Indeks Pembangunan Literasi di Sleman Merosot

Tahun 2025 ini, tingkat kegemaran membaca Kabupaten Sleman menempati urutan ketiga, kalah dari Kulon Progo dan Bantul. 

Tayang:
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Yoseph Hary W
Tribun Jogja/Ahmad Syarifudin
LITERASI: Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman Shavitri Nurmala Dewi (tengah) menunjukkan logo sebagai pijakan agar 2030 Sleman bisa menjadi pioner literasi masa depan. 

"Cendol manis ini kami mengundang pendongeng. Jadi di Sleman ini ada beberapa pendongeng juga yang peduli pada pembinaan karakter pendidikan di SD dan SMP. Sehingga harapan kami dengan pengundang pendongeng ini terkait dengan peningkatan wawasan kebangsaan, budi pekerti ini bisa masuk pada anak-anak melalui dongeng," kata Shavitri. 

Lebih lanjut, Mantan Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Sleman ini juga menginginkan agar ada transformasi arsip daerah menjadi semacam Diorama Sleman yang interaktif sebagai sarana edukasi sejarah bagi masyarakat.

Ia berkomitmen menjadikan perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan buku, melainkan sebagai pusat inovasi yang mampu mengakomodir setiap kegiatan literasi. Simbol semangat ini disimbolkan melalui peluncuran logo baru yang menandai tekad Sleman untuk bangkit dan unggul dalam pembangunan literasi nasional.

"Logo ini memaksa kami untuk lebih naik literasi di Sleman. Meskipun indeks pembangunan literasinya turun tapi kami bertekad bahwa kabupaten Sleman 2030 adalah pionir literasi masa depan," harapnya.(*)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved