Ancaman Kekeringan di DIY, DPKP Siapkan Satgas hingga Mapping Lahan Rawan

BMKG Stasiun Klimatologi Kelas IV DIY memprediksi awal musim kemarau tahun 2026 di wilayah DIY akan dimulai pada akhir April.

Penulis: Hanif Suryo | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUN JOGJA/Alexander Ermando
Petani beraktivitas di lahan sawah wilayah Kalurahan Karangwuni, Kapanewon Wates, belum lama ini. DPP Kulon Progo mengupayakan ketersediaan air irigasi selama musim kemarau. 

Indeks El Nino Southern Oscillation (ENSO) saat ini juga netral, namun terdapat perubahan proyeksi memasuki semester kedua.

Dalam imbauannya, Kepala Stasiun Klimatologi DIY, Reni Kraningtyas, meminta pemerintah daerah, institusi terkait, dan seluruh masyarakat untuk bersiap menghadapi potensi kekeringan.

Potensi kekeringan ekstrem perlu diwaspadai menjelang hingga sesudah puncak musim kemarau, tepatnya pada periode Juli–September 2026.

"Mewaspadai prediksi curah hujan selama musim kemarau 2026 di Bawah Normal (BN), yang artinya kondisi musim kemarau diprakirakan lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologisnya. Tindakan antisipasi diperlukan terhadap kondisi iklim ekstrem saat musim kemarau dengan mempersiapkan pola tanam yang sesuai agar tidak mengalami gagal panen dan wilayah-wilayah yang rentan terhadap kekeringan meteorologis untuk mengambil langkah antisipasif melalui pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien," ujarnya.

"Lebih siap dan antisipatif terhadap dampak musim kemarau yang bersamaan dengan fenomena El Nino intensitas lemah hingga moderat yang diprediksi mulai terjadi pada bulan Juli hingga akhir tahun 2026 dengan peluang 50-60 persen," tambahnya.

Baca juga: Siap-siap! Cuaca DIY 3-5 April 2026 Bakal Diguyur Hujan, Simak Penjelasan Lengkap BMKG

Mitigasi Masa Pancaroba

Sebelum memasuki puncak kemarau, BMKG juga menyoroti pentingnya mitigasi bencana hidrometeorologi selama masa transisi atau pancaroba.

Masyarakat diminta untuk tidak lengah terhadap anomali cuaca harian yang bisa merusak infrastruktur.

"Meningkatkan kewaspadaan pada masa akhir musim hujan yang ditandai dengan perubahan cuaca yang cepat, seperti hujan lebat disertai angin kencang dan petir. Melakukan langkah mitigasi antara lain membersihkan saluran air, memangkas dahan pohon yang berisiko tumbang, serta memastikan struktur bangunan dan baliho dalam kondisi kuat guna mengurangi potensi dampak cuaca ekstrem selama masa pancaroba," ujarnya.

Merespon hal tersebut, Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY mulai memperkuat koordinasi lintas sektor guna mengantisipasi potensi dampak kemarau ekstrem dan fenomena El Nino 2026.

Langkah ini diambil menyusul rilis prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memproyeksikan kondisi cuaca di Pulau Jawa, khususnya DIY dan Jawa Tengah, akan lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY, Aris Eko Nugroho, mengungkapkan bahwa langkah mitigasi telah disusun melalui koordinasi intensif bersama pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang digelar beberapa waktu lalu.

Hal ini merupakan tindak lanjut dari arahan Menteri Pertanian serta jajaran Direktorat Jenderal Tanaman Pangan untuk memitigasi risiko gagal panen akibat kekeringan.

"Prediksi musim kemarau 2026 oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika maka dalam rangka mengantisipasi potensi dampak kekeringan (elnino) terhadap Pulau Jawa khususnya Jawa Tengah dan DIY diadakan koordinasi antisipasi potensi kekeringan di Jateng dan DIY. Dan adanya surat menteri dan ditindaklanjuti Dirjen TP untuk antisipasi," ujar Aris.

Pertemuan tersebut difokuskan pada penguatan sinergi dan sinkronisasi lintas sektor dalam pengelolaan sumber daya air.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved