Dari Solar ke Setrum: Benarkah Bus Listrik Lebih Hemat dan Rendah Emisi?
Secara sederhana, bus listrik bekerja jauh lebih efisien dibandingkan bus berbahan bakar solar.
Namun, efisiensi ini baru terasa dalam jangka panjang. Harga investasi awal bus listrik masih tinggi, bisa dua sampai tiga kali lipat lebih dari harga bus diesel, belum termasuk biaya pembangunan charging station dan instalasi jaringan listrik daya tinggi.
Jadi, kalau diibaratkan, bus listrik memang “hemat di jalan”, tetapi tetap “mahal di garasi”.
Agar investasi itu berbuah efisien, armada harus beroperasi dengan tingkat utilisasi tinggi, manajemen energi terencana, dan dukungan insentif pemerintah.
Baca juga: FK UAJY Bersama Gereja Babarsari dan Polda DIY Gelar Bakti Sosial Kesehatan
Dari Solar ke Setrum: Jejak Emisi yang Berbeda
Keunggulan paling menonjol bus listrik tentu pada sisi lingkungan. Tidak ada asap, tidak ada karbon yang keluar dari knalpot.
Namun kenyataan ilmiahnya tidak sesederhana itu. Bus listrik memang bebas emisi langsung (zero tailpipe emission), tetapi bukan berarti bebas dari emisi tidak langsung (indirect emission) yang dihasilkan dari proses pembangkitan listrik.
Menurut Kementerian ESDM (2024), setiap 1 kWh listrik yang dihasilkan di Indonesia rata-rata melepaskan 0,82 kilogram CO₂, karena lebih dari 60 persen listrik nasional masih berasal dari PLTU batu bara.
Bus listrik Trans Jogja, berdasarkan data pengujian di Yogyakarta, memerlukan 1,2–1,4 kWh energi listrik per kilometer perjalanan. Dengan demikian, emisi tidak langsungnya berkisar antara 0,98–1,15 kg CO₂ per km.
Bandingkan dengan bus diesel yang rata-rata menempuh 3 km per liter solar, di mana setiap liter solar menghasilkan sekitar 2,68 kg CO₂.
Artinya, bus diesel memancarkan 0,89 kg CO₂ per km hanya dari pembakaran bahan bakar—belum termasuk emisi proses produksi dan distribusi BBM.
Selama beroperasi di jalan, bus listrik tidak menghasilkan emisi sama sekali. Namun jika dihitung secara total dari proses pembangkitan listriknya, emisi bus listrik saat ini masih bisa setara, bahkan pada kondisi tertentu lebih tinggi dibandingkan bus diesel.
Inilah sebabnya elektrifikasi transportasi harus berjalan seiring dengan transisi energi bersih menuju target Net Zero Emission 2060.
Jika listrik dihasilkan dari pembangkit tenaga surya, air, atau biomassa, maka emisi bus listrik bisa turun hingga di bawah 0,2 kg CO₂ per km, mendekati “nol emisi”.
Menuju Nol Emisi 2060: Jalan Panjang yang Dimulai dari Kota
Pemerintah Indonesia telah menetapkan target Net Zero Emission pada 2060. Salah satu fokus utamanya adalah sektor transportasi, yang selama ini menyumbang hampir seperempat emisi dari sektor energi nasional dan didominasi oleh penggunaan bahan bakar fosil.
| Menuju Malioboro Bebas Kendaraan Bermotor November 2026, Ini Tantangan Besar Dishub Kota Yogyakarta |
|
|---|
| Gelar Job Fair 2026, UAJY Jembatani Alumni dan Mahasiswa Masuk ke Dunia Kerja |
|
|---|
| UAJY Tegaskan Komitmen Integritas dan Telusuri Afiliasi Kampus di Konferensi |
|
|---|
| BEM FISIP UAJY Gelar Nonton Bareng dan Diskusi Film Pesta Babi |
|
|---|
| Inovasi Hair Mist Ekstrak Parijoto, Tim Mahasiswa FTb dan FBE UAJY Raih Pendanaan PKM-K |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Dari-Solar-ke-Setrum-Benarkah-Bus-Listrik-Lebih-Hemat-dan-Rendah-Emisi.jpg)