"Cendol manis ini kami mengundang pendongeng. Jadi di Sleman ini ada beberapa pendongeng juga yang peduli pada pembinaan karakter pendidikan di SD dan SMP. Sehingga harapan kami dengan pengundang pendongeng ini terkait dengan peningkatan wawasan kebangsaan, budi pekerti ini bisa masuk pada anak-anak melalui dongeng," kata Shavitri.
Lebih lanjut, Mantan Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Sleman ini juga menginginkan agar ada transformasi arsip daerah menjadi semacam Diorama Sleman yang interaktif sebagai sarana edukasi sejarah bagi masyarakat.
Ia berkomitmen menjadikan perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan buku, melainkan sebagai pusat inovasi yang mampu mengakomodir setiap kegiatan literasi. Simbol semangat ini disimbolkan melalui peluncuran logo baru yang menandai tekad Sleman untuk bangkit dan unggul dalam pembangunan literasi nasional.
"Logo ini memaksa kami untuk lebih naik literasi di Sleman. Meskipun indeks pembangunan literasinya turun tapi kami bertekad bahwa kabupaten Sleman 2030 adalah pionir literasi masa depan," harapnya.(*)