Tujuh Pasang Pengantin di Bantul Ijab Kabul di Atas Traktor dengan Mahar Ayam dan Sayuran

Usai kirab, prosesi ijab kabul dilakukan di atas traktor sawah. Konsep itu mengandung filosofi nilai budaya

Tayang:
Tribun Jogja/Neti Istimewa Rukmana
NIKAH BARENG: Sepasang pengantin tertua yakni Supiyati (43) dan Alip Munandar (49), asal Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, sedang duduk di gerobak teraktor sawah untuk mengikuti prosesi nikah bareng, Selasa (19/5/2026) siang. 

Ringkasan Berita:
  • Tujuh pasang pengantin mengikuti nikah bareng dengan konsep kirab dan ijab kabul di atas traktor sawah.
  • Acara bertajuk Nikah Bareng Mbalek Ndeso Mbangun Kulawarga #2 ini digelar untuk menyambut Hari Kebangkitan Nasional dan Idul Adha.
  • Mahar unik berupa alat salat, ayam, dan sayuran mencerminkan ketahanan pangan serta nilai kesederhanaan.
  • Pengantin muda maupun tua mengaku bahagia, senang dengan konsep jadul yang bermakna dan fasilitas gratis penuh.

 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Sebanyak tujuh pasang pengantin mengikuti nikah bareng dengan mahar sepasang alat salat, ayam, dan sayuran yang digelar di area sekitar Gedung Beruntung Jalannya, Panggungharjo, Sewon Bantul.

Sebelum prosesi ijab kabul dilakukan, mereka mengikuti proses kirab dari pintu masuk utama.

Kirab pengantin

Berdasarkan pantauan Tribunjogja.com, di area sekitar Gedung Beruntung Jalannya, pada Selasa (19/5/2026) siang, kirab tujuh pasang pengantin itu dipimpin oleh penari Edan-edanan.

Kirab tersebut diikuti beberapa belah pihak dan kerabat termasuk orang tua dan pengantin. Di barisan paling belakang, pasangan pengantin duduk di gerobak traktor sawah.

Ketua Golek Garwo Fortais dan Nikah Bareng Nasional, Ryan Budi Nuryanto, berujar, pelaksanaan nikah bareng ini dikemas dengan tajuk 'Nikah Bareng Mbalek Ndeso Mbangun Kulawarga #2' untuk menyambut Hari Kebangkitan Nasional dan Idul Adha.

"Ini adalah kolaborasi dari kami untuk membangun negeri dimulai dari desa. Kami ingin membuat pernikahan apa adanya dengan manten generasi Z dan M. Karena sekarang beredar bahwa genarasi Z dan M itu takut menikah. Padahal menikah ini sangat prasaja dan diminati," ucapnya, kepada awak media, di sela-sela prosesi nikah bareng.

Animo tinggi

Sebelum momen nikah bareng itu berlangsung, pihaknya telah membuka pendaftaran. Ternyata, animo masyarakat untuk ikut nikah bareng dari generasi Z dan M cukup banyak. Setidaknya ada sekitar 500-an pengantin dari seluruh Indonesia yang mendaftar.

Hanya saja pada kesempatan kali ini, pihaknya baru bisa memberikan fasilitas kepada tujuh pasang pengantin dari perwakilan Banten, Jawa Tengah, hingga DIY.

Usia termuda pengantin yakni 20 tahun asal Purworejo, Jawa Tengah, dan usia tertua pengantin yakni 49 tahun asal Kapanewon Sewon.

Usai kirab, prosesi ijab kabul dilakukan di atas traktor sawah. Konsep itu mengandung filosofi bahwa bukan sekadar unik, melainkan menggabungkan nilai budaya, kerja keras, dan kehidupan agraris.

Nilai-nilai itu diharapkan dapat membawa kesan kesederhanaan, kerja keras, dan bermanfaat, layaknya petani yang berusaha memberikan hasil bumi terbaik.

Mahar unik

"Dan ini maharnya cukup unik. Ada seperangkat alat salat, sepasang ayam, tanaman atau tumbuhan, sayuran, dan sebagainya. Ini adalah wujud ketahanan pangan dari desa untuk membangun bangsa yang dimulai dengan pembinaan keluarga sejahtera, sakinah, apa adanya, untuk Indonesia jaya," paparnya.

Prosesi pernikahan itu pun diiringi oleh pagelaran wayang cekak dan iringan karawitan maupun gending Jawa. Dengan begitu, diharapkkan tujuh pasang pengantin tersebut hidup sejahtera.

Sementara itu, sepasang pengantin muda yakni Arleta Kanaya Putri (20) dan Satrio Amukthi (22), asal Purworejo, Jawa Tengah, mengaku senang bisa mengikuti prosesi nikah bareng berkonsep jadul tersebut.

Pengantin bahagia

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved