UGM Angkat Bicara Soal Spanduk Permohonan Maaf yang Mencatut Kampus
UGM angkat bicara soal pemasangan spanduk permohonan maaf raksasa yang mengatasnamakan institusi.
Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Joko Widiyarso
Pemasangan spanduk tersebut pun sempat menjadi perhatian pengguna jalan.
Beberapa pengguna jalan berhenti sejenak, membaca tulisan, serta mengabadikan spanduk tersebut.
Namun, sekitar pukul 09.27 spanduk tersebut mulai diturunkan oleh beberapa petugas Pusat Keamanan Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (PK4L) UGM.
Selain mencopot spanduk, petugas juga menurunkan bendera Merah Putih yang semula dikibarkan setengah tiang.
Sekitar pukul 09.32 area Bundaran UGM sudah bersih.
Tribun Jogja sudah berupaya menghubungi pihak UGM, namun hingga saat ini belum ada tanggapan resmi dari pihak kampus.
Apa kata BEM UGM?
Sementara itu, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM) mendukung pemasangan spanduk permohonan maaf raksasa di Bundaran UGM, Kamis (21/5/2026) pagi.
Plt. Ketua BEM UGM 2026, Sheron Adam Funay mengatakan spanduk tersebut tidak dipasang oleh BEM UGM, namun oleh akar rumput UGM.
Kendati demikian, BEM UGM turut mendukung aksi yang dilakukan oleh mahasiswa UGM.
"Jadi spanduk permohonan maaf tersebut bukan dipasang oleh BEM (UGM), melainkan oleh teman-teman akar rumput UGM. BEM hanya ikut meramaikan yang pada dasarnya jadi keresahan kami bersama. Tentu kami ikut mendukung apapun aksi yang didasari keresahan bersama, terutama keresahan mahasiswa UGM," katanya saat dihubungi, Kamis (21/5/2026).
Menurut dia, sebagai ruang hidup akademis, UGM mestinya memberikan ruang untuk berekspresi bagi mahasiswa.
Sebab, kegelisahan para mahasiswa lahir dari kondisi negara yang akhir-akhir ini semakin tidak pasti.
Ia juga menyoroti soal menurunnya tingkat kepercayaan publik bahkan investor.
Kondisi ekonomi saat ini pun semakin tidak pasti, dan berdampak langsung bagi mahasiswa serta masyarakat secara luas.
"Kampus sebagai ruang hidup kaum akademis selayaknya dan sepantasnya dibebaskan dalam berekspresi. Sebatas itu saja sikap kampus yang teman-teman BEM harapkan, karena kegelisahan teman-teman tidak berasal dari ruang kosong. Walaupun kami tentu mengharapkan kampus memiliki stance (sikap) yang lebih radikal terhadap pemerintah," terangnya.
Spanduk tersebut dicopot oleh petugas sekitar pukul 09.27. Menanggapi hal tersebut, Sheron menyebut spanduk sudah menjalankan fungsinya sebagai simbol.
"Yang utama adalah amplifikasi gerakan ini. Spanduk bisa saja dibakar, diturunkan, tapi semangat bergerak itu jadi point utamanya," imbuhnya.
| Spanduk Surat Permohonan Maaf Mengatasnamakan UGM Terbentang di Bundaran UGM |
|
|---|
| Agar Tidak Menekan Kelas Menengah dan Miskin, Akademisi UGM Desak Pemerintah Terapkan Pajak Kekayaan |
|
|---|
| Kata Peneliti SOREC UGM soal Fenomena Kekerasan Pelajar di DIY |
|
|---|
| Jurusan Teknik UGM Tak Ganti Nama Jadi Rekayasa, Dekan FT UGM: Belum Penting |
|
|---|
| Rumah Peninggalan Prof dr.Sardjito Ditawarkan ke UGM, Begini Respons Kampus |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Spanduk-Surat-Permohonan-Maaf-Mengatasnamakan-UGM-Terbentang-di-Bundaran-UGM.jpg)