Indeks Karakter Capai 4,1, Implementasi Pendidikan Khas Kejogjaan Siap Diperluas ke Seluruh Jenjang
Nilai-nilai utama yang diusung dalam Pendidikan Khas Kejogjaan dirancang secara inklusif dan kolaboratif.
Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Implementasi Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menunjukkan tren positif dengan capaian indeks karakter peserta didik menyentuh skor 4,1 dari skala 5.
Evaluasi awal yang sangat memuaskan ini menjadi landasan kuat bagi Pemda DIY untuk menerapkan program tersebut secara bertahap dan menyeluruh mulai jenjang PAUD, SD, SMP, hingga SMA/SMK di seluruh wilayah Yogyakarta.
Hal tersebut diungkapkan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY, Muhammad Setiadi, dalam acara Byawara dan Launching Pendidikan Khas Kejogjaan di SMA 6 Yogyakarta, Senin (4/5/2026).
Menurut Setiadi, kematangan kurikulum program ini merupakan buah dari perumusan panjang sejak tahun 2019.
Gagasan awalnya terinspirasi dari pidato ilmiah Gubernur DIY terkait pentingnya karakter berbasis budaya saat penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
"PKJ tidak disusun secara instan, melainkan melalui proses partisipatif yang melibatkan banyak pihak. Sejak tahun 2022, Disdikpora DIY telah menggelar berbagai Focus Group Discussion (FGD) dengan melibatkan perguruan tinggi, organisasi pendidikan, hingga tokoh masyarakat. Pada tahun 2023, tim pengembang kemudian menyusun substansi utama yang menghasilkan empat buku panduan PKJ. Buku-buku tersebut mencakup buku induk serta panduan untuk jenjang pendidikan dasar, menengah, hingga pendidikan tinggi," papar Setiadi membedah proses historis penyusunan kebijakan tersebut.
Baca juga: Menjawab Tantangan Zaman, Sri Sultan HB X Resmi Luncurkan Pendidikan Khas Kejogjaan
Setiadi memaparkan, nilai-nilai utama yang diusung dalam PKJ dirancang secara inklusif dan kolaboratif.
Materi pendidikan tidak berdiri sendiri, melainkan menyerap pilar-pilar nilai luhur dari Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Kadipaten Pakualaman, Taman Siswa, Nahdlatul Ulama, dan Muhammadiyah.
Kekayaan kultural ini kemudian dipadukan secara komprehensif dengan nilai-nilai pendidikan modern.
Implementasi PKJ di satuan pendidikan juga ditekankan untuk tidak berhenti sekadar sebagai mata pelajaran sejarah secara kognitif.
Nilai-nilai khas Kejogjaan diintegrasikan langsung dalam budaya sekolah serta praktik kehidupan keseharian di lingkungan pendidikan.
Hal ini bertujuan memastikan para peserta didik benar-benar menghidupi budaya tersebut secara riil.
Lebih lanjut, Setiadi memastikan keberlanjutan program ini mendapatkan dukungan penuh secara finansial melalui pemanfaatan Dana Keistimewaan (Danais) DIY, serta diperkuat oleh kolaborasi lintas sektoral.
Rangkaian persiapan sistematis telah dilalui, mulai dari pelaksanaan bimbingan teknis bagi para guru dan dosen pada tahun 2024, disusul evaluasi dampak pada 2025, hingga akhirnya siap diluncurkan untuk penerapan yang lebih luas tahun ini.
Gerakan Kebudayaan
Sementara itu, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X, yang meresmikan peluncuran tersebut menegaskan bahwa PKJ lebih dari sekadar program administratif.
| Sri Sultan HB X Terbitkan Ingub Tentang Pengawasan Daycare, Ini Isinya |
|
|---|
| Pemda DIY Optimalkan BKK Danais dan Kolaborasi Swasta untuk Kesejahteraan Kalurahan |
|
|---|
| Menjawab Tantangan Zaman, Sri Sultan HB X Resmi Luncurkan Pendidikan Khas Kejogjaan |
|
|---|
| PHRI DIY Dorong Pemerintah Daerah Gelar Event Berskala Nasional untuk Dongkrak Okupansi Hotel |
|
|---|
| Investasi DIY Capai Rp8,4 Triliun, Sri Sultan Ingatkan Bahaya Eksploitasi Ekologis Kawasan Selatan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/20260405-Launching-Pendidikan-Khas-Kejogjaan-PKJ.jpg)