Harga Plastik Melambung
Harga Plastik Melejit: UMKM di Sleman dan Yogyakarta Tercekik
idak main-main, kenaikan harga plastik mencapai hampir 100 persen atau dua kali lipat dari harga normal
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Hari Susmayanti
Menghadapi tekanan rantai pasok ini, membebankan seluruh kenaikan modal kepada konsumen bukanlah pilihan yang masuk akal bagi Yanti.
Ia harus memilah dengan cermat, mana produk yang harganya terpaksa disesuaikan, dan mana yang harus ia tanggung sendiri selisihnya.
Kemasan dasar seperti plastik bungkus makanan, menurutnya, adalah layanan mendasar yang tidak pantas jika dibebankan ke pembeli.
"Kalau plastik buat makanan 1 kg sama plastik (kresek) itu hak pembeli, masa harus dinaikkan? Enggak mungkin, ya," tuturnya.
Strategi penyesuaian harga jual akhirnya hanya ia terapkan pada beberapa menu dengan kemasan spesifik yang harga modalnya benar-benar tak lagi bisa dikompromikan.
Meski begitu, ia bersikukuh menahan harga pada produk-produk tertentu, seperti jus buah, demi menjaga minat beli pelanggannya.
Ia merinci perhitungannya tersebut secara utuh, sembari menegaskan filosofi sederhana usahanya untuk terus bertahan tanpa harus memberatkan para pembeli di lingkungan perkantoran tempatnya mencari nafkah.
"Untuk yang thinwall naik, saya naikkan Rp1.000 karena harga dari sana. Untuk cup plastik saya naikkan Rp500 karena bahan baku yang mepet. Untuk botol jus enggak saya naikkan. Kita mengurangi untung, sing penting ada pemasukan tidak rugi. Intinya itu saja," ujarnya.
Bagi pedagang seperti Yanti, memastikan roda usaha tetap berputar setiap harinya jauh lebih berharga daripada memaksakan margin keuntungan yang tinggi namun berisiko kehilangan pelanggan.
Baca juga: Mengakali Lonjakan Harga Plastik, Pedagang Kecil di Yogyakarta Pilih Pangkas Keuntungan
Kekacauan pasokan
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY, Yuna Pancawati membeberkan fakta bahwa kenaikan harga plastik terjadi secara seragam di seluruh wilayah akibat penyesuaian langsung dari pihak pabrik.
"Kenaikan hingga 70 persen di DIY untuk berbagai produk plastik, termasuk kemasan dan toples, dilaporkan pedagang grosir sejak sebelum Lebaran, yang berdampak langsung pada UMKM minuman,” kata Yuna, Senin (6/4/2026).
“Contoh spesifik seperti gelas cup untuk UMKM minuman naik dari Rp220 menjadi Rp440 per piece, serta kantong kresek yang naik hampir dua kali lipat mencerminkan tren serupa di daerah lain akibat kelangkaan stok," lanjut dia.
Yuna menjelaskan bahwa krisis di tingkat lokal ini berakar dari kekacauan rantai pasok di tingkat global yang menghantam industri hulu.
Termasuk, dampak penutupan Selat Hormuz yang meningkatkan biaya logistik, energi, dan bahan baku plastik.
“Produksi industri hulu plastik domestik turun hingga sepertiga kapasitas, menyebabkan harga naik 30-60 persen di tingkat produsen dan hingga 100 persen di pedagang. Pedagang di DIY melaporkan kenaikan seragam di semua jenis plastik karena adjustment dari pabrik," paparnya.
| Mencari Alternatif Impor Bahan Baku Plastik di Luar Timur Tengah: Tantangan di Depan Mata |
|
|---|
| Pedagang Jajanan di Jogja Sambat Harga Plastik Meroket, Untung Makin Tipis |
|
|---|
| Penjual Siomay di Jogja Menjerit : Plastik Naiknya Kebangetan |
|
|---|
| Mengakali Lonjakan Harga Plastik, Pedagang Kecil di Yogyakarta Pilih Pangkas Keuntungan |
|
|---|
| Pedagang Es Teh Jumbo di Wates Kulon Progo Terpaksa Naikkan Harga, Imbas Mahalnya Plastik Kemasan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Mengakali-Lonjakan-Harga-Plastik-Pedagang-Kecil-di-Yogyakarta-Pilih-Pangkas-Keuntungan.jpg)