Kawasan Heritage 'Between Two Gates' Kotagede Ditutup Warga, Ini Penyebabnya

Kawasan heritage Between Two Gates (BTG) yang terletak di Kemantren Kotagede, Kota Yogyakarta, terpaksa ditutup sementara oleh warga

Tayang:
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Hari Susmayanti
Tribun Jogja/Azka Ramadhan
Kawasan heritage Between Two Gates yang berlokasi di Kemantren Kotagede, Kota Yogyakarta, yang kini ditutup sementara oleh warga dari akses wisatawan, Rabu (3/6/2026). 

Padahal, area tersebut merupakan halaman pribadi milik warga yang saling terhubung, selaras konsep kebersamaan masyarakat Kotagede sejak zaman dahulu.

​"Masyarakat menganggap itu public area, masuk sesuka hati. Padahal itu milik pribadi. Rumah Jawa itu kan utara-selatan, tengahnya itu sebenarnya halaman masing-masing rumah. Sejak zaman bapak saya dulu sepakat dibuka untuk jalan pertolongan, konsepnya rukunan," paparnya.

​Pihak pengelola sebenarnya sudah memasang papan informasi berisi tata tertib di pintu masuk kawasan, namun aturan tersebut sering kali diabaikan.

Terlebih, Joko bilang, akibat viralitas yang sudah melampaui batas, rata-rata yang datang ke Between Two Gates kini sama sekali tidak peduli dengan sejarah.

​"Mereka itu sebenarnya bukan wisatawan, karena enggak butuh tahu sejarah atau storytelling-nya Kotagede. Mereka hanya butuh foto, konten, upload, selesai. Dampak ekonomi ke warga juga belum terlalu signifikan," tambahnya.

​Terkait dinamika ini, pihak pengelola sudah melakukan pertemuan dan klarifikasi dengan Dinas Pariwisata dan Mantri Pamong Praja setempat pada Selasa (2/6/2026).

Kepada pihak birokrasi, Joko pun menekankan, kawasan cagar budaya seperti kampung-kampung di Kotagede tidak cocok dengan konsep pariwisata massal.

​"Kotagede itu jalannya sempit-sempit. Kalau dipaksakan untuk pariwisata massal tanpa diimbangi infrastruktur, resistensi sosialnya tinggi banget. Malah bikin macet kalau weekend dan kontraproduktif buat masyarakat," tegasnya.

​Mengenai kelanjutan operasional kawasan Between Two Gates ke depan, Joko bersama warga yang lain mengaku belum bisa mengambil keputusan.

Dalam waktu dekat, seluruh warga yang mendiami sembilan rumah di kawasan BTG akan menggelar musyawarah untuk memutuskan rumusan selanjutnya.

​"Ke depan seperti apa, ini baru akan kita rembug dengan seluruh warga, baiknya bagaimana. Saya kembalikan lagi ke warga. Kalau misal nanti warga keberatan, ya nanti kita cari jalan tengahnya," pungkasnya. (aka)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved