Keracunan MBG di Bantul

Dugaan 80 Orang di Jetis Bantul Keracunan Menu MBG, Kareg BGN DIY Perintahkan Evaluasi Total SOP

Data terbaru hingga Selasa (14/4/2026) siang, jumlah korban yang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu MBG di Bantul berjumlah 80 orang

Tayang:
Dok. Istimewa
Ilustrasi keracunan makanan 

Pihak Dinas Kesehatan saat ini masih terus melakukan pendataan, mengingat SPPG yang bersangkutan menyalurkan program MBG untuk 25 sekolah di wilayah tersebut.

Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Bantul, Hermawan Setiaji.
Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Bantul, Hermawan Setiaji. (TRIBUNJOGJA.COM/ Neti Istimewa Rukmana)

Evaluasi Total

Merespons kejadian ini, Koordinator Regional DIY BGN, Wirandita Gagat Widyatmoko, S.Sos., M.Han., menyatakan keprihatinan mendalam.

Ia menegaskan bahwa setiap indikasi kejadian menonjol harus menjadi bahan evaluasi serius bagi seluruh jajaran demi menjamin keselamatan penerima manfaat.

Gagat Wirandita menekankan bahwa pihaknya telah berulang kali memberikan instruksi agar seluruh SPPG menegakkan SOP secara utuh dan konsisten, mulai dari rantai produksi hingga ke tingkat konsumen.

Dalam pernyataan resminya, ia memberikan penekanan panjang terkait integritas layanan gizi tersebut.

"Kami sudah berkali-kali mengingatkan bahwa SOP harus dijalankan secara menyeluruh, tidak parsial. Ini bukan hanya soal kepatuhan administratif, tetapi menyangkut keselamatan penerima manfaat. Bukan soal angka besar atau kecil, tetapi bagaimana program ini tidak menjadi kontraproduktif. Program MBG hadir untuk meningkatkan status gizi, bukan justru menimbulkan dampak negatif yang tidak diharapkan," tegas Gagat Wirandita.

Pengawasan Kualitas

Lebih lanjut, ia mengarahkan agar SPPG memperluas fungsi mereka, tidak sekadar menjadi distributor makanan, tetapi juga pengawas kualitas di lapangan.

"Implementasi SOP tidak berhenti di dalam lingkungan SPPG, tetapi harus diperluas hingga ke proses distribusi dan konsumsi di lapangan, sehingga seluruh rantai layanan benar-benar terjaga kualitas dan keamanannya. SPPG tidak hanya berfokus pada aspek distribusi makanan semata, tetapi juga menjalankan fungsi yang lebih luas, termasuk edukasi gizi kepada penerima manfaat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari program," lanjutnya.

Saat ini, Regional DIY terus melakukan pemantauan dan pendalaman komprehensif untuk memastikan penyebab pasti gangguan pencernaan tersebut.

Pihaknya berkomitmen memperkuat pengawasan dan pembinaan agar pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di masa mendatang berjalan sesuai standar dan memberikan manfaat optimal tanpa risiko bagi masyarakat.

Baca juga: Update Korban Keracunan MBG di Jetis : Total Korban 80 Orang, Tak Hanya Siswa, Tapi Guru Juga Kena

10 SPPG Berhenti Operasional

Lebih lanjut Hermawan menyampaikan, sejauh ini sudah ada 10 SPPG yang dihentikan sementara. Itu terjadi dikarenakan beberapa hal mulai dari terlibat dugaan kasus keracunan MBG hingga belum terpenuhi sarana prasarananya.

"Iya yang 10 SPPG diberhentikan sementara dengan waktu yang berbeda karena memiliki kasus yang berbeda-beda. Ada keracunan, ada sarana prasarana kurang," jelasnya.

Dengan adanya dugaan keracunan MBG kembali, maka dimungkinkan jumlah SPPG yang dihentikan operasional sementara semakin bertambah.

Total dimungkinkan menjadi 11 SPPG yang akan berhenti operasional sementara.

"Kami saat ini cuma bisa mengimbau kepada seluruh SPPG agar mematuhi SOP, memilih bahan baku berkualitas, dan semua dilakukan sesuai koridor yang disepakati oleh sekolah. Harapan kami tidak terjadi lagi kasus serupa," kata dia.

JPW Desak Proses Hukum

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved