JOGJA HARI INI : Trauma yang Tersisa

Dampak dugaan kekerasan di Little Aresha Daycare ternyata tidak hanya membekas pada fisik dan mental anak, namun juga meninggalkan trauma

Tayang:
Penulis: HAS | Editor: Hari Susmayanti
Tribun Jogja/Azka Ramadhan
TRAUMA ORANG TUA: Pendampingan psikologis untuk ratusan orang tua korban Little Aresha Daycare di Balai Kota Yogyakarta, Minggu (10/5/26). 

Ringkasan Berita:
  • Orang tua korban mengalami rasa bersalah mendalam, krisis kepercayaan pada lembaga pengasuhan, hingga terganggunya karier (cuti panjang hingga resign).
  • Tercatat 194 anak menjadi korban sejak 2018. Pemkot Yogyakarta mengerahkan 94 psikolog untuk mendampingi korban dan orang tua.
  • Sebanyak 88 anak telah dipindahkan ke daycare layak dengan biaya ditanggung pemerintah, sementara 13 tersangka telah ditahan pihak kepolisian.

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dampak dugaan kekerasan di Little Aresha Daycare ternyata tidak hanya membekas pada fisik dan mental anak, namun juga meninggalkan trauma mendalam bagi para orang tua.

Dalam agenda psikoedukasi yang digelar di Balai Kota Yogyakarta, Minggu (10/5/2026) siang, terungkap fenomena trauma berlapis yang kini menghantui ratusan orang tua korban.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB), Retnaningtyas menuturkan, terdapat tiga manifestasi trauma utama yang coba diurai melalui pendampingan psikologis ini.

Dijelaskan, banyak orang tua yang kini terjebak dalam pusaran rasa bersalah yang destruktif, lantaran merasa jadi penyebab penderitaan anak imbas salah memilih tempat penitipan.

"Maka penguatan ini sangat penting, karena selama ini orang tua merasa 'ini salahku menyekolahkan di sini'. Muncul pertanyaan-pertanyaan menyakitkan seperti 'kenapa kok saya begini'. Psikoedukasi ini tujuannya agar rasa bersalah itu segera terurai," ucapnya.

Trauma tersebut, juga memicu krisis kepercayaan terhadap lembaga pengasuhan anak lain, meski Pemkot Yogyakarta sudah melakukan proses penelusuran untuk memastikan kelayakannya.

Eno, sapaan akrab Retnaningtyas, mencatat adanya ketakutan luar biasa untuk kembali menitipkan buah hati di daycare manapun, padahal status kedua orang tua adalah pekerja yang sangat membutuhkan bantuan pengasuhan.

 "Ada trauma tidak mau menitipkan lagi di daycare. Padahal mereka harus bekerja. Ketakutan bahwa kejadian serupa akan terulang lagi ini yang harus kita hilangkan melalui pendampingan, agar mereka paham tidak semua tempat seperti itu," imbuhnya.

Alhasil, seiring berjalannya waktu, dampak psikologis tersebut menjalar hingga ke ranah profesional, atau karier para orang tua korban Little Aresha Daycare.

Demi meredam kecemasan dan memastikan keamanan anak secara langsung, tak sedikit orang tua yang akhirnya mengambil langkah drastis dalam pekerjaan mereka.

"Selama masa transisi ini, ada yang tidak berani memasukkan anaknya ke sekolah lain. Mereka ada yang mengambil cuti panjang, bahkan ada yang sampai resign dari pekerjaannya untuk mengasuh anak sendiri karena ketakutan. Ini trauma yang sangat nyata dan harus diselesaikan," tegasnya. 

Korban bertambah

Jumlah korban kasus dugaan kekerasan dan penelantaran anak di Little Aresha Daycare, Sorosutan, Kemantren Umbulharjo, terus bertambah.

Hingga kini, Unit Pelaksana Teknis Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kota Yogyakarta mencatat sebanyak 194 anak telah melapor melalui posko pengaduan atau helpdesk.

Eno menuturkan bahwa seluruh anak yang melapor telah mendapatkan penanganan awal.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved