Kisah Mustofa, Mantan Montir Sleman yang Sapinya Dibeli Presiden Prabowo Rp 85 Juta

Johny Anggoro bukanlah sapi sembarangan. Ia adalah sapi ras Simental yang berasal dari Swiss, dikenal dengan postur raksasanya

Tayang:
Penulis: Hanif Suryo | Editor: Hari Susmayanti
Tribun Jogja/Hanif Suryo
Peternak sapi, Mustofa, memberikan keterangan kepada awak media dengan latar belakang sapi miliknya yang diangkut menggunakan mobil pikap di Kompleks Kepatihan, Selasa (26/5/2026). Mustofa menuturkan bahwa sapi tersebut telah dirawat dengan perhatian ekstra sejak masih pedet (anak sapi) selama tiga setengah tahun. Sapi peliharaannya itu kini terpilih menjadi bagian dari penyaluran bantuan sapi kurban di wilayah DIY tahun ini, yang secara keseluruhan mencakup 8 ekor sapi bantuan Presiden RI serta 9 ekor sapi dari Gubernur dan Wakil Gubernur DIY. 
Ringkasan Berita:
  • Mustofa, mantan mekanik yang banting setir menjadi peternak sapi, sukses membesarkan sapi ras Simental berbobot +900 kg bernama Johny Anggoro yang dibeli Presiden Prabowo seharga Rp85 juta untuk kurban.
  • Pemda DIY menegaskan seluruh pengadaan bantuan hewan kurban presiden dan gubernur tahun 1447 H murni berasal dari peternak lokal DIY.
  • Masjid Al-Husna Sleman mencetak sejarah baru menerima bantuan sapi presiden. Daging kurban nantinya akan dibagikan secara merata kepada seluruh warga.

 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Profesi sebagai mekanik atau montir bengkel mungkin lekat dengan oli dan mesin, namun bagi Mustofa, panggilan hatinya justru membawanya ke ladang peternakan.

Tiga setengah tahun lalu, ia memutuskan banting setir menjadi peternak sapi karena alasan yang sederhana, mencari ketenangan dan kesenangan batin.

Dari keputusan yang berawal dari hobi itu, sapi kesayangannya yang diberi nama Johny Anggoro, berhasil memikat hati tim seleksi dan terpilih menjadi sapi kurban milik Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.

Ditemui di Kompleks Kepatihan, Selasa (26/5/2026), pemilik kandang Mulyo Andini yang berlokasi di Margomulyo, Seyegan, Sleman, ini membagikan kisah inspiratifnya.

Ia menceritakan bagaimana dunia peternakan telah mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.

"Sangat menarik, buat kita itu happy, senang, dan bahagia karena berhubungan langsung dengan hewan. Kita membiasakan diri merawat hewan, sehingga menghadapi lingkungan pun kita bisa lebih sabar," tutur Mustofa saat menceritakan alasannya terjun ke dunia peternakan.

Berbekal ilmu yang dipelajari secara belajar sendiri (otodidak), didukung pemanfaatan teknologi, serta pendampingan langsung dari Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan), Mustafa merawat hewan ternaknya dengan dedikasi penuh.

Perhatian Ekstra untuk Sapi Ras Swiss

Johny Anggoro bukanlah sapi sembarangan. Ia adalah sapi ras Simental yang berasal dari Swiss, dikenal dengan postur raksasanya namun memiliki tantangan tersendiri dalam pemeliharaannya. 

Mustafa memelihara sapi ini dari sejak pedet (anak sapi) hingga berusia tiga setengah tahun.

Sebagai peternak pemula, Mustafa mengakui ada tingkat kesulitan yang tinggi.

Ia menjabarkan secara rinci proses perawatannya, di mana ikatan emosional menjadi kunci utama agar sapi tidak berontak.

"Ya, sebenarnya merawat sapi jenis Simental ini agak susah bagi orang yang belum terbiasa. Agak sulit juga," akunya.

"Susahnya karena ini sapi ras luar, dari Swiss. Karakteristiknya mungkin lebih liar. Kadang-kadang kalau kita tidak merawatnya dengan penuh kasih sayang, sapi ini bisa jadi liar. Makanya perawatannya harus rutin dimandikan. Kemudian kita kasih vitamin, kadang-kadang kita kasih buah pisang. Harus ada ikatan emosional dengan pemiliknya," lanjut Mustafa merinci proses kedekatannya dengan si sapi.

Ia mengungkapkan bahwa mereka telah memelihara sapi tersebut sejak masih pedet (anak sapi), tepatnya tiga setengah tahun yang lalu.

Ia menjelaskan bahwa merawat hewan peliharaan menuntut perhatian ekstra dan keharusan untuk menjaganya, seperti rutin memberi makan pada pagi hari, memberi makan dan minum pada sore hari, serta memandikannya.

Karena menyandang status sebagai kandidat sapi presiden, perawatan kesehatannya sangat ketat. 

"Ya ada (perawatan khusus), seperti misalnya harus divaksinasi. Vaksinasinya harus lengkap, seperti vaksin PMK (Penyakit Mulut dan Kuku). Kemudian pemberian obat cacing. Kita juga harus tertib dan disiplin, sehingga sapi terbebas dari cacing. Obat cacing rutin kita berikan agar pencernaannya selalu sehat," tegasnya.

Kerja keras itu berbuah manis. Saat penimbangan satu bulan lalu, bobot Johny Anggoro sudah mencapai 891 kilogram, dan saat ini diprediksi telah menembus 900 hingga 950 kilogram.

Sapi tersebut dibeli oleh Presiden Prabowo dengan harga Rp85.000.000. Saat ini, di kandang Mulyo Andini Farm, Mustofa masih memiliki dua ekor sapi lagi yang juga berbobot besar.

Mustafa pun menceritakan detik-detik awal bagaimana sapinya bisa dilirik oleh Istana. Semua bermula dari kunjungan rutin dokter hewan.

"Kita terhubung dengan Puskeswan (Pusat Kesehatan Hewan) Sleman dan Mlati. Di situ ada dokter hewan yang biasa merawat sapi-sapi kita saat divaksinasi. Waktu divaksinasi, ibu-ibu dari Puskeswan itu melihat, 'Sapi kita kok besar? Pak, bagaimana kalau kita daftarkan sebagai sapi presiden?' Akhirnya kita antusias dan semangat. Kita coba, Alhamdulillah terpilih menjadi sapi presiden," ujarnya.

"Oh iya. Saya merasa bersyukur dan bangga sebagai peternak. Ya mungkin saya pemula, tapi saya bangga sapi saya bisa menjadi sapi pilihan presiden untuk tahun ini."

Baca juga: Jadi Primadona Iduladha, 4.700 Sapi Gunungkidul Laris Manis Diburu Warga Luar Daerah

Pemberdayaan Peternak Lokal DIY

Kisah sukses Mustofa sejalan dengan misi Pemerintah Daerah (Pemda) DIY dalam memberdayakan peternak lokal.

Kepala Biro Kesra Setda DIY, Faishol Muslim, dalam laporannya menegaskan bahwa seluruh pengadaan hewan kurban bantuan pemerintah tahun 1447 Hijriah ini murni bersumber dari hasil keringat peternak DIY.

"Pada tahun ini, Sekretariat Kepresidenan Republik Indonesia dan juga Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta telah selesai melaksanakan pengadaan bantuan hewan kurban yang seluruhnya, alhamdulillah, bisa diadakan dari peternak-peternak kita sendiri, alhamdulillah. Sehingga, ini juga bisa kemudian mendorong semangat para peternak kita untuk lebih giat berkarya dan pada saatnya nanti juga akan berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta," papar Faishol Muslim.

Ia menjelaskan bahwa bantuan sapi kurban di wilayah DIY pada tahun ini meliputi bantuan dari Presiden RI sebanyak delapan ekor dan bantuan dari Gubernur beserta Wakil Gubernur DIY sebanyak sembilan ekor.

Lebih lanjut, ia merinci bahwa satu ekor sapi dari Presiden telah diserahkan secara simbolis, sementara sisanya didistribusikan kepada Pemda DIY, Pemerintah Kabupaten/Kota, dan Istana Kepresidenan RI di Yogyakarta untuk disalurkan kepada masyarakat. 

Adapun bantuan sapi dari Gubernur dan Wakil Gubernur disalurkan melalui Pemerintah Kabupaten/Kota serta sejumlah masjid besar, seperti Masjid Kagungan Dalem Masjid Gedhe Keraton Yogyakarta, Masjid Agung Pura Pakualaman.

Pihaknya juga mengamanatkan agar sapi-sapi ini dirawat dengan baik sebelum akhirnya disembelih secara syar'i dan dagingnya didistribusikan kepada masyarakat yang berhak.

Sejarah Baru di Dusun Temanggung dan Toleransi Berbagi

Muara dari kerja keras Mustofa dan program kemasyarakatan ini sangat terasa di akar rumput.

Salah satu penerima sapi presiden adalah Masjid Al-Husna yang terletak di Dusun Temanggung, Tambakrejo, Tempel, Sleman.

Rury Pandoko, perwakilan takmir Masjid Al-Husna, menyebutkan bahwa kabar bahagia itu mereka terima dari pihak Kapanewon Tempel sekitar sebulan yang lalu.

Baginya, kedatangan Johny Anggoro adalah sebuah sejarah besar bagi dusunnya.

"Alhamdulillah sekali dapat bantuan dari Pak Presiden, karena selama ini belum pernah ada bantuan ke padukuhan kami atau masjid kami, Masjid Al-Husna, (Dusun) Temanggung, Tambakrejo, Tempel, Sleman, Yogyakarta. Sebelumnya belum pernah sekali pun ada bantuan dari mana pun. Ini pertama kali dalam sejarah," ungkap Ruri penuh syukur.

Kehadiran sapi presiden ini menambah semarak Iduladha di Dusun Temanggung.

Ruri merinci, pada tahun lalu masyarakat setempat menyembelih 2 ekor sapi dan sekitar 6 hingga 8 ekor kambing.

"Untuk tahun ini, sapi ada 3 ekor, ditambah 1 ekor sapi dari Pak Presiden. Kambingnya ada 5 ekor," rincinya.

Penyembelihan akan dilakukan tepat di depan masjid seusai pelaksanaan salat Iduladha. 

Ruri memastikan pembagian daging akan menjunjung tinggi nilai persaudaraan antarumat beragama di desanya.

"Nanti kita akan bagikan. Di dusun kami ada sekitar 18 KK (Kepala Keluarga) warga non-muslim, itu nanti juga akan kita bagikan secara merata," tegas Ruri.

Tersalurkannya Johny Anggoro lintas keyakinan di Sleman ini menjadi perwujudan nyata dari filosofi ibadah kurban itu sendiri.

Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, dalam sambutannya mengingatkan esensi mendalam di balik tradisi penyembelihan ini.

Dengan mengutip Surat Al-Hajj ayat 37, Ni Made menegaskan bahwa kurban adalah jalan spiritual untuk menata niat dan menguji keikhlasan manusia terhadap titipan Yang Maha Kuasa.

"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya." (QS. Al-Hajj: 37)
 
"Kurban menyimpan pelajaran yang sangat dalam. Kurban bukan semata-mata peristiwa penyembelihan hewan, bukan pula sekadar tradisi tahunan yang hadir bersamaan dengan Hari Raya Iduladha. Lebih dari itu, kurban adalah jalan untuk menata niat, menguji keikhlasan, serta mengingatkan manusia bahwa segala kepemilikan pada hakikatnya adalah titipan Allah," urai Ni Made Dwipanti.

Ia memaparkan dua makna tak terpisahkan dari kurban yakni makna ibadah sebagai bentuk ketaatan, dan makna sosial sebagai penguat solidaritas.

"Dalam kurban, manusia diajak untuk melepaskan sebagian dari apa yang dicintai. Di situlah nilai rohani kurban menemukan maknanya. Sebab, seseorang tidak hanya dinilai dari apa yang ia miliki, tetapi juga dari kesediaannya untuk berbagi, menolong, dan menghadirkan manfaat bagi sesama," jelasnya lebih lanjut.

"Bahwa keberkahan tidak hanya dirasakan ketika sesuatu berada dalam genggaman kita, tetapi justru ketika mengalir menjadi manfaat bagi orang lain. Kurban mengajarkan bahwa rezeki yang dibagi tidak akan mengurangi kemuliaan, melainkan memperluas keberkahan,"pungkasnya. (*)

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved