Anxious Sama Sekali Tidak Cocok?

Belum tentu. Hubungan ini bukan mustahil, hanya lebih menantang.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved