Misteri Api di Rumah Warga Sleman

99 Titik Api Muncul dalam 13 Hari di Rumah Warga Seyegan Sleman

Tim ahli lintas sektor membahas kondisi, hasil pengamatan, dan upaya penanganan teror api di rumah Agus Yani di Seyegan.

Tayang:
Penulis: Singgih Wahyu N | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/Ahmad Syarifudin
API LAGI: Titik api yang muncul di rumah Agusyani di Seyegan Sleman pada Kamis (4/6/2026). 

Sarju menjelaskan, pengukuran lapangan menunjukkan kadar hidrogen di dalam ruangan melonjak ekstrem hingga mencapai 40 ppm bahkan hasil pengukuran bisa didapati hingga menyentuh 2.500 ppm pada saluran pipa air. 

Ini jauh melampaui kondisi normal atmosfer yang hanya 5 ppm. 

Tim mendeteksi lonjakan ini terjadi secara spontan di siang hari di tengah kerumunan orang. 

Fakta ini sekaligus menepis anggapan bahwa api hanya muncul saat rumah kosong.
"Jadi, nyuwun sewu ini menepis anggapan bahwa api itu keluarnya nunggu tidak ada orang. Banyak orang gitu ya, siang-siang apinya nyala juga. Nah, pada saat api nyala di kamar itu dan kami melakukan deteksi, terbaca gas hidrogen yang sangat tinggi sampai 40 ppm. Normalnya gas di udara itu hidrogen hanya 5 ppm," kata dia. 

Fermentasi limbah

Tim UGM menyusun hipotesis bahwa gas hidrogen terbentuk dari proses dark fermentation limbah organik pemotongan ayam di belakang rumah yang telah merembes ke bawah lantai selama bertahun-tahun. 

Gas hidrogen yang sangat ringan ini kemudian berasosiasi dengan gas fosfin (PH3), gas yang terbentuk dari material kaya fosfat seperti tulang dan bulu ayam. 

Sifat gas fosfin yang sangat reaktif dan mudah menyala pada suhu kamar bertindak sebagai pemantik utama yang membakar gas hidrogen saat bersentuhan dengan oksigen. 

Untuk memutus rantai segitiga api yakni bahan bakar, panas, dan oksigen serta untuk menjamin keselamatan penghuni rumah, tim ahli UGM mengeluarkan empat rekomendasi. 

Pertama, membuka sirkulasi udara dalam rumah selebar-lebarnya agar gas hidrogen segera terbuang keluar dan tidak mengumpul di dalam ruangan. 

Kedua, penggunaan kipas angin besar atau blower untuk menghalau akumulasi rembesan gas bawah tanah agar tidak mencapai kadar jenuh yang rawan memantik api. 

Ketiga, seluruh perabot rumah tangga yang bersifat mudah terbakar harus dikeluarkan dari dalam rumah karena media tersebut terbukti menjadi tempat terjebaknya gas. 

Keempat, tim UGM membantu melakukan solusi dengan pengeboran tanah di empat titik strategis untuk menyuntikkan cairan basa (air kapur). 

Langkah ini bertujuan menjenuhkan tanah guna menekan dan menonaktifkan aktivitas bakteri Clostridium, yakni mikroorganisme yang bertanggung jawab mengubah limbah organik menjadi gas hidrogen.

"Empat rekomendasi ini sangat terbuka untuk masukan dan diskusi," ujarnya. 

MENYALA - Titik api yang membakar beberapa barang di rumah Agus Yani di Kasuran, Seyegan, Sleman, Rabu (3/6/2026) malam.
MENYALA - Titik api yang membakar beberapa barang di rumah Agus Yani di Kasuran, Seyegan, Sleman, Rabu (3/6/2026) malam. (Tribun Jogja/Hendy Kurniawan)

Pemantik

Tim ahli dari BPPTKG juga turut menerjunkan tim untuk menguji keabsahan hipotesis akademisi terkait teror api misterius di Seyegan, Sleman

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved