Dari Solar ke Setrum: Benarkah Bus Listrik Lebih Hemat dan Rendah Emisi?

Secara sederhana, bus listrik bekerja jauh lebih efisien dibandingkan bus berbahan bakar solar.

Tayang:
Editor: Hari Susmayanti
Istimewa
Dosen Program Studi Teknik Sipil, Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik, Universitas Atma Jaya Yogyakarta Imam Basuki 

Untuk satu unit bus listrik berkapasitas 250 kWh baterai, waktu pengisian cepat bisa mencapai 1–1,5 jam, sementara pengisian normal bisa memakan waktu 4–5 jam.

Kebutuhan daya listrik tinggi juga memerlukan penguatan jaringan distribusi PLN, terutama di terminal atau depo bus.

Selain itu, umur baterai bus listrik yang rata-rata 6–8 tahun menimbulkan pertanyaan lanjutan soal daur ulang limbah baterai (battery recycling) dan siklus penggantian komponen.

Inilah mengapa elektrifikasi transportasi bukan hanya proyek teknis, tetapi juga persoalan manajemen lingkungan dan kebijakan industri.

Yogyakarta dapat mengambil langkah strategis dengan pembangunan depo hijau, yakni depo yang dilengkapi panel surya atap (rooftop PV), sistem pengisian pintar (smart charging), dan manajemen energi berbasis digital.

Dengan demikian, sebagian kebutuhan listrik bus dapat dipasok langsung dari sumber terbarukan lokal.

Transportasi Listrik dan Budaya Mobilitas Baru

Transisi menuju transportasi hijau bukan sekadar mengganti mesin, tetapi mengubah cara berpikir masyarakat tentang mobilitas.

Bus listrik akan sulit berkembang jika masyarakat tetap memandang kendaraan pribadi sebagai simbol kenyamanan utama.

Untuk itu, perlu strategi komunikasi publik yang menumbuhkan kebanggaan menggunakan transportasi publik bersih.

Kampanye seperti “Naik Bus Listrik, Selamatkan Kota” atau “Setrum untuk Masa Depan Bersih” bisa menjadi gerakan kultural yang melibatkan sekolah, komunitas, dan kampus.

Dengan cara itu, elektrifikasi transportasi tidak berhenti pada teknologi, tetapi berkembang menjadi gerakan sosial dan ekologis.

Benarkah Bus Listrik Lebih Hemat dan Rendah Emisi?

Berdasarkan hasil penelitian dan data lapangan, jawabannya ya—dengan syarat yang jelas.

Bus listrik terbukti lebih efisien secara energi, menekan biaya operasional, dan menurunkan emisi secara signifikan dibandingkan bus diesel.

Namun keunggulan ini hanya akan optimal jika didukung oleh sistem kelistrikan yang semakin bersih, infrastruktur yang andal, serta kebijakan publik yang konsisten dan berpihak pada inovasi hijau.

Langkah Trans Jogja mengoperasikan bus listrik patut diapresiasi sebagai fondasi awal transformasi transportasi perkotaan.

Meski belum sepenuhnya bebas emisi secara sistem, inisiatif ini telah menggeser paradigma pembangunan—dari sekadar menyediakan layanan angkutan, menjadi instrumen kebijakan energi dan lingkungan.

Ke depan, tantangan terbesar ada pada keberanian pemerintah—baik pusat maupun daerah—untuk menyelaraskan kebijakan transportasi, energi, dan fiskal.

Insentif listrik hijau, skema pembiayaan armada, serta perencanaan infrastruktur pengisian daya harus ditempatkan sebagai investasi jangka panjang, bukan beban anggaran.

Bahkan, jika dikelola dengan tepat, elektrifikasi transportasi publik berpotensi memperkuat Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui efisiensi subsidi operasional, peningkatan kualitas layanan, dan tumbuhnya ekosistem industri pendukung berbasis energi bersih.

Karena pada akhirnya, bus listrik bukan sekadar kendaraan. Ia adalah alat kebijakan untuk menata ulang mobilitas kota, memperbaiki kualitas udara, dan mengarahkan pembangunan menuju ekonomi rendah karbon.

Ketika langkah awal ini diperluas secara konsisten dan inklusif, kita tidak hanya menghemat energi—kita sedang menyetrum masa depan menuju Indonesia Net Zero Emission 2060.(*)

 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved