Mantan Kapolda DIY Rilis Buku 'Pemimpin Kekinian', Tekankan Pentingnya Regenerasi dan Integritas
UKDW Yogyakarta menggelar acara bedah buku buah pemikiran Wahyu Saronto, M.Si., bertajuk Pemimpin Kekinian dan Visioner – Pentingnya Regenerasi
Penulis: Hanif Suryo | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kepemimpinan masa kini tidak lagi sekadar menuntut kecekatan dalam merespons dinamika organisasi, tetapi juga kepekaan komprehensif terhadap krisis ekologi global, ancaman teknologi kecerdasan buatan (AI) terhadap pilar demokrasi, serta kemerosotan integritas akademik.
Tanpa fondasi nilai yang kuat, pemimpin masa depan berisiko membawa institusi—dan bahkan negara—pada disorientasi yang fatal.
Hal tersebut mengemuka dalam acara bedah buku bertajuk Pemimpin Kekinian dan Visioner – Pentingnya Regenerasi yang diselenggarakan di Ruang Seminar Pdt. Dr. Harun Hadiwijono, Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta, Kamis (9/4/2026).
Buku setebal 174 halaman ini merupakan buah pemikiran Irjen Pol. (Purn.) Drs. Yohanes Wahyu Saronto, M.Si., mantan Kapolda DIY yang kini menjabat sebagai Dewan Penyantun UKDW.
Tampil sebagai narasumber utama, Rektor Universitas Sanata Dharma (USD), Rm. Albertus Bagus Laksana, S.J., S.S., Ph.D., membongkar lebih dalam gagasan Wahyu Saronto dengan membenturkannya pada realitas kontemporer.
Romo Bagus secara tajam menyoroti tiga isu fundamental yang menjadi batu ujian bagi para pemimpin visioner saat ini yakni krisis kosmik, disrupsi AI, dan runtuhnya kejujuran intelektual.
Buku karya Wahyu Saronto menekankan bahwa kepemimpinan masa kini harus menjunjung integritas dan adaptif terhadap tantangan global.
Merespons hal tersebut, Romo Bagus menegaskan bahwa tantangan global paling mendesak saat ini adalah keselamatan bumi.
Kegagalan membaca arah perubahan lingkungan hidup akan berakibat pada kehancuran sistemik.
"Yang paling utama itu tentang kosmik, mengenai alam, mengenai lingkungan hidup. Karena soal globalisasi dan juga kepentingan nasional, kalau tidak memperhatikan kepentingan bumi, itu dua-duanya hancur. Tidak akan setara lagi," tegas Romo Bagus.
Ia menyoroti pesimisme terhadap target capaian Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia, terutama terkait mahalnya biaya transisi dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara menuju energi terbarukan.
Di sisi lain, komitmen kepemimpinan nasional dinilai mulai menipis. Oleh karena itu, tanggung jawab tersebut kini banyak bertumpu pada kolaborasi lintas sektoral, termasuk institusi pendidikan dan lembaga keagamaan.
"Lalu siapa yang bisa membantu supaya kepemimpinan yang visioner, tidak hanya memikirkan kepentingan nasional dan global saja yang biasa-biasa saja, tapi memikirkan kepentingan alam dan bumi ini sebagai masalah? Itu mungkin universitas dan lembaga-lembaga keagamaan. Tanpa kepemimpinan yang lintas sektoral yang didukung oleh program-program yang kontinu membentuk mindset masif, itu saya kira tidak bisa terjadi," urainya.
Hal ini pula yang mendasari langkah USD saat berekspansi ke Ibu Kota Nusantara (IKN).
Menjawab kritik mahasiswanya terkait potensi perusakan alam, Romo Bagus menegaskan bahwa kehadiran mereka justru untuk membangun pusat lingkungan hidup dan melestarikan hutan tropis sebagai bagian dari ekosistem kota yang bersih dan pintar.
| Desain Jadi Kunci Nilai Tambah Perak Kotagede |
|
|---|
| BPJS dan Polemik Kemanusiaan: Ketika Data Menghapus Wajah Manusia |
|
|---|
| JPW Nilai Pengawasan Aparat atas Diskusi Buku Berlebihan dan Tidak Sejalan dengan Demokrasi |
|
|---|
| Polisi Tanggapi Tudingan Upaya Pembungkaman Saat Diskusi Buku di Yogyakarta |
|
|---|
| Prof Masduki: Pengawasan Polisi pada Diskusi Buku di Yogyakarta Berlebihan dan Tak Wajar |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Mantan-Kapolda-DIY-Rilis-Buku-Pemimpin-Kekinian-Tekankan-Pentingnya-Regenerasi-dan-Integritas.jpg)