Kawasan Heritage 'Between Two Gates' Kotagede Ditutup Warga, Ini Penyebabnya
Kawasan heritage Between Two Gates (BTG) yang terletak di Kemantren Kotagede, Kota Yogyakarta, terpaksa ditutup sementara oleh warga
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Hari Susmayanti
Ringkasan Berita:
- Warga menutup sementara kawasan heritage Between Two Gates (BTG) Kotagede setelah kecewa atas kedatangan mendadak 70-80 wisatawan tanpa izin.
- Pengelola mengeluhkan penurunan etika pengunjung, terutama pembuat konten, yang menganggap area pribadi milik warga tersebut sebagai ruang publik terbuka.
- Pengelola menegaskan Kotagede tidak cocok untuk pariwisata massal. Warga akan bermusyawarah untuk menentukan aturan dan kelanjutan operasional BTG ke depan.
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kawasan heritage Between Two Gates (BTG) yang terletak di Kemantren Kotagede, Kota Yogyakarta, terpaksa ditutup sementara oleh warga setempat.
Langkah spontan ini diambil menyusul kekecewaan warga terhadap membludaknya kunjungan wisatawan tanpa izin, yang puncaknya terjadi pada Minggu (31/5/2026) pagi lalu.
Pengelola Kawasan Between Two Gates, Joko Nugroho menceritakan, aksi penutupan sementara dipicu oleh kedatangan rombongan wisatawan dalam jumlah besar yang menggunakan dua bus dari luar daerah.
Rombongan yang diduga membawa wisatawan mancanegara tersebut langsung merangsek masuk ke area BTG tanpa ada pemberitahuan atau izin terlebih dahulu.
"Awal mulanya itu hari Minggu pagi. Ada rombongan bawa dua bus, turun di kompleks masjid makam. Terus langsung masuk ke BTG tanpa pemberitahuan, tanpa izin. Jam 7 pagi masuk, ramai sekali. Kayaknya tamu luar (negeri)," ujarnya, Rabu (3/6/2026).
Kedatangan sekitar 70 - 80 orang secara tiba-tiba tanpa koordinasi dari Tour Leader (TL) ini sontak membuat warga yang tinggal di lorong ikonik tersebut merasa terganggu.
Secara spontan, warga akhirnya menghentikan rombongan dan memilih menutup akses masuk untuk sementara waktu demi menenangkan situasi.
"Warga keberatan kalau segitu banyaknya tanpa ada pemberitahuan. Akhirnya kita stop. Secara spontan, ya sudah kita tutuplah sementara ini biar (tamu di belakang) enggak masuk dulu. Kita cooling down dulu," jelasnya.
Joko tidak menampik bahwa insiden hari Minggu itu hanya puncak dari gunung es, mengingat ketidaknyamanan sejatinya telah dirasakan sejak lama.
Selama ini, warga di kawasan yang dihuni oleh sembilan rumah tradisional Jawa tersebut kerap memendam kekesalan akibat ulah sebagian pengunjung, terutama dari kalangan muda atau Gen Z.
Maraknya media sosial sejak medio 2015 mengubah BTG dari tempat studi arsitektur dan sejarah yang tenang, menjadi spot foto yang diburu demi konten estetik yang instagramable.
Sayangnya, lonjakan kunjungan ini tidak dibarengi dengan literasi dan etika yang baik dari para wisatawan yang datang berkunjung ke Between Two Gates.
"Yang bermasalah itu rata-rata anak-anak muda bawa kamera, bawa HP, kemudian masuk tanpa nuwun sewu ya, etikanya kurang. Ada pemilik rumah duduk di situ juga enggak aruh-aruh (menyapa), langsung jeprat-jepret foto," keluh Joko.
Baca juga: Bukan Mistis, Teror Api Rumah Seyegan Barasal dari Gas: Bupati Sleman Upayakan Langkah Penanganan
Ia memandang, banyak sekali pembuat konten yang keliru menganggap bahwa lorong di antara dua gerbang itu adalah ruang publik yang terbuka untuk umum.
Padahal, area tersebut merupakan halaman pribadi milik warga yang saling terhubung, selaras konsep kebersamaan masyarakat Kotagede sejak zaman dahulu.
"Masyarakat menganggap itu public area, masuk sesuka hati. Padahal itu milik pribadi. Rumah Jawa itu kan utara-selatan, tengahnya itu sebenarnya halaman masing-masing rumah. Sejak zaman bapak saya dulu sepakat dibuka untuk jalan pertolongan, konsepnya rukunan," paparnya.
Pihak pengelola sebenarnya sudah memasang papan informasi berisi tata tertib di pintu masuk kawasan, namun aturan tersebut sering kali diabaikan.
Terlebih, Joko bilang, akibat viralitas yang sudah melampaui batas, rata-rata yang datang ke Between Two Gates kini sama sekali tidak peduli dengan sejarah.
"Mereka itu sebenarnya bukan wisatawan, karena enggak butuh tahu sejarah atau storytelling-nya Kotagede. Mereka hanya butuh foto, konten, upload, selesai. Dampak ekonomi ke warga juga belum terlalu signifikan," tambahnya.
Terkait dinamika ini, pihak pengelola sudah melakukan pertemuan dan klarifikasi dengan Dinas Pariwisata dan Mantri Pamong Praja setempat pada Selasa (2/6/2026).
Kepada pihak birokrasi, Joko pun menekankan, kawasan cagar budaya seperti kampung-kampung di Kotagede tidak cocok dengan konsep pariwisata massal.
"Kotagede itu jalannya sempit-sempit. Kalau dipaksakan untuk pariwisata massal tanpa diimbangi infrastruktur, resistensi sosialnya tinggi banget. Malah bikin macet kalau weekend dan kontraproduktif buat masyarakat," tegasnya.
Mengenai kelanjutan operasional kawasan Between Two Gates ke depan, Joko bersama warga yang lain mengaku belum bisa mengambil keputusan.
Dalam waktu dekat, seluruh warga yang mendiami sembilan rumah di kawasan BTG akan menggelar musyawarah untuk memutuskan rumusan selanjutnya.
"Ke depan seperti apa, ini baru akan kita rembug dengan seluruh warga, baiknya bagaimana. Saya kembalikan lagi ke warga. Kalau misal nanti warga keberatan, ya nanti kita cari jalan tengahnya," pungkasnya. (aka)
| Polsek Kotagede Gelar Razia Pekat, Sasar Peredaran Miras dan Potensi Kriminal |
|
|---|
| GKJ Kotagede Gelar Pasar Murah dan Bazar UMKM di Tengah Kenaikan Harga Bahan Pokok |
|
|---|
| Kunker Tamu DPRD Kota Yogyakarta Dialihkan ke Kampung Wisata, Pelaku UMKM Ketiban Berkah |
|
|---|
| Program 'Bule Mengajar' Sasar Kampung Wisata di Kota Yogyakarta, Kotagede Jadi Pilot Project |
|
|---|
| Inovasi DPRD Kota Yogyakarta Terima Tamu di Kampung Wisata, Produk Lokal Laris Manis Diborong |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Kawasan-Heritage-Between-Two-Gates-Kotagede-Ditutup-Warga-Ini-Penyebabnya.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.