Ancaman Kekeringan di DIY, DPKP Siapkan Satgas hingga Mapping Lahan Rawan

BMKG Stasiun Klimatologi Kelas IV DIY memprediksi awal musim kemarau tahun 2026 di wilayah DIY akan dimulai pada akhir April.

Tayang:
Penulis: Hanif Suryo | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUN JOGJA/Alexander Ermando
Petani beraktivitas di lahan sawah wilayah Kalurahan Karangwuni, Kapanewon Wates, belum lama ini. DPP Kulon Progo mengupayakan ketersediaan air irigasi selama musim kemarau. 

Ringkasan Berita:
  • BMKG memprediksi awal kemarau di DIY dimulai akhir April 2026 dan mencapai puncaknya pada Agustus. Musim ini bersifat "Bawah Normal" atau lebih kering dari biasanya.
  • Masyarakat diminta waspada terhadap kekeringan ekstrem pada periode Juli–September.
  • DPKP DIY memperkuat koordinasi lintas sektor melalui enam langkah strategis, termasuk pemetaan area rawan, rehabilitasi infrastruktur irigasi, dan pembentukan satgas khusus guna mencegah risiko gagal panen akibat kemarau panjang.

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kelas IV Daerah Istimewa Yogyakarta memprediksi awal musim kemarau tahun 2026 di wilayah DIY akan dimulai pada akhir April.

Musim kemarau tahun ini diprakirakan memiliki curah hujan di bawah normal atau lebih kering dari biasanya, yang diperparah dengan potensi munculnya fenomena El Nino pada paruh kedua tahun ini.

Kepala BMKG Stasiun Klimatologi D.I. Yogyakarta, Reni Kraningtyas, dalam keterangan resminya, memaparkan bahwa awal kemarau akan masuk secara bertahap.

Sebanyak 5 Zona Musim (ZOM) atau 62,5 persen wilayah diprediksi memasuki musim kemarau pada dasarian III April 2026. 

Sementara 3 ZOM (37,5 persen) lainnya menyusul pada dasarian I Mei 2026.

Secara sifat hujan, musim kemarau 2026 diprediksi masuk kategori Bawah Normal (BN) yang melanda 7 ZOM (87,5 persen), dan hanya 1 ZOM (12,5 persen) yang masuk kategori Normal (N).

Puncak musim kemarau diprakirakan terjadi serempak pada bulan Agustus 2026 di seluruh wilayah atau 8 ZOM (100 persen).

"Jumlah curah hujan musim kemarau 2026 diprediksi antara 250 hingga 400 milimeter," catat rilis resmi BMKG Stasiun Klimatologi DIY. 

Durasi kemarau di DIY bervariasi, didominasi oleh rentang 19–21 dasarian yang mencakup 7 ZOM (87,5 persen), sementara 1 ZOM (12,5 persen) akan mengalami kemarau selama 16–18 dasarian.

Musim kering ini diprediksi baru akan berakhir pada dasarian II Oktober hingga dasarian I November 2026.

Prediksi iklim ini didasarkan pada dinamika atmosfer-laut terkini.

BMKG mencatat angin di wilayah Indonesia bagian selatan ekuator mulai bertiup dari timur, mengindikasikan aktifnya Monsun Australia.

Analisis anomali suhu muka air laut di perairan selatan DIY saat ini berada pada rentang -2.0°C hingga 0.5°C (kategori dingin–netral), dengan suhu berkisar antara 28°C hingga 29°C.

Indikator lain seperti Dipole Mode Indeks (DMI) berada dalam kategori netral hingga pertengahan 2026, dan fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) diprediksi tidak aktif.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved