Indeks Pembangunan Literasi di Sleman Merosot

Tahun 2025 ini, tingkat kegemaran membaca Kabupaten Sleman menempati urutan ketiga, kalah dari Kulon Progo dan Bantul. 

Tayang:
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Yoseph Hary W
Tribun Jogja/Ahmad Syarifudin
LITERASI: Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman Shavitri Nurmala Dewi (tengah) menunjukkan logo sebagai pijakan agar 2030 Sleman bisa menjadi pioner literasi masa depan. 

Ringkasan Berita:
  • Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Sleman tahun 2025 turun drastis dari 76,97 menjadi 11,14, sejalan dengan merosotnya tingkat kegemaran membaca.
  • Penurunan minat baca dipengaruhi oleh tingginya penggunaan internet, sehingga anak-anak lebih memilih sumber digital dibanding buku konvensional.
  • Dinas Perpustakaan Sleman menyiapkan strategi penguatan literasi, termasuk digitalisasi arsip, program e-Library, 35 taman bacaan masyarakat, serta pojok baca dan kegiatan dongeng.
 

 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Kabupaten Sleman yang wilayahnya menjadi tempat berdirinya puluhan perguruan tinggi, tengah menghadapi tantangan serius dalam pembangunan literasi

Berdasarkan data statistik tahun 2025, nilai Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Kabupaten Sleman menurun. Sleman hanya memeroleh nilai 11,14 yang menjadikannya berada di urutan keempat dibanding Kabupaten/Kota di DIY.

Angka tersebut juga menurun drastis dibanding tahun sebelumnya, 76,97. 

Tren penurunan ini juga sejalan dengan merosotnya tingkat kegemaran membaca (TGM) yang terjadi di seluruh wilayah DIY. Hampir semua Kabupaten/Kota di DIY tingkat kegemaran membacanya turun di angka 50 dari sebelumnya 75-80.

TGM Sleman kalah dari Kulon Progo dan Bantul

Tingkat kegemaran membaca di Kabupaten Sleman tahun 2025 hanya mencapai 55,07 atau merosot satu tingkat dari tahun sebelumnya peringkat kedua di DIY dengan nilai 82,81.

Tahun 2025 ini, tingkat kegemaran membaca Kabupaten Sleman menempati urutan ketiga, kalah dari Kulon Progo dan Bantul. 

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Kabupaten Sleman, Shavitri Nurmala Dewi mengaku tidak mau mencari kambing hitam terkait penurunan tingkat kegemaran membaca di Sleman ini.

Pengaruh internet

Namun, menurut dia, suka atau tidak, penurunan terjadi karena keaktifan dan penggunaan internet yang cukup tinggi. Hal ini membuat kecenderungan anak-anak untuk membaca buku secara konvensional atau fisik menurun. 

"Kalau didalam survei, memang ada pilihan. Membaca buku dari buku konvensional atau dari internet, e-book gitu ya. Tapi mungkin ini menjadi perhatian bagi pendidik dan kita semua, bagaimana anak-anak kita itu mencari sumber referensinya dari internet. Jika dulu, kita mengetahui sesuatu dengan mencari dari buku, tapi anak sekarang menggunakan chat-gpt ataupun gemini,"kata Shavitri, Kamis (5/3/2026). 

Ia mengungkapkan bahwa penurunan ini menjadi perhatian dirinya bersama pegawai di Dinas Perpustakaan dan Arsip untuk segara mengambil langkah. Meskipun, target literasi masyarakat Sleman di tahun 2025 ternyata menunjukkan tren positif bahkan berhasil melampaui target dari 54,04 menjadi 67,18.

Hal ini menunjukkan kesadaran literasi masyarakat meningkat, namun infrastruktur dan sistem pendukung pembangunan literasi perlu kembali diperkuat. 

Shavitri mengatakan, ada beberapa stategi yang disiapkan. Antara lain dengan penguatan kegiatan literasi melalui penguatan perpustakaan desa dan digitalisasi kearsipan menyeluruh. Ia menargetkan di 2030, kearsipan seluruh perangkat daerah di kabupaten Sleman dan institusi pendidikan sudah terdigitalisasi. Dinas juga mengoptimalkan program Sleman baca melalui program Digital Literacy Corner (DLC) yang memberikan layanan perpustakaan atau e-Library. 

35 Taman Bacaan Masyarakat 

Kemudian, literasi berbasis komunitas yang kini telah ada 35 Taman Bacaan Masyarakat di Sleman. Menurut Shavitri, pihaknya juga telah mengajukan penambahan armada untuk menjalankan program Jaka Tingkir atau Jelajah Perpustakaan Menuju Literasi yang Terkini dan Responsif. Armada dibutuhkan untuk memenuhi tingginya permintaan dari ratusan sekolah di Sleman yang kini belum terlayani secara maksimal. 

Inovasi di ruang publik dan layanan edukatif juga terus digencarkan, dengan pemanfaatan kafe salam literasi dan pojok baca di lingkungan kantor Dinas Perpustakaan dan Arsip Sleman. Harapannya dapat menarik kembali minat generasi muda melalui kegiatan komunitas yang lebih inklusif. Kemudian program Jumat ceria dan Cerita Dongeng Literasi atau Cendol Manis. 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved