Misteri Api di Rumah Warga Sleman

99 Titik Api Muncul dalam 13 Hari di Rumah Warga Seyegan Sleman

Tim ahli lintas sektor membahas kondisi, hasil pengamatan, dan upaya penanganan teror api di rumah Agus Yani di Seyegan.

Tayang:
Penulis: Singgih Wahyu N | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/Ahmad Syarifudin
API LAGI: Titik api yang muncul di rumah Agusyani di Seyegan Sleman pada Kamis (4/6/2026). 

Menggunakan sensor keselamatan kerja (safety tool), BPPTKG memperluas investigasi pada aspek pemantik api atau segitiga api yang memicu terbakarnya akumulasi gas bawah tanah di lokasi tersebut.

Ketua Tim Mitigasi Bencana Gunung Merapi BPPTKG, Andika Bayu Aji, mengatakan, berdasarkan hasil pengukuran lapangan, BPPTKG mencatat kadar gas metana (CH4) di dalam rumah masih berada di angka 0 -1 persen.

Titik tertinggi sebesar 4 persen di dekat area pohon bambu luar rumah. 

Angka ini dinilai belum memenuhi syarat ambang batas ledakan metana yang berada di kisaran 5-15 persen.

Untuk memastikan kadar gas hidrogenyang memiliki rentang ambang batas terbakar sangat lebar yakni 4-78 persen, BPPTKG telah mengambil sampel menggunakan tabung khusus untuk dianalisis lebih lanjut di laboratorium. 

Namun, ia menekankan bahwa gas hidrogen tidak dapat menyala sendiri begitu saja karena membutuhkan suhu auto-ignition di atas 500°C. 

Sedangkan, pemantauan kamera thermal udara lewat drone menunjukkan suhu lingkungan di luar dan di dalam rumah tergolong normal, yakni hanya berkisar antara 32-37°C.

"Jadi, kemungkinan pemantiknya bukan karena suhu panas lingkungan, melainkan bisa jadi karena listrik statis," kata dia. 

Dalam kasus ini, BPPTKG menyarankan pengecekan potensi paparan listrik statis kuat di sekitar lokasi dan menindaklanjuti teori keberadaan gas fosfin.

Baca juga: Teror Api di Seyegan Belum Berhenti, Korban Butuh Blower untuk Halau Gas

Kombinasi gas

Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia, Pengda Jawa Timur sekaligus Kandidat Doktor Ilmu Geologi UPN Veteran Yogyakarta, Handoko Teguh Wibowo, menduga rentetan kebakaran ini merupakan kombinasi pembentukan gas dari faktor alami) dan buatan. 

Ia bercerita, berdasarkan pengalamannya selama hampir sepuluh tahun menangani karakteristik gas dangkal bertekanan rendah di Jawa Tengah dan Jawa Timur, fenomena ini murni akibat pergerakan gas alam yang mencari jalan keluar ke permukaan bumi dan bukan fenomena supranatural.

Handoko menjelaskan bahwa gas metana (CH4) dan gas hidrogen (H2) di lokasi tersebut keluar secara bersamaan dari bawah tanah, dibuktikan dengan temuan gelembung gas di bawah Sungai Nepen dekat pemukiman warga. 

Sifat gas hidrogen yang sangat ringan membuatnya bergerak lebih cepat dan bertindak sebagai penjelajah media berpori.         

Hidrogen memiliki reologi khas yang sangat sensitif, gas ini tidak membutuhkan pemantik tinggi dan dapat tersulut secara spontan hanya oleh daya listrik statis dari tubuh manusia atau perangkat elektronik, selama kadar oksigen ruangan berada di rentang 4-72 persen.

"Di luar rentang itu, gas tidak akan menyala," imbuhnya. 

Handoko menawarkan dua langkah untuk menjinakkan "gas liar" di Seyegan agar aman bagi pemukiman warga. 

Yakni dengan pembangunan sumur reservoir dangkal 0-40 meter dan kompresor. 

Gas liar yang merembes di bawah rumah warga disedot menggunakan mesin kompresor untuk dikonsentrasikan ke dalam tangki penampungan khusus. Bisa dimanfaatkan untuk pengganti LPG maupun dibakar (flare) secara aman.

Kedua, langkah teknis berupa reorientasi aliran gas perlu dilakukan. 

Tim melakukan pengeboran ulang yang dikombinasikan dengan proses dewatering atau pengurasan air tanah secara terus-menerus. 

Metode ini bertujuan memaksa tekanan hidrostatik bumi agar orientasi aliran gas bawah tanah kembali terpusat ke satu sumur utama yang terisolasi, sehingga rembesan gas berbahaya tidak menyebar secara ke area fondasi rumah warga. (rif/hdy/maw)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved