Dari Solar ke Setrum: Benarkah Bus Listrik Lebih Hemat dan Rendah Emisi?

Secara sederhana, bus listrik bekerja jauh lebih efisien dibandingkan bus berbahan bakar solar.

Editor: Hari Susmayanti
Istimewa
Dosen Program Studi Teknik Sipil, Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik, Universitas Atma Jaya Yogyakarta Imam Basuki 

Oleh: Imam Basuki

Dosen Program Studi Teknik Sipil, Departemen Teknik Sipil

Fakultas Teknik, Universitas Atma Jaya Yogyakarta

 
Ketika bus listrik Trans Jogja melaju nyaris tanpa suara dari Terminal Jombor, menyusuri koridor Jalan Magelang hingga jantung kota Malioboro, banyak warga tidak sadar bahwa mereka sedang menyaksikan babak baru dalam sejarah transportasi Yogyakarta.

Tak ada kepulan asap dari knalpot, tak terdengar dengung mesin diesel. Hanya suara lembut roda yang berputar di atas aspal, melintas dari halte ke halte di tengah denyut aktivitas kota.

Bus Listrik, dengan daya baterai penuh setrum, tengah diuji bukan sekadar untuk kenyamanan penumpang, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan panjang Indonesia menuju Net Zero Emission 2060.

Namun di balik euforia “kendaraan hijau”, pertanyaan mendasar tetap menggantung di benak publik: benarkah bus listrik benar-benar lebih hemat dan rendah emisi dibandingkan bus diesel?

Jawaban atas pertanyaan ini tidak sesederhana “ya” atau “tidak”. Ia memerlukan pemahaman menyeluruh antara efisiensi teknis, sumber energi, dan konteks kebijakan nasional.

Efisiensi Operasional: Hemat di Jalur, Mahal di Garasi

Secara sederhana, bus listrik bekerja jauh lebih efisien dibandingkan bus berbahan bakar solar.

Energi listrik yang masuk ke motor hampir seluruhnya langsung diubah menjadi tenaga penggerak roda. Berbeda dengan mesin diesel yang banyak “kehilangan tenaga” dalam bentuk panas dan suara, bus listrik hanya membutuhkan energi lebih sedikit untuk menempuh jarak yang sama.

Berdasarkan perhitungan konsumsi energi dan tarif listrik yang berlaku, biaya energi operasional bus listrik Trans Jogja berada di kisaran Rp. 2.200–Rp. 2.500 per kilometer.

Angka ini lebih rendah dibandingkan bus diesel yang, dengan konsumsi rata-rata sekitar 3 kilometer per liter solar, memerlukan biaya bahan bakar sekitar Rp. 3.500–Rp. 4.000 per kilometer.

Selain bahan bakar, biaya perawatan bus listrik juga lebih rendah karena tidak memerlukan pelumas mesin, sistem radiator, atau penggantian filter udara dan oli secara rutin.

Estimasi penghematan pemeliharaan mencapai 25–30 persen dari total biaya tahunan dibandingkan bus diesel.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved