Dari Solar ke Setrum: Benarkah Bus Listrik Lebih Hemat dan Rendah Emisi?

Secara sederhana, bus listrik bekerja jauh lebih efisien dibandingkan bus berbahan bakar solar.

Tayang:
Editor: Hari Susmayanti
Istimewa
Dosen Program Studi Teknik Sipil, Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik, Universitas Atma Jaya Yogyakarta Imam Basuki 

Bus listrik menjadi simbol dari pergeseran paradigma ini, dari kendaraan berbasis bahan bakar fosil menuju sistem mobilitas rendah karbon.

Namun, keberhasilan program ini tidak hanya tergantung pada teknologi kendaraan, melainkan juga pada sumber energi yang menggerakkannya.

Selama listrik Indonesia masih didominasi batu bara, maka elektrifikasi transportasi belum sepenuhnya hijau. Oleh karena itu, kebijakan pengembangan energi terbarukan (EBT) menjadi kunci.

Jika porsi listrik rendah emisi meningkat signifikan—misalnya mendekati 40–45 persen pada 2030—maka intensitas emisi listrik nasional bisa turun drastis (secara sederhana, bisa mendekati separuh dari kondisi sekarang).

Dampaknya langsung: emisi tidak langsung bus listrik per kilometer juga ikut turun sebanding. Dengan kata lain, semakin bersih listrik kita, semakin hijau pula bus listrik kita.

Dengan kata lain, semakin bersih listrik kita, semakin hijau pula bus listrik kita.

Yogyakarta sebagai Laboratorium Mobilitas Rendah Emisi

Yogyakarta memiliki keunikan tersendiri dalam peta transportasi nasional. Kota ini tidak terlalu luas, intensitas perjalanan tinggi, dan masyarakatnya mulai terbiasa menggunakan transportasi publik seperti Trans Jogja.

Kondisi ini menjadikan Yogyakarta ideal sebagai “living laboratory” bagi pengembangan sistem transportasi berkelanjutan berbasis elektrifikasi.

Sejumlah langkah awal telah dilakukan. Trans Jogja mulai mengoperasikan bus listrik melalui kerja sama pemerintah daerah dengan Kementerian Perhubungan serta dukungan pihak swasta.

Namun, agar keberlanjutan benar-benar tercapai, diperlukan integrasi lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, dunia akademik, operator transportasi, hingga penyedia energi.

Perguruan tinggi di Yogyakarta, termasuk Universitas Atma Jaya Yogyakarta, dapat berkontribusi melalui riset dan kajian kebijakan berbasis data.

Analisis empiris seperti perbandingan Total Cost of Ownership (TCO) dan emisi tidak langsung (indirect emission) penting untuk membantu pemerintah merumuskan skema tarif, insentif, serta perencanaan infrastruktur energi yang lebih tepat dan berkelanjutan.

Infrastruktur Energi: Tantangan yang Tidak Boleh Diabaikan

Salah satu kendala besar elektrifikasi transportasi adalah kesiapan infrastruktur pengisian daya (charging station).

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved