Mantan Kapolda DIY Rilis Buku 'Pemimpin Kekinian', Tekankan Pentingnya Regenerasi dan Integritas
UKDW Yogyakarta menggelar acara bedah buku buah pemikiran Wahyu Saronto, M.Si., bertajuk Pemimpin Kekinian dan Visioner – Pentingnya Regenerasi
Penulis: Hanif Suryo | Editor: Hari Susmayanti
Selain isu ekologi, pemanfaatan teknologi sebagai alat strategis kepemimpinan modern—sebagaimana ditulis oleh Wahyu Saronto terkait perang siber (cyber war) dan mahadata (big data)—mendapat catatan khusus.
Romo Bagus mengingatkan adanya ancaman serius dari teknologi yang jatuh ke tangan pemimpin nirvisi yang cenderung otoritarian.
"Kepemimpinan global sekarang, demokrasi sekarang, itu sedang diganggu oleh AI dengan cara-cara yang luar biasa. Kualitas kepemimpinan demokrasi sekarang ini sedang dihantui oleh bahaya AI. Pemilu di India kemarin yang memilih Narendra Modi sebetulnya kan dikatakan agak cacat ya, karena partainya Narendra Modi ini menggunakan AI bots untuk mendekati para pemilih. Dan hasilnya seperti itu, dia menang lagi," papar Romo Bagus.
Lebih jauh, ia memberikan contoh bagaimana negara dan korporasi raksasa menggunakan kecerdasan buatan murni untuk kepentingan pengawasan (surveillance) alih-alih untuk kemajuan akademis.
Ia menyinggung penggunaan teknologi pengawasan di China hingga kontroversi perusahaan analitik data, Palantir, di kancah global.
"Ini menjadi kontroversi internasional sekarang. Jadi ada godaan bagi para pemimpin dunia yang mungkin tidak visioner untuk menggunakan teknologi AI untuk kepentingan itu yang tidak demokratis. AI, digital, dan sebagainya digunakan bisa oleh para pemimpin yang tidak punya visi, tidak punya agenda untuk demokratis, tapi lebih dimainkan oleh kepentingan-kepentingan lain."
Baca juga: Aksi Nekat Tukang Sapu di Magelang: Terobos Barikade Demi Titip Surat ke Presiden Prabowo
Fenomena "Intelektual Priayi" dan Integritas Akademik
Sejalan dengan pesan buku yang menuntut pemimpin untuk berani menolak kompromi jangka pendek, Romo Bagus menyentil keras fenomena kemerosotan moral di dunia pendidikan.
Ia mengkritik praktik politisi dan pejabat yang memburu gelar akademik bergengsi melalui jalan pintas, yang ia sebut sebagai fenomena "Intelektual Priayi".
"Menurut saya, perebutan gelar guru besar yang membuat beberapa kampus sampai diturunkan statusnya karena banyak pelanggaran itu karena kejujuran intelektual akademik sebetulnya tidak terlalu diperhatikan. Saya mengatakan itu intelektual priayi, karena para profesor, guru besar, termasuk para politisi, yang mengejar gelar doktor dengan cara tertentu, padahal guru besar itu kan jabatan fungsional. Intelektualitasnya itu dijadikan status. Menurut saya, itu hanya untuk gagah-gagahan. Dan kemudian, universitasnya juga berkolaborasi."
Romo Bagus memperingatkan bahwa institusi pendidikan adalah pilar pembentuk peradaban global.
Pada sesi diskusi, merespons pertanyaan mengenai bagaimana pemimpin harus mengambil keputusan di tengah minimnya data dan tingginya risiko, Romo Bagus menawarkan solusi yang bersandar pada nilai-nilai inti dan proses kolaboratif.
Ia mengaitkannya dengan tradisi Ignasian yang disebut sebagai diskresi komunal (communal discernment).
Pemimpin, menurutnya, harus memastikan bahwa setiap keputusan bebas dari konflik kepentingan pribadi atau kelompok.
Sementara itu, Wahyu Saronto juga menekankan pentingnya nilai-nilai inti sebagai kompas moral dalam pengambilan keputusan jangka panjang.
Nilai tersebut menjadi fondasi dalam membangun organisasi yang tangguh, inovatif, serta mampu menjawab tantangan zaman.
"Pemimpin harus berani menolak kompromi jangka pendek yang merugikan masa depan, sekaligus membuka ruang bagi lahirnya pemimpin muda yang berintegritas," tandasnya.
| Desain Jadi Kunci Nilai Tambah Perak Kotagede |
|
|---|
| BPJS dan Polemik Kemanusiaan: Ketika Data Menghapus Wajah Manusia |
|
|---|
| JPW Nilai Pengawasan Aparat atas Diskusi Buku Berlebihan dan Tidak Sejalan dengan Demokrasi |
|
|---|
| Polisi Tanggapi Tudingan Upaya Pembungkaman Saat Diskusi Buku di Yogyakarta |
|
|---|
| Prof Masduki: Pengawasan Polisi pada Diskusi Buku di Yogyakarta Berlebihan dan Tak Wajar |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Mantan-Kapolda-DIY-Rilis-Buku-Pemimpin-Kekinian-Tekankan-Pentingnya-Regenerasi-dan-Integritas.jpg)