Malioboro Steril dari Asongan dan Pengamen Liar saat Libur Lebaran, Ini Langkah Pemkot Yogyakarta

Salah satu fokus yang akan dilakukan Pemkot Yogyakarta adalah sterilisasi Malioboro dari aktivitas pedagang asongan dan pengamen liar.

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Muhammad Fatoni
pinterest.com
Jalan Malioboro Yogyakarta 

​Selain pedagang asongan, Pemkot Yogyakarta juga mendapati laporan mengenai munculnya aktivitas pengamen liar di sepanjang trotoar Malioboro.

​Wawan menyatakan, sosialisasi akan terus digencarkan supaya para seniman jalanan tetap bisa tampil namun di lokasi yang sudah ditentukan Dinas Kebudayaan.

Pihaknya pun tidak segan mengambil tindakan jika aturan tersebut terus dilanggar demi menjaga estetika dan kenyamanan kawasan ikonik tersebut.

​"Jangan sampai yang sudah ditata dengan baik malah jadi rancu karena muncul lagi pengamen-pengamen liar. Mereka tetap bisa tampil, tapi di titik-titik yang sudah ditentukan," pungkasnya. 

FUL PEDESTRIAN: Wisatawan menikmati atmosfer skema full pedestrian yang diterapkan di kawasan Malioboro sepanjang malam tahun baru, Rabu (31/12/25).
FUL PEDESTRIAN: Wisatawan menikmati atmosfer skema full pedestrian yang diterapkan di kawasan Malioboro sepanjang malam tahun baru, Rabu (31/12/25). (Tribun Jogja/Azka Ramadhan)

Kucing-kucingan

Upaya penertiban pedagang asongan liar di kawasan Malioboro memang bukan perkara mudah.

Meski Pemkot Yogyakarta melalui Satpol PP kerap menggelar upaya penertiban, namun sejumlah pedagang asongan tetap kembali muncul. 

Satu di antaranya yang beberapa waktu lalu sempat viral yakni kemunculan pedagang sate liar keliling. 

Sekretaris Satpol PP Kota Yogyakarta, Herry Eko Prasetyo, mengakui masih banyaknya pedagang sate yang kucing-kucingan dengan petugas tersebut.

Para pedagang itu tetap nekat berjualan meski sebelumnya sudah berulang kali terjaring razia.

Mereka akan kembali berjualan saat petugas tidak ada.

"Kami terus melakukan penertiban, karena itu kan daerah larangan untuk PKL berjualan di situ, termasuk penjual sate," katanya, beberapa waktu lalu.

Menurut Herry, untuk membersihkan Malioboro dari aktifitas para pedagang sate memang cukup sulit.

Namun demikian, pihaknya akan tetap melakukan penegakan aturan dengan melaksanakan razia secara rutin.

Malioboro menjadi sasaran prioritas Satpol PP karena memang merupakan jantung dari sumbu filosofi.

"Ya selalu kucing-kucingan, karena Satpol PP tidak menetap terus di Malioboro. Teman-teman juga harus melakukan penegakan Perda di lokasi yang lain," tandasnya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved