Harga Plastik Melambung

Harga Plastik Melejit: UMKM di Sleman dan Yogyakarta Tercekik

idak main-main, kenaikan harga plastik mencapai hampir 100 persen atau dua kali lipat dari harga normal

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Hari Susmayanti
Tribun Jogja/Ahmad Syarifudin
Foto dok ilustrasi. Toko Plastik di Sleman 

Ketergantungan pada impor bahan baku dan distribusi grosir lokal yang terganggu disinyalir menjadi pemicu utama, mirip dengan kasus nasional di mana stok yang minim memaksa pedagang menaikkan harga secara spekulatif.

Kondisi anomali harga ini menciptakan dilema luar biasa bagi UMKM. Kenaikan harga kemasan secara otomatis memperbesar struktur biaya produksi, sehingga margin keuntungan UMKM Food and Beverage (F&B) yang sejatinya sudah tipis menjadi semakin terkikis habis. 

Banyak pelaku usaha mikro enggan menaikkan harga karena ketakutan kehilangan pelanggan setia. Akibatnya, mereka terpaksa menanggung sendiri pembengkakan biaya produksi tersebut hingga mencapai titik kritis di mana usaha mereka tidak lagi berkelanjutan secara finansial.

Disperindag dan Bank Indonesia (BI) DIY memandang efek domino dari kenaikan kemasan ini sebagai ancaman serius bagi ketahanan UMKM yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian daerah.

"Beberapa literatur dan analisis nasional menunjukkan bahwa jika biaya kemasan membengkak dan tidak disikapi, risiko paling nyata adalah penutupan usaha kecil (gulung tikar) atau pengurangan jam kerja atau tenaga kerja untuk mengurangi biaya,” katanya.

“Di DIY, inflasi jangka bulanan masih banyak ditopang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau; kenaikan harga kemasan berpotensi memperkuat tekanan ini jika pelaku F&B terpaksa menyesuaikan harga jual ke konsumen," tegas Yuna. 

Disperindag DIY lalu melakukan intervensi jangka pendek April 2026. Fokus utama saat ini ditekankan pada kegiatan Operasi Pasar dan Pasar Murah. 

Pemerintah juga mendukung penuh penyelenggaraan Jogja Food & Beverage Expo, Jogja Pack & Process Expo, serta Jogja Printing Expo 2026 yang digelar di Jogja Expo Center (JEC) pada 8 hingga 11 April 2026. 

Sebelumnya, pihak Asosiasi Industri Olefin Aromatik Plastik (Inaplas) mengungkapkan, kondisi geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang menyebabkan harga plastik naik. 

Sekretaris Jenderal Inaplas Fajar Budiono menjelaskan, plastik diproduksi dari nafta, yaitu turunan minyak bumi. Pasokan nafta dunia sebagian besar berasal dari kawasan Asia Barat. 

Namun, konflik yang melibatkan Israel, Amerika Serikat (AS), dan Iran membuat distribusi bahan baku terganggu, terutama karena penutupan jalur penting pengiriman energi dunia. 

“Sekarang akibat perang kan terus yang pertama Selat Hormuz kan ketutup sehingga bahan baku berupa nafta yang 70 persen itu datangnya dari Middle East jadi tidak bisa terkirim ke para industri petrokimia,” kata Fajar saat dihubungi melalui telepon, Kamis (2/4/2026). 

Situasi ini menjawab pertanyaan mengapa harga plastik naik dalam waktu relatif cepat. Ketergantungan global terhadap kawasan tersebut membuat dampaknya terasa hingga ke Indonesia. 

Tidak hanya jalur distribusi yang terganggu, fasilitas produksi juga ikut terdampak. Sejumlah kilang minyak di Arab Saudi dan negara Teluk menjadi sasaran konflik. 

Akibatnya, pasokan nafta semakin terbatas. Kombinasi antara distribusi yang tersendat dan produksi yang terganggu membuat industri petrokimia menghadapi ketidakpastian. 

“Dan ini tidak hanya di Indonesia hampir seluruh dunia,” ujar Fajar. (tim)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved