Sri Sultan HB X Minta Konsep RTH Eks TKP Abu Bakar Ali Diubah Jadi Taman Publik Estetis dan Nyaman
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta konsep awal pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di eks TKP diubah
Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Joko Widiyarso
Ringkasan Berita:
- Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta konsep awal pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di eks TKP diubah
- Menurut Sultan, kawasan itu harus dibangun dengan konsep taman publik yang estetis dan nyaman, bukan sekadar ruang hijau yang didominasi pohon besar layaknya hutan kota.
- Permintaan spesifik itu diungkapkan oleh Sri Sultan HB X setelah berdiskusi dengan Sekretaris Daerah (Sekda) DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti.
TRIBUNJOGJA.COM., YOGYA - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta konsep awal pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di eks Tempat Khusus Parkir (TKP) Abu Bakar Ali diubah.
Sultan menegaskan, kawasan tersebut harus dibangun dengan konsep taman publik yang estetis dan nyaman, bukan sekadar ruang hijau yang didominasi pohon besar layaknya hutan kota.
Arahan spesifik tersebut diungkapkan oleh Sri Sultan HB X setelah berdiskusi dengan Sekretaris Daerah (Sekda) DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti.
Selain mematangkan proyek RTH eks Abu Bakar Ali, Pemda DIY saat ini juga tengah memulai langkah awal penataan kawasan bersejarah Panggung Krapyak dengan berfokus pada identifikasi lahan dan utilitas.
Sri Sultan HB X menekankan bahwa sebuah taman seharusnya berfungsi sebagai ruang publik tempat masyarakat menikmati waktu dengan nyaman.
Oleh karena itu, vegetasi yang dipilih tidak boleh monoton hijau, melainkan harus dipadukan dengan tanaman hias yang berbunga dan berwarna-warni.
"Taman ki ya taman. Dudu hutan, kan gitu. Jadi mestinya ya yang ditanam itu bukan pohon pohon yang besar semua. Tapi perkara ada pohon yang besar untuk perindang, ya itu logis-logis saja untuk perindang dan harus mengurangi orang berpanas-panasan di taman," ujar Sultan, Kamis (21/5)
Sultan menambahkan, struktur pendukung seperti pelengkung tanaman merambat juga diperlukan untuk menghidupkan suasana taman.
"Tapi kan bisa sing jenenge taman itu mungkin ada hiasan seperti masuk kaya plengkung, tapi mungkin di situ yang merambat itu bunga mawar, sehingga berbunga. Ya, gitu. Jangan hijau semua, nek hijau kan kehutanan. Ada yang berbunga, ada yang tidak, ada yang warna kuning, ada warna merah, itu taman. Ya kan? Nek mung mung hijau ya malah enggak nyaman, gitu loh. Bener enggak? Kan kan gitu sing jenenge taman," tegas Sultan HB X.
"Tapi yang jenenge taman, iya tanaman taman, ya taman. Ya jangan banyak bangunan, ya bangunan yang penting saja, di kasih toilet di sebelah barat supaya lebih gampang," ujarnya.
Penyesuaian desain
Merespons arahan langsung tersebut, Sekretaris Daerah (Sekda) DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti menjelaskan bahwa Pemda DIY kini tengah melakukan penyesuaian terhadap desain awal proyek strategis ini.
Penyesuaian utamanya mencakup pengurangan dominasi struktur bangunan, reposisi fasilitas umum, serta penataan lanskap vegetasi.
"Ya karena itu kan ruang terbuka hijau, ya paling tidak itu bisa memberikan suasana yang berbeda di kawasan. Kemudian nyaman untuk para pengunjung. Terus keberadaan toilet, karena kan di toilet di sisi utara itu belum ada gitu. Sebenarnya dari desain itu sudah ada di tengah, cuman beliau kalau taman ya enggak perlu banyak bangunan. Memang tidak ada bangunan, cuma toilet-toilet saja sih sebenarnya. Tapi toiletnya mau digeser ke agak ke barat sedikit seperti itu," papar Ni Made.
Terkait konsep vegetasi, Ni Made membenarkan adanya perubahan dari rencana awal yang semula murni berbentuk hutan kota.
| Forum BEM se-DIY Suarakan Reformasi Jilid Dua, Suarakan 12 Tuntutan kepada Rezim Prabowo-Gibran |
|
|---|
| Duel Perebutan 10 Besar Klasemen Akhir, PSIM Yogyakarta Berambisi Gusur Arema FC |
|
|---|
| Biar Hemat dan Tidak Dianggap Mewah, Sri Sultan HB X Sederhanakan Garebeg Besar Tanpa Gunungan |
|
|---|
| RS Bethesda Yogyakarta Buka Layanan Kedokteran Nuklir dan Galeri Wedhang Jamu |
|
|---|
| Catatan 28 Tahun Reformasi: PSAD UII Sebut Amanat 1998 Jadi Mitos, Orde Baru Kembali |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/20262105-Sekda-DIY-Ni-Made-Dwipanti-Indrayanti.jpg)