UGM Angkat Bicara Soal Spanduk Permohonan Maaf yang Mencatut Kampus
UGM angkat bicara soal pemasangan spanduk permohonan maaf raksasa yang mengatasnamakan institusi.
Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Joko Widiyarso
Ringkasan Berita:
- UGM angkat bicara soal pemasangan spanduk permohonan maaf raksasa yang mengatasnamakan institusi.
- Seperti diektahui, spanduk berlatar putih tersebut diapit oleh bendera Merah Putih yang dikibarkan setengah tiang.
- Mengatasnamakan UGM, spanduk tersebut berisi soal permohonan maaf karena membiarkan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI 2024-2029.
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Univeritas Gadjah Mada (UGM) angkat bicara soal pemasangan spanduk permohonan maaf raksasa yang mengatasnamakan institusi.
Spanduk berlatar putih tersebut diapit oleh bendera Merah Putih yang dikibarkan setengah tiang.
Kalimat "SURAT PERMOHONAN MAAF" menjadi yang paling besar. Mengatasnamakan UGM, spanduk tersebut berisi soal permohonan maaf karena membiarkan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI 2024-2029.
Dalam spanduk itu juga dituliskan bahwa Surat Permohonan Maaf tersebut merupakan bentuk penyesalan karena berkuasanya sosok-sosok tidak kompenten, nestapa politik, dan carut-marutnya ekonomi dalam negeri.
Bobroknya kepemimpinan nasional dipandang sebagai jalan pintas kehancuran bangsa.
Juru Bicara UGM, I Made Andi Arsana membenarkan adanya spanduk raksasa yang terpasang di Bundaran UGM.
Pada prinsipnya, UGM menghormati dan melindungi kekebasan berekspresi serta penyampaian aspirasi oleh setiap warga bangsa.
"UGM membenarkan bahwa ada baliho yang terpasang di gerbang masuk kampus pada pagi hari ini. UGM pada prinsipnya menghormati dan melindungi kebebasan berekspresi dan penyampaian aspirasi oleh setiap warga bangsa," katanya melalui keterangan tertulis, Kamis (21/5/2026).
Ia melanjutkan meski mengatasnamakan UGM, spanduk tersebut tidak dipasang oleh UGM. Isi dari spanduk permohonan maaf tersebut juga tidak mewakili pandangan resmi UGM.
"Dengan demikian, baliho tersebut mencatut identitas UGM dan tidak memenuhi ketentuan yang berlaku," lanjutnya.
Made menambahkan penyampaian aspirasi tetap perlu memperhatikan tata kelola, aturan penggunaan ruang kampus, serta tanggung jawab yang jelas dari pihak pemasang.
"Memperhatikan hal ini, baliho tersebut telah diturunkan karena lokasi pemasangan tidak sesuai dengan peruntukan pemasangan media informasi di area kampus," jelasnya.
Spanduk telah dicopot
Dari pengamatan Tribun Jogja, spanduk tersebut terbentang sekitar pukul 07.30.
Diduga, spanduk tersebut dipasang oleh mahasiswa.
| Spanduk Surat Permohonan Maaf Mengatasnamakan UGM Terbentang di Bundaran UGM |
|
|---|
| Agar Tidak Menekan Kelas Menengah dan Miskin, Akademisi UGM Desak Pemerintah Terapkan Pajak Kekayaan |
|
|---|
| Kata Peneliti SOREC UGM soal Fenomena Kekerasan Pelajar di DIY |
|
|---|
| Jurusan Teknik UGM Tak Ganti Nama Jadi Rekayasa, Dekan FT UGM: Belum Penting |
|
|---|
| Rumah Peninggalan Prof dr.Sardjito Ditawarkan ke UGM, Begini Respons Kampus |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Spanduk-Surat-Permohonan-Maaf-Mengatasnamakan-UGM-Terbentang-di-Bundaran-UGM.jpg)