Pendidikan Khas Kejogjaan Resmi Diluncurkan, Dewan Pendidikan DIY Tekankan Implementasi Karakter
Fondasi utama dari Pendidikan Khas Kejogjaan adalah pembiasaan atau habituasi nilai-nilai luhur budaya Yogyakarta.
Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) resmi diluncurkan secara menyeluruh bagi satuan pendidikan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Dalam implementasinya, gerakan kebudayaan ini ditargetkan tidak sekadar menjadi tumpukan program dan pengetahuan teoretis, tetapi terintegrasi langsung dalam tindakan nyata serta kebiasaan peserta didik di sekolah maupun lingkungan masyarakat.
Ketua Dewan Pendidikan DIY, Sutrisna Wibawa, menekankan bahwa fondasi utama dari PKJ adalah pembiasaan atau habituasi nilai-nilai luhur budaya Yogyakarta.
Menurutnya, pendidikan karakter harus bermuara pada tindakan.
"Pertama, mengenai gerakan kebudayaan. Gerakan kebudayaan itu lebih ke pembiasaan atau habituasi. Jadi, tidak sekadar program, tetapi benar-benar terlaksana dan dibiasakan, sehingga akan menjadi milik karakter itu," kata Sutrisna, Senin (4/5/2026).
Sutrisna mengkorelasikan tahap pembudayaan tersebut dengan konsep yang diusung oleh tokoh pendidikan nasional Ki Hadjar Dewantara serta ahli pendidikan karakter internasional Thomas Lickona.
Tahapan ini menuntut integrasi antara pengetahuan, perasaan, dan tindakan.
"Prosesnya itu, kalau menurut Ki Hadjar Dewantara 'kan ada tiga: ngerti (memahami), ngerasa (merasakan), dan ngelakoni (melakukan). Nah, pembudayaan itu mencakup tiga unsur ini. Kalau dalam bahasanya ahli pendidikan karakter, Thomas Lickona, itu juga ada tiga, sama sebenarnya dengan Ki Hadjar. Pertama adalah moral knowing (pengetahuan moral). Kedua adalah moral feeling (perasaan moral). Ketiga adalah moral action (tindakan moral), yang artinya berupa gerakan atau implementasi. Jadi, gerakan itu kalau bahasa Ki Hadjar adalah ngelakoni, sementara bahasa Lickona adalah moral action. Tidak sekadar pengetahuan," papar Sutrisna.
Melalui pendekatan tersebut, Dewan Pendidikan DIY berharap PKJ dapat membawa peserta didik mencapai visi Jalma Kang Utama—yakni generasi dengan kecerdasan tinggi yang berkarakter, menerapkan nilai-nilai budaya Jogja, serta cerdas sekaligus beradab.
Sinergi
Untuk mewujudkan ekosistem pendidikan yang solid, Sutrisna menyebutkan pentingnya sinergi antara keraton, kampus, dan kampung.
Materi pendidikan tidak berdiri sendiri, melainkan menyerap pilar-pilar nilai luhur yang secara spesifik disebut sebagai Widya Saka Tunggal.
"Di Pendidikan Khas Kejogjaan itu namanya Widya Soko Tunggal. Pengetahuan dari sumber-sumber utama itu kita gali nilai atau value-nya. Keenam sumber tersebut adalah: (1) Keraton, (2) Pakualaman, (3) Nahdlatul Ulama (NU), (4) Muhammadiyah, (5) Taman Siswa, dan (6) Pendidikan Modern. Sumber-sumber ini kita gali untuk menguatkan akar Jogja yang kita sebut sebagai Widya Soko Tunggal," tegasnya.
Sebagai pedoman pelaksanaan, Dewan Pendidikan telah menerbitkan empat dokumen panduan yang meliputi Buku Induk, Buku Panduan Pendidikan Dasar, Buku Panduan Pendidikan Menengah, dan Buku Panduan Pendidikan Tinggi.
Sutrisna menggarisbawahi bahwa PKJ tidak akan membebani kurikulum sebagai mata pelajaran baru yang terpisah.
"Tentu Dewan Pendidikan berharap guru-guru di PAUD, SD, SMP, SMA, dan para dosen di perguruan tinggi bisa mengembangkan buku-buku teks sesuai dengan bidang yang diampu. Pendidikan Khas Kejogjaan itu bukan mata pelajaran tersendiri, melainkan terintegrasi. Jadi, kita kaitkan dengan mata pelajaran atau mata kuliah yang diampu oleh pendidik," ucapnya.
Baca juga: Indeks Karakter Capai 4,1, Implementasi Pendidikan Khas Kejogjaan Siap Diperluas ke Seluruh Jenjang
| Indeks Karakter Capai 4,1, Implementasi Pendidikan Khas Kejogjaan Siap Diperluas ke Seluruh Jenjang |
|
|---|
| Sri Sultan HB X Terbitkan Ingub Tentang Pengawasan Daycare, Ini Isinya |
|
|---|
| Pemda DIY Optimalkan BKK Danais dan Kolaborasi Swasta untuk Kesejahteraan Kalurahan |
|
|---|
| Menjawab Tantangan Zaman, Sri Sultan HB X Resmi Luncurkan Pendidikan Khas Kejogjaan |
|
|---|
| PHRI DIY Dorong Pemerintah Daerah Gelar Event Berskala Nasional untuk Dongkrak Okupansi Hotel |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/20260405-Launching-Pendidikan-Khas-Kejogjaan-PKJ.jpg)