Misteri Api di Rumah Warga Sleman

Pandangan Para Ahli soal Penyebab 'Teror' Api di Rumah Warga Seyegan: Temuan Tim UGM, UPN, BPPTKG

Tim UGM, UPN, BPPTKG, BRIN, PUP ESDM DIY menyampaikan hasil observasi soal penyebab fenomena teror api atau kebakaran berulang di Seyegan

Tayang:
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Yoseph Hary W
Tribun Jogja/Ahmad Syarifudin
HASIL OBSERVASI AHLI: Pemerintah Kabupaten Sleman menggandeng tim ahli lintas sektoral dari UGM, UPN, BPPTKG, BRIN, hingga Dinas PUP ESDM Pemda DIY untuk mengemukakan hasil sementara dari observasi terkait penyebab fenomena kebakaran berulang di kediaman Agusyani, Seyegan, yang telah meresahkan hampir dua pekan terakhir. Pertemuan para ahli berlansung Kamis (4/6) di kantor Kapanewon Seyegan. Langkah ini sebagai dasar mitigasi yang akan dilakukan pemerintah ke depan. 
Ringkasan Berita:
  • Tim ahli dari UGM, UPN, BPPTKG, BRIN, dan Pemda DIY memaparkan hasil sementara penyelidikan teror api di Seyegan.
  • UGM menduga kebakaran dipicu akumulasi gas hidrogen dan fosfin dari limbah organik.
  • BPPTKG meneliti kemungkinan pemantik api dari listrik statis atau gas fosfin yang mudah terbakar.
  • UPN menilai fenomena ini terkait pergerakan gas alam bawah tanah yang mencari jalan keluar ke permukaan.
  • Pemkab Sleman berkomitmen jalankan rekomendasi ahli dan pastikan dampingi keluarga korban.

 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Sejumlah tim ahli lintas sektor dari UGM, UPN, BPPTKG, BRIN, hingga Dinas PUP ESDM Pemda DIY berkumpul untuk menyampaikan hasil sementara dari observasi mengenai penyebab fenomena teror api atau kebakaran berulang yang terjadi di kediaman Agusyani, di Dusun Kasuran, Margomulyo, Seyegan, Kabupaten Sleman

Penentu langkah mitigasi darurat

Sinergi lintas ahli ini penting sebab fenomena langka ini belum masuk ke dalam 12 daftar Kajian Risiko Bencana Daerah.

Sinkronisasi hasil data lapangan diperlukan, terutama bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman untuk menentukan langkah mitigasi darurat. 

Pertemuan para ahli ini berlangsung di Kantor Kapanewon Seyegan, pada Kamis (4/6/2026) sore.

Dalam pertemuan yang difasilitasi Pemkab Sleman ini, para ahli dari masing-masing instansi memaparkan hasil sementara dari temuan di lapangan. 

Tim UGM: hipotesis soal hidrogen, gas fosfin, bertemu oksigen

Satu di antaranya disampaikan Dosen Departemen Teknik Geologi dan Lingkungan (DTGL) UGM, Dr. Sarju Winardi. 

Menurut dia, melalui tiga rangkaian observasi dan pengukuran menggunakan detektor gas serta teknologi kamera thermal sejak akhir Mei hingga awal Juni 2026, tim ahli Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM mengonfirmasi bahwa rentetan kejadian api berulang di rumah Agusyani dipicu oleh akumulasi gas hidrogen (H2) konsentrasi tinggi, bukan karena faktor mistis.

Dr. Sarju menjelaskan, pengukuran lapangan menunjukkan kadar hidrogen di dalam ruangan melonjak ekstrem hingga mencapai 40 ppm bahkan hasil pengukuran bisa didapati hingga menyentuh 2.500 ppm pada saluran pipa air. Ini jauh melampaui kondisi normal atmosfer yang hanya 5 ppm. Tim mendeteksi lonjakan ini terjadi secara spontan di siang hari di tengah kerumunan orang. Fakta ini sekaligus menepis anggapan bahwa api hanya muncul saat rumah kosong.

"Jadi, nyuwun sewu ini menepis anggapan bahwa api itu keluarnya nunggu tidak ada orang. Banyak orang gitu ya, siang-siang juga apinya nyala juga. Nah, pada saat api nyala di kamar itu dan kami melakukan deteksi, terbaca gas hidrogen yang sangat tinggi sampai 40 ppm. Normalnya gas di udara itu hidrogen hanya 5 ppm," kata dia. 

Tim UGM menyusun hipotesis bahwa gas hidrogen terbentuk dari proses dark fermentation limbah organik pemotongan ayam di belakang rumah yang telah merembes ke bawah lantai selama bertahun-tahun. Gas hidrogen yang sangat ringan ini kemudian berasosiasi dengan gas fosfin (PH3), gas yang terbentuk dari material kaya fosfat seperti tulang dan bulu ayam. 

Sifat gas fosfin yang sangat reaktif dan mudah menyala pada suhu kamar bertindak sebagai pemantik utama yang membakar gas hidrogen saat bersentuhan dengan oksigen.

Empat rekomendasi tim UGM

Untuk memutus rantai segitiga api yakni bahan bakar, panas, dan oksigen serta untuk menjamin keselamatan penghuni rumah, tim ahli UGM mengeluarkan empat rekomendasi. 

Pertama, seluruh sirkulasi udara di dalam rumah harus dibuka selebar-lebarnya agar gas hidrogen yang melayang di udara dapat segera terbuang keluar dan tidak mengumpul di dalam ruangan. Kedua, penggunaan kipas angin besar atau blower untuk menghalau akumulasi rembesan gas bawah tanah agar tidak mencapai kadar jenuh yang rawan memantik api. 

Ketiga, seluruh perabot rumah tangga yang bersifat mudah terbakar, harus dikeluarkan dari dalam rumah karena media tersebut terbukti menjadi tempat terjebaknya gas. Keempat tim UGM membantu melakukan solusi dengan pengeboran tanah di empat titik strategis untuk menyuntikkan cairan basa (air kapur). Langkah ini bertujuan menjenuhkan tanah guna menekan dan menonaktifkan aktivitas bakteri Clostridium, yakni mikroorganisme yang bertanggung jawab mengubah limbah organik menjadi gas hidrogen.

"Empat rekomendasi ini sangat terbuka untuk masukan dan diskusi," ujarnya. 

BPPTKG: investigasi pemantik api, listrik statis dan gas fosfin    

Tim ahli dari BPPTKG juga turut menerjunkan tim untuk menguji keabsahan hipotesis akademisi terkait teror api misterius di Seyegan, Sleman. Menggunakan sensor keselamatan kerja (safety tool), BPPTKG memperluas investigasi pada aspek pemantik api atau segitiga api yang memicu terbakarnya akumulasi gas bawah tanah di lokasi tersebut.

Ketua Tim Mitigasi Bencana Gunung Merapi BPPTKG, Andika Bayu Aji mengatakan, berdasarkan hasil pengukuran lapangan, BPPTKG mencatat kadar gas metana (CH4) di dalam rumah masih berada di angka 0 hingga 1 persen, dengan titik tertinggi sebesar 4 persen di dekat area pohon bambu luar rumah. Angka ini dinilai belum memenuhi syarat ambang batas ledakan metana yang berada di kisaran 5 hingga 15 persen.

Untuk memastikan kadar gas hidrogen (H2) yang memiliki rentang ambang batas terbakar sangat lebar yakni 4 hingga 78 persen, BPPTKG telah mengambil sampel gas menggunakan tabung khusus untuk dianalisis lebih lanjut di laboratorium. Namun, ia menekankan bahwa gas hidrogen tidak dapat menyala sendiri begitu saja karena membutuhkan suhu auto-ignition di atas 500°C, sedangkan pemantauan kamera thermal udara lewat drone menunjukkan suhu lingkungan di luar dan di dalam rumah tergolong normal, yakni hanya berkisar antara 32°C hingga 37°C.

"Jadi kemungkinan pemantiknya bukan karena suhu panas lingkungan, melainkan bisa jadi karena listrik statis," kata dia. 

Dalam kasus ini, BPPTKG mengeluarkan dua saran penyelidikan untuk mengungkap faktor pemicu api. Pertama, pengecekan terhadap potensi paparan listrik statis yang kuat di sekitar lokasi. Indikasi ini diperkuat oleh laporan pemilik rumah mengenai perangkat elektronik seperti CCTV, TV, hingga komputer yang kerap mendadak rusak, yang mana lonjakan listrik statis terbukti mampu memicu pembakaran spontan saat bersentuhan dengan hidrogen. 

"Kedua, menindaklanjuti teori tentang gas lain yaitu (keberaadaan) gas fosfin yang hanya membutuhkan suhu 38°C untuk terbakar sendiri tanpa api sehingga bisa memicu (gas) hidrogen di sekitarnya," jelas dia. 

Tim UPN: pergerakan gas alam mencari jalan keluar 

Di sisi lain, Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia, Pengda Jawa Timur sekaligus Kandidat Doktor Ilmu Geologi UPN Veteran Yogyakarta, Handoko Teguh Wibowo, menduga rentetan kebakaran misterius di Seyegan, Sleman, merupakan kombinasi pembentukan gas dari faktor natural (alami) dan artificial (buatan).

Ia bercerita, berdasarkan pengalamannya selama hampir sepuluh tahun menangani karakteristik gas dangkal bertekanan rendah di Jawa Tengah dan Jawa Timur, fenomena ini murni akibat pergerakan gas alam yang mencari jalan keluar ke permukaan bumi dan bukan fenomena supranatural.

Handoko menjelaskan bahwa gas metana (CH4) dan gas hidrogen (H2) di lokasi tersebut keluar secara bersamaan dari bawah tanah, dibuktikan dengan temuan gelembung gas di bawah Sungai Nepen dekat pemukiman warga. Sifat gas hidrogen yang sangat ringan membuatnya bergerak lebih cepat dan bertindak sebagai penjelajah media berpori. 

Uniknya, hidrogen memiliki reologi khas yang sangat sensitif, gas ini tidak membutuhkan pemantik tinggi dan dapat tersulut secara spontan hanya oleh daya listrik statis dari tubuh manusia atau perangkat elektronik, selama kadar oksigen ruangan berada di rentang 4 hingga 72 persen.

"Di luar rentang itu, gas tidak akan menyala," imbuhnya. 

Rekomendasi tim UPN

Belajar dari pengalaman penanganan kasus semburan gas Lumpur Lapindo dan padamnya Api Abadi Mrapen, Handoko menawarkan dua langkah untuk menjinakkan "gas liar" di Seyegan agar aman bagi pemukiman warga. Yakni dengan pembangunan sumur reservoir dangkal dan kompresor.

Caranya berdasarkan pengalaman, dengan membuat beberapa titik sumur pantek pada kedalaman reservoir dangkal (sekitar 0 hingga 40 meter). Gas liar yang merembes di bawah rumah warga disedot menggunakan mesin kompresor untuk dikonsentrasikan ke dalam tangki penampungan khusus. 

"Jika kualitas kandungan metananya bagus, gas ini dapat dirilis untuk dialirkan ke kompor-kompor warga sebagai pengganti LPG. Langkah tanggap darurat saat ini adalah mengamankan area rumah yang terdampak agar gas liar ini bisa diperangkap dan dikonsentrasikan. Kalaupun tidak dimanfaatkan, gas tersebut bisa kita flare (bakar secara aman) ," ujarnya.

Kedua, merujuk pada keberhasilan memulihkan Api Abadi Mrapen, langkah teknis berupa reorientasi aliran gas perlu dilakukan. Tim melakukan pengeboran ulang yang dikombinasikan dengan proses dewatering atau pengurasan air tanah secara terus-menerus.

Metode ini bertujuan memaksa tekanan hidrostatik bumi agar orientasi aliran gas bawah tanah kembali terpusat ke satu sumur utama yang terisolasi, sehingga rembesan gas berbahaya tidak menyebar secara ke area fondasi rumah warga.

"Saya kira langkah-langkah analogi dari pengalaman yang pernah saya lakukan ini barangkali bisa diterapkan sebagai bagian dari solusi penanganan fenomena di sini. Mudah-mudahan ini bisa menjadi jalan keluar bagi masyarakat," ujar dia. 

Langkah mitigasi: jamin aspek sosial keluarga korban

Sementara itu, untuk langkah penanganan mitigasi Guru Besar dan Dekan Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) di UPN "Veteran" Yogyakarta, Basuki Rahmat menekankan pentingnya jaminan aspek sosial, kelayakan hidup, dan perbaikan infrastruktur hunian bagi keluarga korban yang telah mengungsi selama 13 hari akibat teror api Seyegan.

Ia mendorong pemerintah daerah untuk segera memberikan bantuan yang berfokus pada perbaikan sirkulasi udara rumah agar ruangan tetap kering dan terhindar dari kelembapan pemicu gas berbahaya. 

Selain memprioritaskan pemulihan kelayakan tempat tinggal dan sterilisasi bangunan, Basuki juga mendorong adanya pendampingan ekonomi agar usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup bagi keluarga korban tetap dapat berjalan selama masa pengungsian.

"Mohon maaf, nanti bantuan semoga bisa diberikan. Tapi saya yakin pemerintah daerah sudah memikirkan itu," ujarnya. 

Pemkab Sleman Jamin Korban Tidak Sendiri

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Sleman, Makwan menyatakan komitmen untuk bisa segera melaksanakan rekomendasi teknis dari para ahli untuk mengatasi teror api di Seyegan. Langkah ini diambil sebagai wujud respons cepat pemerintah dalam memberikan kepastian keselamatan bagi keluarga terdampak.

Ia meminta agar Bidang Perumahan Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan kawasan permukiman (DPUPKP) Sleman untuk melakukan edukasi terhadap struktur bangunan yang lebih sehat dan aman di lokasi kejadian. Selain itu, rekomendasi pengosongan barang yang mudah terbakar dari dalam rumah Agusyani akan segera dilakukan.

Untuk memaksimalkan penanganan teknis, pihaknya juga mengharapkan dukungan stimulan dari Dinas PUP ESDM Pemda DIY. Sedangkan untuk mengantisipasi munculnya titik api baru selama proses penelitian yang masih berlangsung, personel relawan kebencanaan disiagakan untuk memperkuat pengamanan di area rumah korban.

"Artinya mbak Via (keluarga korban) tidak sendirian. Setiap permasalahan selalu ada solusi. Mudah-mudahan. Kami berharap sumbangsih semua pakar peneliti. Relawan juga kami minta untuk penguatan kesiapsiagaan di rumah korban," ujar Makwan.(*) 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved